Peran Karantina Sulsel Kian Diperkuat, Ekspor Tembus 63 Negara

SulawesiPos.com – Peran karantina di Sulawesi Selatan terus diperkuat sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional, seiring meningkatnya arus perdagangan komoditas ekspor dan domestik dari wilayah tersebut.

Data dari Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan menunjukkan, sepanjang 2025 komoditas asal Sulsel telah menembus pasar global hingga 63 negara.

Total volume ekspor tercatat mencapai 355.431 ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp11,1 triliun.

Kepala Balai Besar Karantina Sulsel, Sitti Chadidjah, menyebut capaian tersebut menjadi indikator kuatnya peran karantina dalam memastikan kualitas dan keamanan komoditas sebelum masuk pasar internasional.

Sektor perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor sekitar Rp5,6 triliun, didominasi komoditas seperti udang vannamei, tuna, kerapu, gurita, hingga karagenan.

Sementara dari sektor pertanian, komoditas seperti rumput laut, kelapa bulat, kakao, kacang mede, dan porang mencatat nilai sekitar Rp5,5 triliun.

Selain itu, terdapat pula komoditas hewan seperti awetan kupu-kupu, kulit reptil, sarang burung walet, dan madu dengan nilai ekonomi sekitar Rp979 juta.

BACA JUGA: 
Dua Ton Telur Ikan Terbang Asal Takalar Tembus Pasar Tiongkok

“Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara antara lain China, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Vietnam, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa seperti Belanda dan Prancis,” kata Sitti Chadidjah dikutip Sabttu (25/4/2026).

Tak hanya ekspor, pergerakan komoditas dalam negeri juga cukup tinggi.

Lalu lintas domestik keluar tercatat mencapai 439,55 juta kilogram dengan nilai Rp5,12 triliun, sementara domestik masuk sebesar 115,39 juta kilogram dengan nilai Rp1,39 triliun.

Adapun impor mencapai 264,35 juta kilogram dengan nilai sekitar Rp1,10 triliun.

Penguatan sistem karantina juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat.

Hal ini terlihat dari kunjungan anggota Komisi IV DPR RI ke fasilitas karantina di Makassar, yang diikuti dengan komitmen bersama untuk memperkuat sistem perkarantinaan nasional.

“Penguatan kelembagaan meliputi transformasi layanan digital, modernisasi laboratorium hingga peningkatan SDM diharapkan dapat semakin memperkuat peran karantina dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” ujar Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi kunci dalam memperkuat pengawasan lalu lintas komoditas di pintu masuk dan keluar, khususnya di kawasan timur Indonesia yang memiliki potensi besar sekaligus tantangan kompleks.

BACA JUGA: 
Bupati Takalar Bidik Investor China, Fokus Olahan Laut, Pertanian Modern, hingga Energi Terbarukan

SulawesiPos.com – Peran karantina di Sulawesi Selatan terus diperkuat sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional, seiring meningkatnya arus perdagangan komoditas ekspor dan domestik dari wilayah tersebut.

Data dari Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan menunjukkan, sepanjang 2025 komoditas asal Sulsel telah menembus pasar global hingga 63 negara.

Total volume ekspor tercatat mencapai 355.431 ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp11,1 triliun.

Kepala Balai Besar Karantina Sulsel, Sitti Chadidjah, menyebut capaian tersebut menjadi indikator kuatnya peran karantina dalam memastikan kualitas dan keamanan komoditas sebelum masuk pasar internasional.

Sektor perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor sekitar Rp5,6 triliun, didominasi komoditas seperti udang vannamei, tuna, kerapu, gurita, hingga karagenan.

Sementara dari sektor pertanian, komoditas seperti rumput laut, kelapa bulat, kakao, kacang mede, dan porang mencatat nilai sekitar Rp5,5 triliun.

Selain itu, terdapat pula komoditas hewan seperti awetan kupu-kupu, kulit reptil, sarang burung walet, dan madu dengan nilai ekonomi sekitar Rp979 juta.

BACA JUGA: 
Seskab Teddy: Indonesia Ekspor Urea ke Australia, Presiden Prabowo Terima Apresiasi PM Albanese

“Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara antara lain China, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Vietnam, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa seperti Belanda dan Prancis,” kata Sitti Chadidjah dikutip Sabttu (25/4/2026).

Tak hanya ekspor, pergerakan komoditas dalam negeri juga cukup tinggi.

Lalu lintas domestik keluar tercatat mencapai 439,55 juta kilogram dengan nilai Rp5,12 triliun, sementara domestik masuk sebesar 115,39 juta kilogram dengan nilai Rp1,39 triliun.

Adapun impor mencapai 264,35 juta kilogram dengan nilai sekitar Rp1,10 triliun.

Penguatan sistem karantina juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat.

Hal ini terlihat dari kunjungan anggota Komisi IV DPR RI ke fasilitas karantina di Makassar, yang diikuti dengan komitmen bersama untuk memperkuat sistem perkarantinaan nasional.

“Penguatan kelembagaan meliputi transformasi layanan digital, modernisasi laboratorium hingga peningkatan SDM diharapkan dapat semakin memperkuat peran karantina dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” ujar Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi kunci dalam memperkuat pengawasan lalu lintas komoditas di pintu masuk dan keluar, khususnya di kawasan timur Indonesia yang memiliki potensi besar sekaligus tantangan kompleks.

BACA JUGA: 
Lonjakan 66 Persen Ekspor Iran ke Afrika: Manuver Ekonomi Kontra-Hegemoni Menuju Blok Perdagangan Baru Global South

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru