China Bantah Keras Tuduhan Kirim 400 Rudal ke Iran, Klaim “Jembatan Udara Rahasia” Dipatahkan Satu per Satu

SulawesiPos.com – Pemerintah China membantah laporan Reuters yang diterbitkan pada 29 Juli 2026 mengenai rencana Beijing memasok hingga 400 sistem rudal pertahanan udara portabel (MANPADS) kepada Iran di tengah perang dengan Amerika Serikat dan Israel.

Kementerian Luar Negeri China melalui Juru Bicara Mao Ning pada 30 Juli 2026 menyebut laporan tersebut tidak benar dan tidak berdasar, demikian Reuters melaporkan.

Pada saat yang sama, Pakistan juga membantah tuduhan bahwa wilayahnya akan digunakan sebagai jalur transit pengiriman persenjataan ke Iran.

Militer Pakistan melalui Inter-Services Public Relations (ISPR) menyebut klaim tersebut sebagai spekulasi yang tidak berdasar, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 30 Juli 2026.

China menegaskan bahwa seluruh laporan mengenai rencana pengiriman rudal ke Iran tidak benar, tidak berdasar, dan tidak sesuai fakta.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan Beijing telah berulang kali menjelaskan posisinya mengenai isu tersebut.

Menurut Mao Ning, China tetap berkomitmen mendorong perdamaian, meredakan konflik, dan tidak terlibat dalam eskalasi militer di kawasan.

Militer Pakistan melalui Inter-Services Public Relations (ISPR) juga menyebut seluruh spekulasi mengenai keterlibatan Islamabad dalam pengiriman senjata ke Iran sebagai rekayasa dan kebohongan.

ISPR menegaskan Pakistan tidak menyediakan koridor darat maupun udara untuk pengiriman peralatan militer China menuju Iran.

Reuters Ungkap Dugaan Kesepakatan Rahasia

Meski dibantah Beijing dan Islamabad, Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Iran diduga telah menandatangani kontrak pembelian 300–400 MANPADS buatan China.

BACA JUGA:  Terobosan Pencetakan Logam 3D China Menandai Era Baru Industri Antariksa Global

Nilai kontrak tersebut diperkirakan mencapai US$60–70 juta.

Reuters mengutip tiga sumber anonim yang mengklaim pengiriman pertama dapat berlangsung dalam beberapa pekan.

Laporan itu menyebut paket persenjataan tersebut kemungkinan mencakup rudal QW-12 dan FN-16, yakni sistem rudal permukaan-ke-udara berpemandu inframerah yang dapat dipanggul oleh personel.

Sistem tersebut dirancang untuk menghadapi ancaman pesawat terbang rendah, helikopter, dan pesawat nirawak.

Reuters juga mengklaim perusahaan Zhongqing Baoshang International Investment yang berbasis di Hong Kong berperan sebagai perantara transaksi antara pemasok China dan Iran.

Menurut laporan tersebut, pengiriman awal direncanakan berangkat dari Urumqi, wilayah Xinjiang, kemudian melewati Pakistan sebelum tiba di Iran.

Namun Reuters mengakui rincian jumlah, jadwal pengiriman, serta mekanisme transportasi masih dapat berubah.

Iran Terus Memperkuat Pertahanan Udara

Laporan mengenai kemungkinan pembelian sistem pertahanan udara muncul ketika Iran berupaya memperkuat perlindungan terhadap pangkalan militer, fasilitas rudal, infrastruktur energi, dan instalasi strategis lainnya setelah berbulan-bulan menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran juga terus mengembangkan industri pertahanan dalam negeri melalui produksi rudal balistik, rudal jelajah, drone tempur, radar, dan sistem pertahanan udara buatan sendiri meskipun menghadapi sanksi internasional.

Sejumlah analis militer menilai apabila sistem MANPADS benar-benar diperoleh, maka persenjataan itu hanya akan melengkapi kemampuan pertahanan jarak dekat Iran, bukan menggantikan sistem pertahanan udara nasional yang telah dikembangkan secara mandiri.

BACA JUGA:  Trump Ancam Habisi Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru Mojtaba Khamenei

Sistem pertahanan udara portabel memiliki keunggulan karena mudah dipindahkan, dapat dioperasikan tim kecil, sulit dideteksi lawan, dan efektif menghadapi drone maupun pesawat yang terbang pada ketinggian rendah.

Beberapa sumber keamanan Eropa yang dikutip Reuters juga menyebut adanya pembicaraan mengenai varian lain keluarga rudal QW, termasuk QW-18 dan QW-19, meski belum ada bukti bahwa kontrak tersebut benar-benar diselesaikan.

Klaim 16 Pesawat Militer China Dipatahkan Investigasi

Di tengah beredarnya laporan Reuters, media sosial juga diramaikan klaim bahwa 16 pesawat angkut militer China Xi’an Y-20 telah mendarat di Iran dalam waktu 56 jam sebagai bagian dari operasi pengiriman senjata terbesar yang pernah dilakukan Beijing.

Narasi tersebut menyebar luas melalui sejumlah akun media sosial yang menyertakan video pesawat angkut militer China untuk memperkuat klaim adanya “jembatan udara” menuju Iran.

Namun hasil investigasi Unit Open Source Al Jazeera, yang dipublikasikan pada 30 Juli 2026, menyimpulkan bahwa klaim tersebut tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi.

Tim verifikasi Al Jazeera menelusuri sumber awal penyebaran informasi, menganalisis video menggunakan pencarian balik gambar, memeriksa data penerbangan terbuka, serta membandingkannya dengan pernyataan resmi pemerintah China dan Iran.

BACA JUGA:  Konflik Iran vs AS Kian Memanas, Syahrul Aidi Minta Indonesia Tidak Memihak dan Mengutuk Penjajahan

Hasilnya menunjukkan video yang beredar merupakan gabungan rekaman lama yang diambil di lokasi berbeda, sebagian bahkan direkam di wilayah China dan tidak berkaitan dengan Iran.

Tim investigasi juga tidak menemukan bukti keberangkatan maupun kedatangan pesawat angkut militer Xi’an Y-20 menuju bandara-bandara Iran selama periode yang diklaim.

Data pelacakan penerbangan terbuka, termasuk pengamatan terhadap aktivitas penerbangan pada 26–29 Juli 2026, juga tidak menunjukkan adanya pola yang mendukung narasi mengenai pengiriman massal pesawat militer tersebut.

Meski penerbangan militer dalam kondisi tertentu dapat mematikan transponder sehingga tidak muncul di layanan sipil, Al Jazeera menegaskan bahwa kondisi itu tidak dapat dijadikan bukti bahwa jembatan udara militer benar-benar terjadi tanpa dukungan data independen maupun konfirmasi resmi.

Perang Informasi Semakin Intensif

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa konflik Amerika Serikat–Israel–Iran tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga memasuki ranah perang informasi yang ditandai oleh derasnya penyebaran laporan intelijen anonim, klaim media sosial, serta operasi verifikasi fakta.

Bantahan resmi dari China dan Pakistan memperlihatkan kehati-hatian kedua negara agar tidak dianggap sebagai pihak yang terlibat langsung dalam eskalasi konflik kawasan.

Sementara itu, investigasi independen Al Jazeera menunjukkan pentingnya membedakan antara laporan yang masih bersumber pada klaim anonim dengan informasi yang telah memperoleh dukungan bukti visual, data terbuka, dan konfirmasi resmi. (Ali)

SulawesiPos.com – Pemerintah China membantah laporan Reuters yang diterbitkan pada 29 Juli 2026 mengenai rencana Beijing memasok hingga 400 sistem rudal pertahanan udara portabel (MANPADS) kepada Iran di tengah perang dengan Amerika Serikat dan Israel.

Kementerian Luar Negeri China melalui Juru Bicara Mao Ning pada 30 Juli 2026 menyebut laporan tersebut tidak benar dan tidak berdasar, demikian Reuters melaporkan.

Pada saat yang sama, Pakistan juga membantah tuduhan bahwa wilayahnya akan digunakan sebagai jalur transit pengiriman persenjataan ke Iran.

Militer Pakistan melalui Inter-Services Public Relations (ISPR) menyebut klaim tersebut sebagai spekulasi yang tidak berdasar, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 30 Juli 2026.

China menegaskan bahwa seluruh laporan mengenai rencana pengiriman rudal ke Iran tidak benar, tidak berdasar, dan tidak sesuai fakta.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan Beijing telah berulang kali menjelaskan posisinya mengenai isu tersebut.

Menurut Mao Ning, China tetap berkomitmen mendorong perdamaian, meredakan konflik, dan tidak terlibat dalam eskalasi militer di kawasan.

Militer Pakistan melalui Inter-Services Public Relations (ISPR) juga menyebut seluruh spekulasi mengenai keterlibatan Islamabad dalam pengiriman senjata ke Iran sebagai rekayasa dan kebohongan.

ISPR menegaskan Pakistan tidak menyediakan koridor darat maupun udara untuk pengiriman peralatan militer China menuju Iran.

Reuters Ungkap Dugaan Kesepakatan Rahasia

Meski dibantah Beijing dan Islamabad, Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Iran diduga telah menandatangani kontrak pembelian 300–400 MANPADS buatan China.

BACA JUGA:  Washington Kobarkan Perang Baru, Iran Balas Gempuran AS dan Kunci Urat Nadi Energi Dunia

Nilai kontrak tersebut diperkirakan mencapai US$60–70 juta.

Reuters mengutip tiga sumber anonim yang mengklaim pengiriman pertama dapat berlangsung dalam beberapa pekan.

Laporan itu menyebut paket persenjataan tersebut kemungkinan mencakup rudal QW-12 dan FN-16, yakni sistem rudal permukaan-ke-udara berpemandu inframerah yang dapat dipanggul oleh personel.

Sistem tersebut dirancang untuk menghadapi ancaman pesawat terbang rendah, helikopter, dan pesawat nirawak.

Reuters juga mengklaim perusahaan Zhongqing Baoshang International Investment yang berbasis di Hong Kong berperan sebagai perantara transaksi antara pemasok China dan Iran.

Menurut laporan tersebut, pengiriman awal direncanakan berangkat dari Urumqi, wilayah Xinjiang, kemudian melewati Pakistan sebelum tiba di Iran.

Namun Reuters mengakui rincian jumlah, jadwal pengiriman, serta mekanisme transportasi masih dapat berubah.

Iran Terus Memperkuat Pertahanan Udara

Laporan mengenai kemungkinan pembelian sistem pertahanan udara muncul ketika Iran berupaya memperkuat perlindungan terhadap pangkalan militer, fasilitas rudal, infrastruktur energi, dan instalasi strategis lainnya setelah berbulan-bulan menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran juga terus mengembangkan industri pertahanan dalam negeri melalui produksi rudal balistik, rudal jelajah, drone tempur, radar, dan sistem pertahanan udara buatan sendiri meskipun menghadapi sanksi internasional.

Sejumlah analis militer menilai apabila sistem MANPADS benar-benar diperoleh, maka persenjataan itu hanya akan melengkapi kemampuan pertahanan jarak dekat Iran, bukan menggantikan sistem pertahanan udara nasional yang telah dikembangkan secara mandiri.

BACA JUGA:  Konflik Iran vs AS Kian Memanas, Syahrul Aidi Minta Indonesia Tidak Memihak dan Mengutuk Penjajahan

Sistem pertahanan udara portabel memiliki keunggulan karena mudah dipindahkan, dapat dioperasikan tim kecil, sulit dideteksi lawan, dan efektif menghadapi drone maupun pesawat yang terbang pada ketinggian rendah.

Beberapa sumber keamanan Eropa yang dikutip Reuters juga menyebut adanya pembicaraan mengenai varian lain keluarga rudal QW, termasuk QW-18 dan QW-19, meski belum ada bukti bahwa kontrak tersebut benar-benar diselesaikan.

Klaim 16 Pesawat Militer China Dipatahkan Investigasi

Di tengah beredarnya laporan Reuters, media sosial juga diramaikan klaim bahwa 16 pesawat angkut militer China Xi’an Y-20 telah mendarat di Iran dalam waktu 56 jam sebagai bagian dari operasi pengiriman senjata terbesar yang pernah dilakukan Beijing.

Narasi tersebut menyebar luas melalui sejumlah akun media sosial yang menyertakan video pesawat angkut militer China untuk memperkuat klaim adanya “jembatan udara” menuju Iran.

Namun hasil investigasi Unit Open Source Al Jazeera, yang dipublikasikan pada 30 Juli 2026, menyimpulkan bahwa klaim tersebut tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi.

Tim verifikasi Al Jazeera menelusuri sumber awal penyebaran informasi, menganalisis video menggunakan pencarian balik gambar, memeriksa data penerbangan terbuka, serta membandingkannya dengan pernyataan resmi pemerintah China dan Iran.

BACA JUGA:  Terobosan Pencetakan Logam 3D China Menandai Era Baru Industri Antariksa Global

Hasilnya menunjukkan video yang beredar merupakan gabungan rekaman lama yang diambil di lokasi berbeda, sebagian bahkan direkam di wilayah China dan tidak berkaitan dengan Iran.

Tim investigasi juga tidak menemukan bukti keberangkatan maupun kedatangan pesawat angkut militer Xi’an Y-20 menuju bandara-bandara Iran selama periode yang diklaim.

Data pelacakan penerbangan terbuka, termasuk pengamatan terhadap aktivitas penerbangan pada 26–29 Juli 2026, juga tidak menunjukkan adanya pola yang mendukung narasi mengenai pengiriman massal pesawat militer tersebut.

Meski penerbangan militer dalam kondisi tertentu dapat mematikan transponder sehingga tidak muncul di layanan sipil, Al Jazeera menegaskan bahwa kondisi itu tidak dapat dijadikan bukti bahwa jembatan udara militer benar-benar terjadi tanpa dukungan data independen maupun konfirmasi resmi.

Perang Informasi Semakin Intensif

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa konflik Amerika Serikat–Israel–Iran tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga memasuki ranah perang informasi yang ditandai oleh derasnya penyebaran laporan intelijen anonim, klaim media sosial, serta operasi verifikasi fakta.

Bantahan resmi dari China dan Pakistan memperlihatkan kehati-hatian kedua negara agar tidak dianggap sebagai pihak yang terlibat langsung dalam eskalasi konflik kawasan.

Sementara itu, investigasi independen Al Jazeera menunjukkan pentingnya membedakan antara laporan yang masih bersumber pada klaim anonim dengan informasi yang telah memperoleh dukungan bukti visual, data terbuka, dan konfirmasi resmi. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru