Salah Bergaya Panenka Kecoh Kiper Australia, Mesir Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026 lewat Drama Adu Penalti

SulawesiPos.com – Timnas Mesir memastikan langkah bersejarah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Australia lewat adu penalti 4-2, seusai bermain imbang 1-1 selama 120 menit pada laga 32 besar di Arlington, Texas, Jumat, 3 Juli 2026 waktu setempat atau Sabtu 4 Juli 2026 dini hari WIB. Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Mesir di fase gugur Piala Dunia, sementara Australia kembali harus menelan kekecewaan setelah pertaruhan pergantian kiper mereka di akhir laga tak membuahkan hasil.

Mesir lebih dulu memukul Australia pada menit ke-13. Emam Ashour mencetak gol pembuka lewat sundulan yang menembus penjaga gawang Patrick Beach di sisi dekat gawang.

Gol itu memberi momentum penting bagi Mesir, yang tampil cukup disiplin dan beberapa kali lebih berbahaya saat masuk ke sepertiga akhir lapangan.

Hany Tanduk Bola ke Gawang Sendiri

Australia sempat merespons dengan permainan yang lebih agresif, tetapi kesulitan menciptakan peluang bersih. Upaya mereka baru membuahkan hasil pada menit ke-55, itupun lewat gol bunuh diri bek Mesir Mohamed Hany.

BACA JUGA:  Lionel Scaloni Langgar Kebiasaannya demi Wartawan Legendaris 91 Tahun, Ungkap Status Lionel Messi

Momen itu bermula dari bola mati yang dikirim Aiden O’Neill dari sisi kiri area serang, sebelum Hany salah mengantisipasi bola dan justru menanduknya ke gawang sendiri.

Gol tersebut membuat pertandingan kembali hidup. Namun, alih-alih berubah menjadi laga terbuka penuh peluang, duel justru berkembang menjadi pertarungan ketat yang sarat kehati-hatian.

Mesir sempat punya peluang emas untuk menjauh di awal babak kedua ketika Omar Marmoush melepaskan tembakan, tetapi arah bolanya melebar.

Di sisi lain, Australia juga tidak cukup tajam untuk memaksimalkan momentum penyama kedudukan.

Menjelang akhir waktu normal, Patrick Beach justru menjadi salah satu alasan Australia tetap bertahan. Kiper 22 tahun itu membuat beberapa penyelamatan penting, termasuk menggagalkan peluang Ramy Rabia dan meredam ancaman Mesir di momen-momen kritis.

Pergantian Kiper Australia Jadi Blunder

Karena itu, keputusan pelatih Australia memasukkan Mathew Ryan pada menit ke-119 khusus untuk adu penalti menjadi salah satu titik yang paling disorot selepas laga.

BACA JUGA:  Tanjung Verde Tahan Arab Saudi 0-0, Akhiri Fase Grup Piala Dunia 2026 Tanpa Kekalahan

Pergantian itu dimaksudkan sebagai perjudian taktis berbasis pengalaman. Ryan masuk dengan catatan 105 caps internasional dan diharapkan menjadi pembeda di babak tos-tosan. Namun kenyataannya, ia gagal menghentikan satu pun dari empat eksekutor Mesir.

Adu penalti langsung menempatkan Australia dalam tekanan. Harry Souttar, yang menjadi penendang pertama Socceroos, gagal menuntaskan tugasnya.

Mesir lalu melaju mulus melalui Mahmoud Saber dan Ramy Rabia, sementara Australia hanya mampu membalas lewat Jackson Irvine dan Awer Mabil.

Momen paling menentukan datang ketika Mohamed Salah maju sebagai algojo ketiga Mesir.

Dalam tekanan besar, bintang Mesir itu justru menunjukkan kelasnya dengan penalti bergaya panenka ke tengah gawang, mengecoh Ryan dan membawa Mesir unggul 3-2.

Sesudah itu, Lucas Herrington yang baru 18 tahun gagal menyamakan skor setelah tendangannya membentur mistar.

Situasi itu membuka jalan bagi Hossam Abdelmaguid untuk menjadi penentu. Bek Mesir tersebut menjalankan tugas dengan tenang dan memastikan kemenangan 4-2 dalam

BACA JUGA:  Pemkab Bulukumba Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 untuk Gerakkan UMKM Lokal

Seusai bola masuk, para pemain Mesir larut dalam selebrasi emosional karena akhirnya mampu memecahkan batas historis mereka di Piala Dunia.

Hasil ini terasa sangat besar bagi Mesir. Dalam empat partisipasi di Piala Dunia, mereka kini akhirnya mencatat kemenangan pertama di fase gugur.

Sebaliknya, Australia masih belum mampu meraih kemenangan perdana di babak knockout Piala Dunia dan kini tercatat 0-3 di fase tersebut.
Di balik drama penalti, pertandingan ini juga menegaskan bahwa Mesir tampil sedikit lebih efektif dalam mengelola momen.

Australia punya semangat juang dan organisasi pertahanan yang cukup baik, tetapi kekurangan ketajaman di depan gawang.

0Mesir memang tidak dominan mutlak, namun mereka lebih tenang saat peluang datang dan jauh lebih dingin ketika segalanya ditentukan dari titik putih.

Mesir kini menunggu pemenang laga Argentina kontra Cape Verde untuk pertandingan babak 16 besar berikutnya.*

SulawesiPos.com – Timnas Mesir memastikan langkah bersejarah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Australia lewat adu penalti 4-2, seusai bermain imbang 1-1 selama 120 menit pada laga 32 besar di Arlington, Texas, Jumat, 3 Juli 2026 waktu setempat atau Sabtu 4 Juli 2026 dini hari WIB. Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Mesir di fase gugur Piala Dunia, sementara Australia kembali harus menelan kekecewaan setelah pertaruhan pergantian kiper mereka di akhir laga tak membuahkan hasil.

Mesir lebih dulu memukul Australia pada menit ke-13. Emam Ashour mencetak gol pembuka lewat sundulan yang menembus penjaga gawang Patrick Beach di sisi dekat gawang.

Gol itu memberi momentum penting bagi Mesir, yang tampil cukup disiplin dan beberapa kali lebih berbahaya saat masuk ke sepertiga akhir lapangan.

Hany Tanduk Bola ke Gawang Sendiri

Australia sempat merespons dengan permainan yang lebih agresif, tetapi kesulitan menciptakan peluang bersih. Upaya mereka baru membuahkan hasil pada menit ke-55, itupun lewat gol bunuh diri bek Mesir Mohamed Hany.

BACA JUGA:  Tanjung Verde Tahan Arab Saudi 0-0, Akhiri Fase Grup Piala Dunia 2026 Tanpa Kekalahan

Momen itu bermula dari bola mati yang dikirim Aiden O’Neill dari sisi kiri area serang, sebelum Hany salah mengantisipasi bola dan justru menanduknya ke gawang sendiri.

Gol tersebut membuat pertandingan kembali hidup. Namun, alih-alih berubah menjadi laga terbuka penuh peluang, duel justru berkembang menjadi pertarungan ketat yang sarat kehati-hatian.

Mesir sempat punya peluang emas untuk menjauh di awal babak kedua ketika Omar Marmoush melepaskan tembakan, tetapi arah bolanya melebar.

Di sisi lain, Australia juga tidak cukup tajam untuk memaksimalkan momentum penyama kedudukan.

Menjelang akhir waktu normal, Patrick Beach justru menjadi salah satu alasan Australia tetap bertahan. Kiper 22 tahun itu membuat beberapa penyelamatan penting, termasuk menggagalkan peluang Ramy Rabia dan meredam ancaman Mesir di momen-momen kritis.

Pergantian Kiper Australia Jadi Blunder

Karena itu, keputusan pelatih Australia memasukkan Mathew Ryan pada menit ke-119 khusus untuk adu penalti menjadi salah satu titik yang paling disorot selepas laga.

BACA JUGA:  Mimpi Jadi Nyata di Bandara Miami: Bocah Pendukung Kolombia Menangis Saat Tahu Akan ke Piala Dunia 2026.

Pergantian itu dimaksudkan sebagai perjudian taktis berbasis pengalaman. Ryan masuk dengan catatan 105 caps internasional dan diharapkan menjadi pembeda di babak tos-tosan. Namun kenyataannya, ia gagal menghentikan satu pun dari empat eksekutor Mesir.

Adu penalti langsung menempatkan Australia dalam tekanan. Harry Souttar, yang menjadi penendang pertama Socceroos, gagal menuntaskan tugasnya.

Mesir lalu melaju mulus melalui Mahmoud Saber dan Ramy Rabia, sementara Australia hanya mampu membalas lewat Jackson Irvine dan Awer Mabil.

Momen paling menentukan datang ketika Mohamed Salah maju sebagai algojo ketiga Mesir.

Dalam tekanan besar, bintang Mesir itu justru menunjukkan kelasnya dengan penalti bergaya panenka ke tengah gawang, mengecoh Ryan dan membawa Mesir unggul 3-2.

Sesudah itu, Lucas Herrington yang baru 18 tahun gagal menyamakan skor setelah tendangannya membentur mistar.

Situasi itu membuka jalan bagi Hossam Abdelmaguid untuk menjadi penentu. Bek Mesir tersebut menjalankan tugas dengan tenang dan memastikan kemenangan 4-2 dalam

BACA JUGA:  Jepang Kalahkan Tunisia 4-0, Ayase Ueda Cetak Dua Gol di Grup F Piala Dunia 2026

Seusai bola masuk, para pemain Mesir larut dalam selebrasi emosional karena akhirnya mampu memecahkan batas historis mereka di Piala Dunia.

Hasil ini terasa sangat besar bagi Mesir. Dalam empat partisipasi di Piala Dunia, mereka kini akhirnya mencatat kemenangan pertama di fase gugur.

Sebaliknya, Australia masih belum mampu meraih kemenangan perdana di babak knockout Piala Dunia dan kini tercatat 0-3 di fase tersebut.
Di balik drama penalti, pertandingan ini juga menegaskan bahwa Mesir tampil sedikit lebih efektif dalam mengelola momen.

Australia punya semangat juang dan organisasi pertahanan yang cukup baik, tetapi kekurangan ketajaman di depan gawang.

0Mesir memang tidak dominan mutlak, namun mereka lebih tenang saat peluang datang dan jauh lebih dingin ketika segalanya ditentukan dari titik putih.

Mesir kini menunggu pemenang laga Argentina kontra Cape Verde untuk pertandingan babak 16 besar berikutnya.*

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru