Tradisi tersebut tidak berlangsung dalam satu hari. Ada sejumlah tahapan yang dipersiapkan masyarakat sejak bulan Syafar hingga puncak perayaan pada 28 Rabiul Awal.
“Prosesnya, karena maulid ini maulid Cikoang itu ada proses, ada tahapan-tahapan yang dilaksanakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Cikoang dan pengikut Jalaluddin yang ada di luar daerah Cikoang. Jadi, kita prosesinya itu dimulai dari bulan Syafar,” sebutnya.
Tahapan Maudu Lompoa
1. Mandi Syafar dan Persiapan
Andi Alwi menjelaskan, tahapan awal dimulai pada 10 Syafar. Masyarakat melakukan mandi-mandi Syafar yang dimaknai sebagai proses mencuci dan mengganti diri. Setelah itu, warga mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk pelaksanaan Maudu.
“Di 10 bulan Syafar itu masyarakat Cikoang mulai memulai tahapan maulid. Mulai dari proses mandi-mandi Syafar, itu dalam artian proses mencuci ganti diri. Setelah masuk di bulan Syafar itu mulai mereka mempersiapkan bahan-bahan untuk kebutuhan maulid,” ujarnya.
Salah satu persiapan utama adalah ayam maulid yang akan menjadi bagian dari hidangan tradisi.
“Salah saru yang paling utama adalah Ayam maulid. Itu sudah mulai dikurung, dibersihkan,” katanya.
Persiapan kemudian berlanjut pada bakul dan berbagai perangkat lainnya.
“Setelah mandi-mandi itu mulai artinya tahapan awal, persiapan perangkat-perangkat yang dibutuhkan untuk merayakan maulid, jadi proses pengurungan ayam untuk menyucikan ayam itu, kemudian persiapan-persiapan untuk bakul dan seluruh kelengkapan, kelengkapan-kelengkapan maulid itu sudah mulai dipersiapkan,” jelasnya.
2. Mengisi Bakul (Ammone’ Baku)
Menurut kajian jurnal UIN tersebut, salah satu tahap persiapan sekaligus pelaksanaan adalah Ammone’ Baku atau mengisi bakul.
Bakul diisi oleh perempuan yang berada dalam keadaan suci, yakni tidak sedang haid dan telah berwudhu. Isinya antara lain nasi setengah masak, ayam yang telah digoreng dan dibungkus daun pisang, kerupuk rengginang, serta kue waje.
Setelah diisi, bakul dihiasi dengan pa’belo-belo atau hiasan berupa bunga-bunga kertas yang dibentuk menyerupai orang. Hiasan tersebut juga menjadi salah satu penanda kemampuan pemiliknya.
3. Menghias Bakul dan Julung-julung
Tahap berikutnya adalah menghias bakul, kandawari atau tempat menyimpan bakul, serta julung-julung yang digunakan untuk membawa seluruh perlengkapan maulid.
Julung-julung dihiasi dengan kain atau layar beraneka warna yang digantung pada bagian tiangnya.

