SulawesiPos.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memilih menggunakan konstruksi beton untuk perbaikan Jalan Aroepala, Kota Makassar. Keputusan tersebut berbeda dengan penanganan Jalan Hertasning yang hanya menggunakan lapisan aspal karena kondisi kedua ruas jalan memiliki karakteristik berbeda.
Pemprov Sulsel menyebut Jalan Aroepala membutuhkan rekonstruksi dengan konstruksi rigid pavement lantaran kawasan tersebut kerap mengalami genangan banjir.
Kondisi itu membuat lapisan aspal sebelumnya lebih cepat mengalami kerusakan sehingga membutuhkan biaya pemeliharaan berulang.
Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulawesi Selatan, Andi Ihsan, mengatakan penggunaan beton dipilih sebagai solusi agar usia layanan jalan lebih panjang.
“Sudah beberapa kali kami aspal, tetapi selalu rusak sehingga biaya pemeliharaannya menjadi tinggi. Untuk itu kami memilih rigid beton agar lebih awet,” ujar Andi Ihsan, Sabtu (1/8/2026).
Aroepala Dibangun dengan Beton Setebal 40 Sentimeter
Perbaikan Jalan Aroepala dilakukan melalui program Multi Years Project (MYP) Pemprov Sulsel dengan peningkatan konstruksi menggunakan beton bertulang.
Struktur jalan tersebut memiliki ketebalan total 40 sentimeter yang terdiri atas lapisan beton dasar (lean concrete) setebal 10 sentimeter dan lapisan beton utama (concrete pavement) setebal 30 sentimeter.
Konstruksi tersebut disesuaikan dengan spesifikasi teknis Direktorat Jenderal Bina Marga. Selain lebih tahan terhadap genangan air, penggunaan rigid beton juga dinilai mampu menekan kebutuhan biaya pemeliharaan dalam jangka panjang.
Menurut Pemprov Sulsel, keputusan tersebut juga mempertimbangkan efisiensi anggaran pembangunan yang bersumber dari uang masyarakat.
Jalan Tidak Langsung Dibuka Usai Pengecoran
Pemprov Sulsel tidak langsung membuka Jalan Aroepala setelah proses pengecoran selesai karena konstruksi beton membutuhkan waktu untuk mencapai kekuatan maksimal.
Beton membutuhkan masa pematangan minimal 28 hari sebelum dapat dilalui kendaraan. Bahkan, masa tersebut dapat diperpanjang hingga 35 hari untuk memastikan kualitas dan daya tahan jalan.
Saat Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman melakukan peninjauan lokasi, usia beton di ruas tersebut telah mencapai 28 hari sehingga jalan dinilai sudah memenuhi standar untuk digunakan masyarakat.
Selain peningkatan badan jalan, Pemprov Sulsel juga menyiapkan pembangunan fasilitas pendukung berupa trotoar dengan lebar sekitar 2,5 meter.
Sementara untuk mengatasi persoalan genangan, sistem drainase akan dibangun menggunakan saluran berdiameter sekitar 1,2 meter yang disesuaikan dengan elevasi kawasan agar aliran air dapat diarahkan menuju kanal utama.
Hertasning Cukup Dilapisi Aspal
Berbeda dengan Jalan Aroepala, penanganan Jalan Hertasning dilakukan dengan metode pelapisan ulang aspal atau overlay.
Kepala Bidang Jalan Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulsel, Muhammad Rosyadi, menjelaskan kondisi perkerasan lama Jalan Hertasning masih cukup baik sehingga belum membutuhkan rekonstruksi total.
“Ruas Hertasning diaspal karena kondisi perkerasan lama masih baik,” ujar Rosyadi.
Penentuan metode penanganan tersebut berdasarkan hasil evaluasi menggunakan indikator International Roughness Index (IRI).
Berdasarkan kajian itu, Jalan Hertasning hanya membutuhkan pelapisan satu lapis aspal, sementara Jalan Aroepala memiliki nilai IRI di atas angka 12 sehingga membutuhkan rekonstruksi menyeluruh.
Rosyadi memastikan seluruh pekerjaan dalam program MYP berjalan sesuai jadwal. Saat ini, masing-masing satu lajur Jalan Aroepala sudah dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Pemprov Sulsel berharap masyarakat memahami perbedaan metode penanganan setiap ruas jalan.
Seluruh keputusan pembangunan dilakukan berdasarkan kajian teknis, karakteristik wilayah, serta upaya menghadirkan infrastruktur yang lebih tahan lama dan efisien.

