Sebelum Jadi Presiden Turki, Erdogan Sempat Berkarier sebagai Pemain Bola Profesional

SulawesiPos.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum masuk di dunia politik, ia lebih dulu merintis karier sebagai pesepak bola profesional di sejumlah klub di negaranya. Dalam wawancara yang dipublikasikan Daily Sabah pada 14 November 2017 mengenang perjalanan karier sepak bolanya, mulai dari masa remaja hingga mengaku meraih lima gelar saat memperkuat IETT Spor.

Dalam wawancara itu, Erdogan juga membahas isu kuota pemain asing di sepak bola Turki yang saat itu menjadi perdebatan besar.

Erdogan, yang disebut pernah bermain untuk Erokspor, Camialti, dan IETT Spor, mengatakan petualangannya di dunia sepak bola dimulai sejak usia 15 tahun. Ia menceritakan sempat bermain tujuh tahun sebagai penyerang di Camialti sebelum kemudian bergabung dengan IETT Spor dan kembali menghabiskan tujuh tahun di klub tersebut.

Dalam periode itulah Erdogan menyebut dirinya meraih lima gelar bersama IETT Spor. Ia juga mengatakan pernah menjadi kapten tim dan menggambarkan kondisi lapangan pada masa itu jauh dari ideal karena belum berumput dan mudah menyebabkan pemain memar.

BACA JUGA:  Pantai Gading Tekuk Curacao 2-0, Nicolas Pepe Borong Dua Gol dan Bawa Les Elephants ke 32 Besar

Pada wawancara yang sama, Erdogan juga menyinggung pengalaman disiplin sepanjang kariernya. Ia menyebut hanya sekali menerima kartu merah, yakni ketika memprotes keputusan wasit.

Selain membahas masa lalunya di lapangan, Erdogan menyinggung pandangan keluarganya terhadap sepak bola. Ia menggambarkan ibunya mendukung aktivitasnya bermain, sementara ayahnya pada awalnya lebih menekankan pentingnya pendidikan.

Perdebatan pemain asing di Liga Turki

Bagian lain dari wawancara itu menyoroti kebijakan jumlah pemain asing di Liga Turki. Saat itu, klub-klub diizinkan memainkan hingga 11 pemain asing secara bersamaan, dengan total 14 pemain asing yang bisa berada dalam skuad pertandingan.

Erdogan menilai federasi sepak bola Turki perlu menyelesaikan isu tersebut setelah 2019, ketika banyak kontrak pemain asing disebut baru berakhir. Meski demikian, ia menegaskan dirinya tidak menolak kehadiran pemain asing karena mereka juga dinilai bisa memberi kontribusi bagi perkembangan sepak bola Turki.

Menurut Erdogan, pemain lokal membutuhkan menit bermain yang cukup di level klub agar memiliki peluang lebih besar dipanggil ke tim nasional. Isu inilah yang ketika itu juga banyak disorot pelatih Turki, Mircea Lucescu, di tengah kritik bahwa banyaknya pemain asing bisa mempersempit ruang tampil pemain domestik.

BACA JUGA:  Venezuela Tundukkan Irak 2-0 dalam Laga Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026

Wawancara tersebut terbit saat Turki baru gagal lolos ke Piala Dunia 2018 di Rusia. Karena itu, pembahasan mengenai pembinaan pemain lokal dan komposisi pemain asing menjadi salah satu topik utama dalam perbincangan sepak bola Turki saat itu.

SulawesiPos.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum masuk di dunia politik, ia lebih dulu merintis karier sebagai pesepak bola profesional di sejumlah klub di negaranya. Dalam wawancara yang dipublikasikan Daily Sabah pada 14 November 2017 mengenang perjalanan karier sepak bolanya, mulai dari masa remaja hingga mengaku meraih lima gelar saat memperkuat IETT Spor.

Dalam wawancara itu, Erdogan juga membahas isu kuota pemain asing di sepak bola Turki yang saat itu menjadi perdebatan besar.

Erdogan, yang disebut pernah bermain untuk Erokspor, Camialti, dan IETT Spor, mengatakan petualangannya di dunia sepak bola dimulai sejak usia 15 tahun. Ia menceritakan sempat bermain tujuh tahun sebagai penyerang di Camialti sebelum kemudian bergabung dengan IETT Spor dan kembali menghabiskan tujuh tahun di klub tersebut.

Dalam periode itulah Erdogan menyebut dirinya meraih lima gelar bersama IETT Spor. Ia juga mengatakan pernah menjadi kapten tim dan menggambarkan kondisi lapangan pada masa itu jauh dari ideal karena belum berumput dan mudah menyebabkan pemain memar.

BACA JUGA:  Ronald Koeman Umumkan 26 Pemain Belanda untuk Piala Dunia 2026

Pada wawancara yang sama, Erdogan juga menyinggung pengalaman disiplin sepanjang kariernya. Ia menyebut hanya sekali menerima kartu merah, yakni ketika memprotes keputusan wasit.

Selain membahas masa lalunya di lapangan, Erdogan menyinggung pandangan keluarganya terhadap sepak bola. Ia menggambarkan ibunya mendukung aktivitasnya bermain, sementara ayahnya pada awalnya lebih menekankan pentingnya pendidikan.

Perdebatan pemain asing di Liga Turki

Bagian lain dari wawancara itu menyoroti kebijakan jumlah pemain asing di Liga Turki. Saat itu, klub-klub diizinkan memainkan hingga 11 pemain asing secara bersamaan, dengan total 14 pemain asing yang bisa berada dalam skuad pertandingan.

Erdogan menilai federasi sepak bola Turki perlu menyelesaikan isu tersebut setelah 2019, ketika banyak kontrak pemain asing disebut baru berakhir. Meski demikian, ia menegaskan dirinya tidak menolak kehadiran pemain asing karena mereka juga dinilai bisa memberi kontribusi bagi perkembangan sepak bola Turki.

Menurut Erdogan, pemain lokal membutuhkan menit bermain yang cukup di level klub agar memiliki peluang lebih besar dipanggil ke tim nasional. Isu inilah yang ketika itu juga banyak disorot pelatih Turki, Mircea Lucescu, di tengah kritik bahwa banyaknya pemain asing bisa mempersempit ruang tampil pemain domestik.

BACA JUGA:  Pantai Gading Tekuk Curacao 2-0, Nicolas Pepe Borong Dua Gol dan Bawa Les Elephants ke 32 Besar

Wawancara tersebut terbit saat Turki baru gagal lolos ke Piala Dunia 2018 di Rusia. Karena itu, pembahasan mengenai pembinaan pemain lokal dan komposisi pemain asing menjadi salah satu topik utama dalam perbincangan sepak bola Turki saat itu.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru