Gen Z Jerman Serukan Demo Serentak 31 Oktober, Gugat Masa Depan

SulawesiPos.com — Gerakan pemuda “Gen Z regelt” menyerukan demonstrasi di berbagai kota Jerman pada Sabtu, 31 Oktober 2026, melalui mobilisasi media sosial untuk menuntut perbaikan pendidikan, keterjangkauan biaya hidup, perlindungan iklim, dan penolakan wajib militer, sementara dua akademisi Indonesia alumni perguruan tinggi Jerman menyoroti keresahan generasi muda serta pentingnya membedakan aspirasi damai dari risiko provokasi.

Dr. Ir. Salman, RM, dosen Jurusan Teknik Mesin Universitas Mataram yang merupakan alumni University of Magdeburg, Jerman, serta Dr.-Ing. Ir. Venny Veronica Natalia, ST., MT., dosen Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin sekaligus alumni Technische Universität Berlin, menyampaikan pandangan mereka ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Salman menilai kekhawatiran politikus Uni Demokrat Kristen (CDU), termasuk Alexander Throm, mengenai kemungkinan penyusupan kelompok ekstrem merupakan bagian yang lazim dalam antisipasi keamanan demonstrasi besar di kota seperti Berlin dan Hamburg.

“Namun, kultur demonstrasi Gen Z Jerman yang berbasis mobilisasi daring biasanya sangat sadar citra dan berupaya menjaga agar aksi tetap damai,” ujar Salman.

Menurut laporan Deutsche Welle (DW),28 Oktober 2026, mobilisasi tersebut mempertemukan pelajar, mahasiswa, dan peserta pendidikan kejuruan yang merasa kepentingan generasinya kurang diperhatikan pemerintah.

Juru bicara penyelenggara yang memperkenalkan diri sebagai Amadeo mengatakan kepada Deutsche Presse-Agentur (dpa) bahwa sekitar 146.000 orang telah menyatakan minat mengikuti aksi melalui situs gerakan, tetapi angka pendaftaran daring tersebut belum menunjukkan jumlah peserta yang akan hadir.

Cakupan demonstrasi masih berkembang, dengan DW menyebut 23 kota, laporan NDR mencatat 28 kota, sedangkan dpa menyebut sekitar 30 kota, termasuk Berlin, Hamburg, München, Frankfurt, Köln, Hannover, dan Göttingen.

BACA JUGA:  Komisi X DPR Minta Pemerintah Segera Siapkan Solusi Penghapusan Guru Non-ASN

Dalam surat terbuka kepada Kanselir Friedrich Merz pada Kamis, 29 Oktober, penyelenggara menuding kebijakan penghematan mengikis harapan generasi muda, dengan sekitar 22.500 tanda tangan terkumpul hingga siang hari menurut dpa.

Surat tersebut memperoleh dukungan sejumlah tokoh, termasuk pemimpin fraksi Partai Kiri Heidi Reichinnek dan mantan pemimpin Partai Hijau Ricarda Lang, serta memuat keluhan mengenai sekolah rusak, kekurangan pengajar, kenaikan harga, krisis iklim, pelayanan sosial, dan kemungkinan wajib militer.

Aspirasi Damai dan Risiko Penyusupan

Penilaian Salman mengenai upaya menjaga citra gerakan menemukan konteks dalam pernyataan penyelenggara yang menolak kekerasan dan ekstremisme, meskipun komitmen tersebut masih harus dibuktikan ketika demonstrasi berlangsung.

Dr. Ir. Salman, RM menilai Gen Z Jerman berupaya menjaga demonstrasi damai tanpa kekerasan. (Foto: Dok.Pribadi).
Dr. Ir. Salman, RM menilai Gen Z Jerman berupaya menjaga demonstrasi damai tanpa kekerasan. (Foto: Dok.Pribadi).

Dalam laporan Tagesschau/rbb pada 29 Oktober 2026, kepolisian Berlin menyatakan belum memiliki informasi mengenai seruan kekerasan yang terarah untuk hari protes, tetapi tetap menyiapkan sekitar 1.500 personel tambahan karena aksi berlangsung bersamaan dengan Halloween.

Keterangan itu memperjelas bahwa kesiapan pengamanan tidak dengan sendirinya membuktikan demonstrasi akan berakhir rusuh, sebagaimana kemungkinan penyusupan juga tidak dapat dilekatkan kepada seluruh peserta.

Di Hessen, Kementerian Dalam Negeri setempat pada 29 Oktober 2026 memperingatkan risiko penyusupan kelompok ekstrem kiri yang berpotensi melakukan kekerasan dan menyatakan polisi mempersiapkan pengamanan secara intensif.

Namun, Tagesschau/hr pada tanggal yang sama melaporkan bahwa otoritas Frankfurt memperkirakan demonstrasi akan berlangsung sebagian besar damai, dengan sekitar 2.000 peserta meskipun lebih dari 11.000 orang telah menyatakan minat secara daring.

BACA JUGA:  Guru Dikeroyok Siswa di Jambi, Politisi Nasdem Sebut Ini Tamparan Keras dan Krisis Adab yang Parah

Dua pawai di Frankfurt dijadwalkan berangkat dari Weseler Werft pada pukul 14.15 dan 14.45 waktu setempat, dengan pembatasan berupa larangan membawa piroteknik, botol kaca, dan alkohol.

Perbedaan antara pendaftaran daring dan perkiraan kehadiran tersebut menunjukkan bahwa besarnya dukungan di media sosial perlu dibaca sebagai indikator mobilisasi, bukan kepastian jumlah massa di jalan.

Sosiolog Universitas Konstanz Sebastian Koos mengatakan kepada DW bahwa ia tidak memperkirakan kerusuhan di Jerman akan menyamai skala Prancis karena konteks kemarahan, persiapan demonstrasi, dan penekanan pada aksi tanpa kekerasan berbeda.

Kepolisian Leipzig juga menyatakan belum memiliki informasi yang memungkinkan situasi setempat dibandingkan dengan Prancis, sekaligus mencatat pembaruan perkiraan peserta menjadi 2.500 orang setelah pertemuan koordinasi dengan penyelenggara pada 28 Oktober 2026.

Pengalaman Venny dan Perubahan Konteks Jerman

Venny mengaku terkejut membaca rencana mobilisasi tersebut karena pengalaman pribadinya selama tinggal di Jerman memperlihatkan kehidupan yang relatif tenang serta masyarakat yang teliti dan berhati-hati.

“Saya tidak menyangka ini terjadi karena semasa saya di Jerman semua masih dalam kondisi tenang,” ujar Venny.

Dr.-Ing. Ir. Venny Veronica Natalia, ST., MT. mengaku terkejut atas rencana demonstrasi Gen Z Jerman. (Foto: Dok.Pribadi).
Dr.-Ing. Ir. Venny Veronica Natalia, ST., MT. mengaku terkejut atas rencana demonstrasi Gen Z Jerman. (Foto: Dok.Pribadi).

Ia juga mengenang keluarga-keluarga yang dikenalnya sebagai lingkungan yang protektif terhadap anak, sehingga rencana protes besar generasi muda terasa berbeda dari pengalaman yang dibawanya ketika meninggalkan Jerman pada 2021.

Venny menduga perubahan situasi tersebut mungkin berkaitan dengan perang Ukraina pada 2022 serta perkembangan dukungan terhadap Partai Kiri atau Die Linke, tetapi secara tegas menyampaikan pandangan itu sebagai asumsi.

Sebagai konteks, invasi skala penuh Rusia ke Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022, sekitar setahun setelah Venny meninggalkan Jerman, tetapi hubungan langsung perang tersebut dengan mobilisasi “Gen Z regelt” belum dapat dipastikan dari bahan pemberitaan yang tersedia.

BACA JUGA:  Mentan Amran Buka Jalan Mahasiswa Unismuh Jadi Pengusaha Pertanian: Manfaatkan Lahan Produktif

Sementara itu, penyebutan “kemenangan” Die Linke perlu ditempatkan secara tepat karena hasil resmi pemilu federal 2025 mencatat partai tersebut memperoleh 8,8% suara kedua dan 64 kursi, sehingga mengalami penguatan tetapi bukan menjadi pemenang pemilu nasional.

Dukungan Heidi Reichinnek terhadap surat terbuka gerakan menunjukkan adanya simpati politik dari tokoh Die Linke, tetapi belum membuktikan partai tersebut mengendalikan demonstrasi.

Pendidikan dan Kepercayaan Menjadi Taruhan

Quentin Gärtner, mahasiswa bioteknologi berusia 19 tahun dan mantan sekretaris jenderal Konferensi Pelajar Federal Jerman, mengatakan kepada DW bahwa frustrasi terhadap pendidikan menjadi salah satu pengikat keresahan anak muda.

Menurut Gärtner, penurunan capaian belajar, pengurangan posisi pengajar, dan minimnya investasi bangunan sekolah memperkuat perasaan bahwa masa depan generasi muda diabaikan.

Pemimpin bersama Partai Hijau Felix Banaszak turut menyoroti tekanan terhadap hubungan antargenerasi melalui persoalan iklim, sistem kesejahteraan, dan mahalnya sewa tempat tinggal dalam pernyataan kepada ZDF yang dikutip DW.

Di sisi organisasi, Amadeo menyebut tim penyelenggara nasional beranggotakan sekitar 30 orang, sementara Konferensi Pelajar Federal Jerman dan dewan pelajar Hessen mengambil jarak karena ketidakjelasan struktur gerakan.

Menjelang aksi, perhatian publik karena itu tertuju pada kemampuan penyelenggara menjaga transparansi dan komitmen damai, sekaligus pada kesediaan pemerintah menanggapi tuntutan pendidikan, kehidupan terjangkau, dan masa depan yang lebih pasti bagi generasi muda.

SulawesiPos.com — Gerakan pemuda “Gen Z regelt” menyerukan demonstrasi di berbagai kota Jerman pada Sabtu, 31 Oktober 2026, melalui mobilisasi media sosial untuk menuntut perbaikan pendidikan, keterjangkauan biaya hidup, perlindungan iklim, dan penolakan wajib militer, sementara dua akademisi Indonesia alumni perguruan tinggi Jerman menyoroti keresahan generasi muda serta pentingnya membedakan aspirasi damai dari risiko provokasi.

Dr. Ir. Salman, RM, dosen Jurusan Teknik Mesin Universitas Mataram yang merupakan alumni University of Magdeburg, Jerman, serta Dr.-Ing. Ir. Venny Veronica Natalia, ST., MT., dosen Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin sekaligus alumni Technische Universität Berlin, menyampaikan pandangan mereka ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Salman menilai kekhawatiran politikus Uni Demokrat Kristen (CDU), termasuk Alexander Throm, mengenai kemungkinan penyusupan kelompok ekstrem merupakan bagian yang lazim dalam antisipasi keamanan demonstrasi besar di kota seperti Berlin dan Hamburg.

“Namun, kultur demonstrasi Gen Z Jerman yang berbasis mobilisasi daring biasanya sangat sadar citra dan berupaya menjaga agar aksi tetap damai,” ujar Salman.

Menurut laporan Deutsche Welle (DW),28 Oktober 2026, mobilisasi tersebut mempertemukan pelajar, mahasiswa, dan peserta pendidikan kejuruan yang merasa kepentingan generasinya kurang diperhatikan pemerintah.

Juru bicara penyelenggara yang memperkenalkan diri sebagai Amadeo mengatakan kepada Deutsche Presse-Agentur (dpa) bahwa sekitar 146.000 orang telah menyatakan minat mengikuti aksi melalui situs gerakan, tetapi angka pendaftaran daring tersebut belum menunjukkan jumlah peserta yang akan hadir.

Cakupan demonstrasi masih berkembang, dengan DW menyebut 23 kota, laporan NDR mencatat 28 kota, sedangkan dpa menyebut sekitar 30 kota, termasuk Berlin, Hamburg, München, Frankfurt, Köln, Hannover, dan Göttingen.

BACA JUGA:  Mentan Amran Buka Jalan Mahasiswa Unismuh Jadi Pengusaha Pertanian: Manfaatkan Lahan Produktif

Dalam surat terbuka kepada Kanselir Friedrich Merz pada Kamis, 29 Oktober, penyelenggara menuding kebijakan penghematan mengikis harapan generasi muda, dengan sekitar 22.500 tanda tangan terkumpul hingga siang hari menurut dpa.

Surat tersebut memperoleh dukungan sejumlah tokoh, termasuk pemimpin fraksi Partai Kiri Heidi Reichinnek dan mantan pemimpin Partai Hijau Ricarda Lang, serta memuat keluhan mengenai sekolah rusak, kekurangan pengajar, kenaikan harga, krisis iklim, pelayanan sosial, dan kemungkinan wajib militer.

Aspirasi Damai dan Risiko Penyusupan

Penilaian Salman mengenai upaya menjaga citra gerakan menemukan konteks dalam pernyataan penyelenggara yang menolak kekerasan dan ekstremisme, meskipun komitmen tersebut masih harus dibuktikan ketika demonstrasi berlangsung.

Dr. Ir. Salman, RM menilai Gen Z Jerman berupaya menjaga demonstrasi damai tanpa kekerasan. (Foto: Dok.Pribadi).
Dr. Ir. Salman, RM menilai Gen Z Jerman berupaya menjaga demonstrasi damai tanpa kekerasan. (Foto: Dok.Pribadi).

Dalam laporan Tagesschau/rbb pada 29 Oktober 2026, kepolisian Berlin menyatakan belum memiliki informasi mengenai seruan kekerasan yang terarah untuk hari protes, tetapi tetap menyiapkan sekitar 1.500 personel tambahan karena aksi berlangsung bersamaan dengan Halloween.

Keterangan itu memperjelas bahwa kesiapan pengamanan tidak dengan sendirinya membuktikan demonstrasi akan berakhir rusuh, sebagaimana kemungkinan penyusupan juga tidak dapat dilekatkan kepada seluruh peserta.

Di Hessen, Kementerian Dalam Negeri setempat pada 29 Oktober 2026 memperingatkan risiko penyusupan kelompok ekstrem kiri yang berpotensi melakukan kekerasan dan menyatakan polisi mempersiapkan pengamanan secara intensif.

Namun, Tagesschau/hr pada tanggal yang sama melaporkan bahwa otoritas Frankfurt memperkirakan demonstrasi akan berlangsung sebagian besar damai, dengan sekitar 2.000 peserta meskipun lebih dari 11.000 orang telah menyatakan minat secara daring.

BACA JUGA:  Iran Desak Azerbaijan: Jangan Rampas Hak Belajar Siswi Berhijab!

Dua pawai di Frankfurt dijadwalkan berangkat dari Weseler Werft pada pukul 14.15 dan 14.45 waktu setempat, dengan pembatasan berupa larangan membawa piroteknik, botol kaca, dan alkohol.

Perbedaan antara pendaftaran daring dan perkiraan kehadiran tersebut menunjukkan bahwa besarnya dukungan di media sosial perlu dibaca sebagai indikator mobilisasi, bukan kepastian jumlah massa di jalan.

Sosiolog Universitas Konstanz Sebastian Koos mengatakan kepada DW bahwa ia tidak memperkirakan kerusuhan di Jerman akan menyamai skala Prancis karena konteks kemarahan, persiapan demonstrasi, dan penekanan pada aksi tanpa kekerasan berbeda.

Kepolisian Leipzig juga menyatakan belum memiliki informasi yang memungkinkan situasi setempat dibandingkan dengan Prancis, sekaligus mencatat pembaruan perkiraan peserta menjadi 2.500 orang setelah pertemuan koordinasi dengan penyelenggara pada 28 Oktober 2026.

Pengalaman Venny dan Perubahan Konteks Jerman

Venny mengaku terkejut membaca rencana mobilisasi tersebut karena pengalaman pribadinya selama tinggal di Jerman memperlihatkan kehidupan yang relatif tenang serta masyarakat yang teliti dan berhati-hati.

“Saya tidak menyangka ini terjadi karena semasa saya di Jerman semua masih dalam kondisi tenang,” ujar Venny.

Dr.-Ing. Ir. Venny Veronica Natalia, ST., MT. mengaku terkejut atas rencana demonstrasi Gen Z Jerman. (Foto: Dok.Pribadi).
Dr.-Ing. Ir. Venny Veronica Natalia, ST., MT. mengaku terkejut atas rencana demonstrasi Gen Z Jerman. (Foto: Dok.Pribadi).

Ia juga mengenang keluarga-keluarga yang dikenalnya sebagai lingkungan yang protektif terhadap anak, sehingga rencana protes besar generasi muda terasa berbeda dari pengalaman yang dibawanya ketika meninggalkan Jerman pada 2021.

Venny menduga perubahan situasi tersebut mungkin berkaitan dengan perang Ukraina pada 2022 serta perkembangan dukungan terhadap Partai Kiri atau Die Linke, tetapi secara tegas menyampaikan pandangan itu sebagai asumsi.

Sebagai konteks, invasi skala penuh Rusia ke Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022, sekitar setahun setelah Venny meninggalkan Jerman, tetapi hubungan langsung perang tersebut dengan mobilisasi “Gen Z regelt” belum dapat dipastikan dari bahan pemberitaan yang tersedia.

BACA JUGA:  Ratusan Madrasah Terdampak Bencana di Aceh Siap Belajar Tatap Muka Besok

Sementara itu, penyebutan “kemenangan” Die Linke perlu ditempatkan secara tepat karena hasil resmi pemilu federal 2025 mencatat partai tersebut memperoleh 8,8% suara kedua dan 64 kursi, sehingga mengalami penguatan tetapi bukan menjadi pemenang pemilu nasional.

Dukungan Heidi Reichinnek terhadap surat terbuka gerakan menunjukkan adanya simpati politik dari tokoh Die Linke, tetapi belum membuktikan partai tersebut mengendalikan demonstrasi.

Pendidikan dan Kepercayaan Menjadi Taruhan

Quentin Gärtner, mahasiswa bioteknologi berusia 19 tahun dan mantan sekretaris jenderal Konferensi Pelajar Federal Jerman, mengatakan kepada DW bahwa frustrasi terhadap pendidikan menjadi salah satu pengikat keresahan anak muda.

Menurut Gärtner, penurunan capaian belajar, pengurangan posisi pengajar, dan minimnya investasi bangunan sekolah memperkuat perasaan bahwa masa depan generasi muda diabaikan.

Pemimpin bersama Partai Hijau Felix Banaszak turut menyoroti tekanan terhadap hubungan antargenerasi melalui persoalan iklim, sistem kesejahteraan, dan mahalnya sewa tempat tinggal dalam pernyataan kepada ZDF yang dikutip DW.

Di sisi organisasi, Amadeo menyebut tim penyelenggara nasional beranggotakan sekitar 30 orang, sementara Konferensi Pelajar Federal Jerman dan dewan pelajar Hessen mengambil jarak karena ketidakjelasan struktur gerakan.

Menjelang aksi, perhatian publik karena itu tertuju pada kemampuan penyelenggara menjaga transparansi dan komitmen damai, sekaligus pada kesediaan pemerintah menanggapi tuntutan pendidikan, kehidupan terjangkau, dan masa depan yang lebih pasti bagi generasi muda.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru