Unggahan Soal FOMO Picu Seruan Boikot KOMAR, Wandy Minta Maaf

SulawesiPos.com – Seruan memboikot kedai Kopi Masyarakat (KOMAR) ramai dibicarakan di Makassar setelah pemiliknya, Wandy Pratama, mengunggah pernyataan di Threads yang menilai sebagian kritik terhadap pemerintah dan aksi solidaritas sebagai sikap Fear of Missing Out (FOMO). Di tengah reaksi publik, Wandy menyampaikan klarifikasi serta permohonan maaf secara terbuka melalui media sosial.

Unggahan tersebut dibuat pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda dan gelombang aksi Indonesia Sadar. Pernyataan Wandy kemudian mendapat tanggapan dari sejumlah pengguna media sosial yang menilai kritik terhadap kebijakan pemerintah tidak dapat disamakan dengan sikap ikut-ikutan atau upaya mencari perhatian.

Unggahan Wandy Picu Reaksi Publik

Dalam salah satu unggahannya, Wandy mempertanyakan anggapan bahwa mencela pemerintah terlihat lebih keren dibandingkan berkarya atau melakukan hal baik.

“Bukan berkarya, mencela pemerintah hari ini bisa jadi kelihatan keren. Apa karena berkarya dan berbuat sesuatu yang baik sesulit itu, ya? Jadi mencela adalah alternatif biar kelihatan berbuat baik?” tulis Wandy.

BACA JUGA:  Kekeringan Meluas di Makassar, 24.243 Warga Terdampak dan 173 Titik Krisis Air

Pada unggahan lain, ia menyebut sebagian influencer, Key Opinion Leader (KOL), dan masyarakat dinilai menunggangi isu yang sedang berkembang untuk mencari atensi atau karena FOMO.

Pernyataan itu memicu kritik dari netizen di Makassar. Mereka menilai sikap tersebut tidak menunjukkan empati terhadap persoalan sosial yang sedang disuarakan masyarakat.

Sejumlah pengguna media sosial kemudian menyerukan agar publik tidak lagi membeli produk KOMAR di seluruh cabangnya. Seruan tersebut juga memunculkan perdebatan mengenai hubungan antara pandangan pribadi pemilik usaha dan citra bisnis yang dibangun melalui nama Kopi Masyarakat.

Pemilik KOMAR Sampaikan Permohonan Maaf

Setelah mendapat reaksi publik, Wandy Pratama menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf melalui akun media sosialnya. Ia mengaku menyesal atas pilihan diksi yang digunakan dalam unggahan tersebut.

Setelah mendapat reaksi publik, Wandy Pratama menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf melalui akun media sosialnya.
Setelah mendapat reaksi publik, Wandy Pratama menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf melalui akun media sosialnya.

Wandy juga berjanji akan lebih berhati-hati dan bijak ketika menyampaikan pendapat di ruang publik. Klarifikasi itu menjadi respons atas kritik netizen yang menilai pernyataannya telah menggeneralisasi orang-orang yang menyampaikan kritik dan menunjukkan kepedulian terhadap persoalan bangsa.

BACA JUGA:  Kronologi Remaja di Makassar Tewas usai Dibubarkan Tawuran: Polisi Lepaskan Tembakan Peringatan

Seruan boikot tersebut sejauh ini merupakan reaksi yang berkembang di media sosial. Belum ada informasi mengenai dampaknya terhadap operasional maupun penjualan KOMAR di sejumlah cabang.

SulawesiPos.com – Seruan memboikot kedai Kopi Masyarakat (KOMAR) ramai dibicarakan di Makassar setelah pemiliknya, Wandy Pratama, mengunggah pernyataan di Threads yang menilai sebagian kritik terhadap pemerintah dan aksi solidaritas sebagai sikap Fear of Missing Out (FOMO). Di tengah reaksi publik, Wandy menyampaikan klarifikasi serta permohonan maaf secara terbuka melalui media sosial.

Unggahan tersebut dibuat pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda dan gelombang aksi Indonesia Sadar. Pernyataan Wandy kemudian mendapat tanggapan dari sejumlah pengguna media sosial yang menilai kritik terhadap kebijakan pemerintah tidak dapat disamakan dengan sikap ikut-ikutan atau upaya mencari perhatian.

Unggahan Wandy Picu Reaksi Publik

Dalam salah satu unggahannya, Wandy mempertanyakan anggapan bahwa mencela pemerintah terlihat lebih keren dibandingkan berkarya atau melakukan hal baik.

“Bukan berkarya, mencela pemerintah hari ini bisa jadi kelihatan keren. Apa karena berkarya dan berbuat sesuatu yang baik sesulit itu, ya? Jadi mencela adalah alternatif biar kelihatan berbuat baik?” tulis Wandy.

BACA JUGA:  Mati Lampu Makassar Hari Ini 26 Oktober: KIMA hingga Jalan Andalas Padam Bergilir

Pada unggahan lain, ia menyebut sebagian influencer, Key Opinion Leader (KOL), dan masyarakat dinilai menunggangi isu yang sedang berkembang untuk mencari atensi atau karena FOMO.

Pernyataan itu memicu kritik dari netizen di Makassar. Mereka menilai sikap tersebut tidak menunjukkan empati terhadap persoalan sosial yang sedang disuarakan masyarakat.

Sejumlah pengguna media sosial kemudian menyerukan agar publik tidak lagi membeli produk KOMAR di seluruh cabangnya. Seruan tersebut juga memunculkan perdebatan mengenai hubungan antara pandangan pribadi pemilik usaha dan citra bisnis yang dibangun melalui nama Kopi Masyarakat.

Pemilik KOMAR Sampaikan Permohonan Maaf

Setelah mendapat reaksi publik, Wandy Pratama menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf melalui akun media sosialnya. Ia mengaku menyesal atas pilihan diksi yang digunakan dalam unggahan tersebut.

Setelah mendapat reaksi publik, Wandy Pratama menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf melalui akun media sosialnya.
Setelah mendapat reaksi publik, Wandy Pratama menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf melalui akun media sosialnya.

Wandy juga berjanji akan lebih berhati-hati dan bijak ketika menyampaikan pendapat di ruang publik. Klarifikasi itu menjadi respons atas kritik netizen yang menilai pernyataannya telah menggeneralisasi orang-orang yang menyampaikan kritik dan menunjukkan kepedulian terhadap persoalan bangsa.

BACA JUGA:  Sekjen Golkar: Jangan Duduk Manis, Jadilah Motor Penggerak Rakyat!

Seruan boikot tersebut sejauh ini merupakan reaksi yang berkembang di media sosial. Belum ada informasi mengenai dampaknya terhadap operasional maupun penjualan KOMAR di sejumlah cabang.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru