“Kami ingin menunjukkan kepada dunia, khususnya manajemen AC Milan, bahwa Indonesia memiliki basis pendukung yang tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga memiliki kultur suporter yang hidup, kreatif, dan militan. Kami ingin membuat atmosfer GBK terasa seperti bermain di San Siro.”
Persiapan tifo tersebut melibatkan anggota Milanisti dari berbagai daerah yang bergotong royong menyiapkan koreografi dengan waktu, tenaga, dan biaya hingga ratusan juta rupiah.
“Teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia sangat antusias berkumpul dan gotong royong. Proses pembuatan tifo raksasa ini memakan waktu, tenaga, serta biaya yang tidak sedikit. Namun, semua pengorbanan itu terbayar lunas saat melihat bendera tersebut berhasil berkibar sempurna di tribun.”
Chelsea Menang, Dukungan Milanisti Tetap Jadi Cerita Besar
Di tengah kemeriahan tribun, AC Milan justru harus mengakhiri laga dengan hasil mengecewakan.
Chelsea menang 3-0 lewat gol Joao Pedro pada menit 45+2 dan 46, lalu Moises Caicedo menambah gol ketiga pada menit ke-50.
Hasil itu membuat AC Milan gagal memberi kemenangan kepada para pendukungnya di Jakarta.
Namun, dukungan Milanisti justru tetap menjadi salah satu cerita terbesar dari pertandingan tersebut karena atmosfer tribun bertahan sebagai pusat perhatian sepanjang laga.
Totalitas suporter di SUGBK juga mendapat apresiasi langsung dari AC Milan.
Melalui akun media sosial resminya, klub asal Italia itu menulis, “Milanisti Indonesia, kamu benar-benar luar biasa 😍.”
Pada akhirnya, Bentornato Amore menjadi lebih dari sekadar pertunjukan visual.
Tifo itu merangkum penantian panjang, gotong royong, kreativitas, dan kecintaan Milanisti Indonesia kepada AC Milan, bahkan ketika malam di GBK ditutup dengan kemenangan Chelsea.

