Kontroversi Kartu Merah di Semifinal Piala Gubernur, Keputusan Wasit Rais Rugikan Bone

SulawesiPos.com – Laga semifinal Piala Gubernur Sulawesi Selatan 2026 antara Bone Beramal FC dan Jeneponto FC tidak hanya diwarnai ketegangan di atas lapangan. Keputusan wasit Rais dalam sebuah insiden yang melibatkan pemain kedua tim turut menjadi sorotan.

Insiden tersebut terjadi saat kapten Jeneponto FC melakukan pelanggaran terhadap salah seorang pemain muda Bone Beramal FC di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Minggu (20/9/2026).

Wasit kemudian melakukan pengecekan Video Assistant Referee (VAR) untuk meninjau insiden tersebut. Setelah melihat tayangan ulang, wasit memutuskan memberikan kartu merah kepada pemain Jeneponto FC yang melakukan pelanggaran.

Namun, drama belum berhenti. Wasit kembali melakukan pengecekan VAR.

Dalam proses tersebut, pemain Bone yang sebelumnya menjadi korban pelanggaran kemudian dipanggil untuk menyaksikan tayangan ulang insiden bersama wasit.

Keputusan berikutnya cukup mengejutkan. Pemain Bone tersebut juga akhirnya diganjar kartu merah.

Keputusan itu kemudian menjadi perbincangan, terutama karena dalam tayangan yang menjadi sorotan tersebut, pemain Bone disebut tidak melakukan reaksi balasan setelah menerima pelanggaran.

BACA JUGA:  Ada Sekolah Hanya Terima 25 Murid, Disdik Bone Serukan Pemerataan Pendidikan

Pemberian kartu merah tersebut berdampak langsung terhadap komposisi Bone Beramal FC. Pemain muda yang disebut menjadi salah satu andalan tim dipastikan tidak dapat memperkuat Laskar Arung Palakka pada pertandingan berikutnya.

Kontroversi keputusan tersebut pun ramai diperbincangkan publik. Sejumlah pihak mempertanyakan dasar pemberian kartu merah kepada pemain Bone dalam insiden tersebut, meski keputusan akhir berada pada kewenangan perangkat pertandingan.

“Tentu ini merugikan kami, karena di laga final nanti kekuatan kami berkurang,” kata manajer tim BerAmal FC, Edy Saputra Syam.

Terlepas dari kontroversi tersebut, Bone Beramal FC akhirnya berhasil mengamankan tiket ke final setelah menyingkirkan Jeneponto FC melalui drama adu penalti.

Pertandingan berakhir 2-2 pada waktu normal. Dua gol Bone masing-masing dicetak Safar dan Fahri.

Dalam adu penalti, penjaga gawang Bone Beramal FC, Muh. Nasrullah alias Ucok, tampil gemilang dengan menggagalkan dua tendangan pemain Jeneponto. Empat eksekutor Bone, yakni Vebry, Rifaldi, Romario dan Fahri, sukses menjalankan tugasnya.

BACA JUGA:  Marak Kecelakaan dan Cuaca Buruk, Bupati Bone Perintahkan Disdik Terbitkan Edaran Tunda Study Tour

Bone Beramal FC pun melaju ke partai final untuk menghadapi Sidrap FC.

Namun, kemenangan tersebut menyisakan pekerjaan rumah bagi Bone. Absennya pemain akibat kartu merah menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan menjelang pertandingan puncak. (kar)

SulawesiPos.com – Laga semifinal Piala Gubernur Sulawesi Selatan 2026 antara Bone Beramal FC dan Jeneponto FC tidak hanya diwarnai ketegangan di atas lapangan. Keputusan wasit Rais dalam sebuah insiden yang melibatkan pemain kedua tim turut menjadi sorotan.

Insiden tersebut terjadi saat kapten Jeneponto FC melakukan pelanggaran terhadap salah seorang pemain muda Bone Beramal FC di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Minggu (20/9/2026).

Wasit kemudian melakukan pengecekan Video Assistant Referee (VAR) untuk meninjau insiden tersebut. Setelah melihat tayangan ulang, wasit memutuskan memberikan kartu merah kepada pemain Jeneponto FC yang melakukan pelanggaran.

Namun, drama belum berhenti. Wasit kembali melakukan pengecekan VAR.

Dalam proses tersebut, pemain Bone yang sebelumnya menjadi korban pelanggaran kemudian dipanggil untuk menyaksikan tayangan ulang insiden bersama wasit.

Keputusan berikutnya cukup mengejutkan. Pemain Bone tersebut juga akhirnya diganjar kartu merah.

Keputusan itu kemudian menjadi perbincangan, terutama karena dalam tayangan yang menjadi sorotan tersebut, pemain Bone disebut tidak melakukan reaksi balasan setelah menerima pelanggaran.

BACA JUGA:  Laos Vs Filipina 1-4 di ASEAN Championship 2026: Tuan Rumah Sempat Unggul, The Azkals Menggila usai Kartu Merah

Pemberian kartu merah tersebut berdampak langsung terhadap komposisi Bone Beramal FC. Pemain muda yang disebut menjadi salah satu andalan tim dipastikan tidak dapat memperkuat Laskar Arung Palakka pada pertandingan berikutnya.

Kontroversi keputusan tersebut pun ramai diperbincangkan publik. Sejumlah pihak mempertanyakan dasar pemberian kartu merah kepada pemain Bone dalam insiden tersebut, meski keputusan akhir berada pada kewenangan perangkat pertandingan.

“Tentu ini merugikan kami, karena di laga final nanti kekuatan kami berkurang,” kata manajer tim BerAmal FC, Edy Saputra Syam.

Terlepas dari kontroversi tersebut, Bone Beramal FC akhirnya berhasil mengamankan tiket ke final setelah menyingkirkan Jeneponto FC melalui drama adu penalti.

Pertandingan berakhir 2-2 pada waktu normal. Dua gol Bone masing-masing dicetak Safar dan Fahri.

Dalam adu penalti, penjaga gawang Bone Beramal FC, Muh. Nasrullah alias Ucok, tampil gemilang dengan menggagalkan dua tendangan pemain Jeneponto. Empat eksekutor Bone, yakni Vebry, Rifaldi, Romario dan Fahri, sukses menjalankan tugasnya.

BACA JUGA:  BKPSDM Bone Usulkan 138 Formasi CPNS 2026, Prioritaskan Guru, Nakes, dan Tenaga Teknis

Bone Beramal FC pun melaju ke partai final untuk menghadapi Sidrap FC.

Namun, kemenangan tersebut menyisakan pekerjaan rumah bagi Bone. Absennya pemain akibat kartu merah menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan menjelang pertandingan puncak. (kar)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru