China Bantah Keras Tuduhan Kirim 400 Rudal ke Iran, Klaim “Jembatan Udara Rahasia” Dipatahkan Satu per Satu

Reuters mengutip tiga sumber anonim yang mengklaim pengiriman pertama dapat berlangsung dalam beberapa pekan.

Laporan itu menyebut paket persenjataan tersebut kemungkinan mencakup rudal QW-12 dan FN-16, yakni sistem rudal permukaan-ke-udara berpemandu inframerah yang dapat dipanggul oleh personel.

Sistem tersebut dirancang untuk menghadapi ancaman pesawat terbang rendah, helikopter, dan pesawat nirawak.

Reuters juga mengklaim perusahaan Zhongqing Baoshang International Investment yang berbasis di Hong Kong berperan sebagai perantara transaksi antara pemasok China dan Iran.

Menurut laporan tersebut, pengiriman awal direncanakan berangkat dari Urumqi, wilayah Xinjiang, kemudian melewati Pakistan sebelum tiba di Iran.

Namun Reuters mengakui rincian jumlah, jadwal pengiriman, serta mekanisme transportasi masih dapat berubah.

Iran Terus Memperkuat Pertahanan Udara

Laporan mengenai kemungkinan pembelian sistem pertahanan udara muncul ketika Iran berupaya memperkuat perlindungan terhadap pangkalan militer, fasilitas rudal, infrastruktur energi, dan instalasi strategis lainnya setelah berbulan-bulan menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel.

BACA JUGA:  Spanyol Nyatakan Sikap Soal Perang Iran vs AS, PM Sanchez: Kami Mengatakan Tidak pada Perang

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran juga terus mengembangkan industri pertahanan dalam negeri melalui produksi rudal balistik, rudal jelajah, drone tempur, radar, dan sistem pertahanan udara buatan sendiri meskipun menghadapi sanksi internasional.

Sejumlah analis militer menilai apabila sistem MANPADS benar-benar diperoleh, maka persenjataan itu hanya akan melengkapi kemampuan pertahanan jarak dekat Iran, bukan menggantikan sistem pertahanan udara nasional yang telah dikembangkan secara mandiri.

Sistem pertahanan udara portabel memiliki keunggulan karena mudah dipindahkan, dapat dioperasikan tim kecil, sulit dideteksi lawan, dan efektif menghadapi drone maupun pesawat yang terbang pada ketinggian rendah.

Beberapa sumber keamanan Eropa yang dikutip Reuters juga menyebut adanya pembicaraan mengenai varian lain keluarga rudal QW, termasuk QW-18 dan QW-19, meski belum ada bukti bahwa kontrak tersebut benar-benar diselesaikan.

Klaim 16 Pesawat Militer China Dipatahkan Investigasi

Di tengah beredarnya laporan Reuters, media sosial juga diramaikan klaim bahwa 16 pesawat angkut militer China Xi’an Y-20 telah mendarat di Iran dalam waktu 56 jam sebagai bagian dari operasi pengiriman senjata terbesar yang pernah dilakukan Beijing.

BACA JUGA:  Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Dua Kapal Indonesia Berhasil Melintas

Reuters mengutip tiga sumber anonim yang mengklaim pengiriman pertama dapat berlangsung dalam beberapa pekan.

Laporan itu menyebut paket persenjataan tersebut kemungkinan mencakup rudal QW-12 dan FN-16, yakni sistem rudal permukaan-ke-udara berpemandu inframerah yang dapat dipanggul oleh personel.

Sistem tersebut dirancang untuk menghadapi ancaman pesawat terbang rendah, helikopter, dan pesawat nirawak.

Reuters juga mengklaim perusahaan Zhongqing Baoshang International Investment yang berbasis di Hong Kong berperan sebagai perantara transaksi antara pemasok China dan Iran.

Menurut laporan tersebut, pengiriman awal direncanakan berangkat dari Urumqi, wilayah Xinjiang, kemudian melewati Pakistan sebelum tiba di Iran.

Namun Reuters mengakui rincian jumlah, jadwal pengiriman, serta mekanisme transportasi masih dapat berubah.

Iran Terus Memperkuat Pertahanan Udara

Laporan mengenai kemungkinan pembelian sistem pertahanan udara muncul ketika Iran berupaya memperkuat perlindungan terhadap pangkalan militer, fasilitas rudal, infrastruktur energi, dan instalasi strategis lainnya setelah berbulan-bulan menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel.

BACA JUGA:  Belgia Ditahan Iran 0-0, Kartu Merah Warnai Laga Sengit Grup G Piala Dunia 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran juga terus mengembangkan industri pertahanan dalam negeri melalui produksi rudal balistik, rudal jelajah, drone tempur, radar, dan sistem pertahanan udara buatan sendiri meskipun menghadapi sanksi internasional.

Sejumlah analis militer menilai apabila sistem MANPADS benar-benar diperoleh, maka persenjataan itu hanya akan melengkapi kemampuan pertahanan jarak dekat Iran, bukan menggantikan sistem pertahanan udara nasional yang telah dikembangkan secara mandiri.

Sistem pertahanan udara portabel memiliki keunggulan karena mudah dipindahkan, dapat dioperasikan tim kecil, sulit dideteksi lawan, dan efektif menghadapi drone maupun pesawat yang terbang pada ketinggian rendah.

Beberapa sumber keamanan Eropa yang dikutip Reuters juga menyebut adanya pembicaraan mengenai varian lain keluarga rudal QW, termasuk QW-18 dan QW-19, meski belum ada bukti bahwa kontrak tersebut benar-benar diselesaikan.

Klaim 16 Pesawat Militer China Dipatahkan Investigasi

Di tengah beredarnya laporan Reuters, media sosial juga diramaikan klaim bahwa 16 pesawat angkut militer China Xi’an Y-20 telah mendarat di Iran dalam waktu 56 jam sebagai bagian dari operasi pengiriman senjata terbesar yang pernah dilakukan Beijing.

BACA JUGA:  Sikap AS Dinilai Inkonsisten, Kemarin Ingin Damai Sekarang Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru