Siapa Arrmanatha Nasir, Lahir di Bangkok Lalu Jadi AE Danamon hingga ke Kursi Menlu

SulawesiPos.com – Arrmanatha Christiawan Nasir merupakan diplomat senior yang kini didapuk menjadi Menteri Luar Negeri RI dalam Kabinet Merah Putih menggantikan Sugioni.

Akrab disapa Tata, Arrmanatha meniti karier dari dunia perbankan, negosiasi perdagangan internasional, perwakilan Indonesia di PBB, juru bicara Kemlu, hingga menjadi duta besar dan pejabat tinggi diplomasi Indonesia.

Arrmanatha menjabat Wamenlu sejak 21 Oktober 2024 bersama Anis Matta dan Arif Havas Oegroseno, mendampingi Menteri Luar Negeri Sugiono.

Kini, ia didapuk menjadi Menteri Luar Negeri RI menggantikan Sugiono.l

Sebelum masuk jajaran kabinet, ia memiliki pengalaman panjang menangani isu ekonomi, pembangunan, perdagangan, hubungan bilateral, dan kerja sama multilateral.

Arrmanatha lahir di Bangkok, Thailand, pada 30 Desember 1971.

Ia tumbuh menjadi diplomat yang banyak bekerja di ruang-ruang perundingan internasional, termasuk forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Perdagangan Dunia, dan hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara mitra.

Profil publik mencatat Arrmanatha akrab dipanggil Tata. Ia menikah dengan Nur Indah Sari dan memiliki tiga anak.

Pendidikan dan Awal Perjalanan

Arrmanatha menempuh pendidikan menengah di Whitefield School, London.

Ia kemudian meraih gelar sarjana bidang ekonomi dari University of Buckingham, Inggris.

Pendidikan magisternya ditempuh di University of Leicester dan Universitas Indonesia.

Latar belakang ekonomi menjadi bekal penting dalam perjalanan diplomatiknya karena sebagian besar penugasan awal Arrmanatha berkaitan dengan perdagangan, pembangunan, kerja sama ekonomi, dan negosiasi internasional.

Sebelum bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha pernah bekerja di Bank Danamon dan Bank Dagang Negara.

Pengalaman di sektor perbankan itu menjadi bagian menarik dari perjalanan kariernya karena ia tidak langsung memulai profesi sebagai diplomat, melainkan lebih dulu mengenal dunia keuangan dan perbankan.

Arrmanatha bergabung dengan Kementerian Luar Negeri pada 1997.

Dari Negosiator WTO hingga Perwakilan di PBB

Dalam perjalanan awal di Kemlu, Arrmanatha pernah bekerja sebagai sekretaris kedua dan negosiator pada Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.

Ia juga pernah menjabat Kepala Subdirektorat Pertanian pada Direktorat Perdagangan, Industri, dan Hak Kekayaan Intelektual Kemlu.

BACA JUGA:  TB Hasanuddin Desak Pemerintah Tempuh Jalur PBB Demi Selamatkan 9 WNI yang Ditangkap Israel

Penugasan tersebut mempertemukannya dengan isu perdagangan internasional dan sektor pertanian, dua bidang yang memiliki kaitan langsung dengan kepentingan ekonomi Indonesia di tingkat global.

Pada 2001–2005, Arrmanatha bertugas sebagai Sekretaris Kedua pada Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di Jenewa, Swiss.

Di Jenewa, ia terlibat dalam isu perundingan perdagangan internasional dan kerja-kerja diplomasi multilateral.

Kariernya kemudian berlanjut di Perutusan Tetap RI untuk PBB di New York pada 2008–2012.

Sebagai Sekretaris Pertama, ia menangani isu ekonomi dan pembangunan dalam forum Majelis Umum PBB serta Dewan Ekonomi dan Sosial atau ECOSOC.

Sebelum penugasan tersebut, Arrmanatha juga tercatat pernah menjadi penasihat ekonomi bagi Presiden Majelis Umum PBB ke-65 pada periode 2010–2011.

Pengalaman berpindah antara isu perdagangan, ekonomi, pembangunan, dan diplomasi multilateral membentuk kepakarannya dalam membaca persoalan internasional dari perspektif kepentingan nasional.

Menjadi Juru Bicara Kemlu

Sekembalinya ke Jakarta, Arrmanatha dipercaya menempati sejumlah posisi di lingkungan Kemlu, termasuk Kepala Departemen Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan.

Ia kemudian menjadi juru bicara Kemlu pada sekitar 2014 hingga 2019.

Sebagai juru bicara, Arrmanatha tampil menyampaikan sikap resmi Indonesia mengenai berbagai perkembangan internasional dan isu hubungan luar negeri.

Peran tersebut membuatnya dikenal publik lebih luas karena harus menjelaskan kebijakan diplomasi dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat.

Pengalaman sebagai juru bicara juga menjadi salah satu tahap penting sebelum ia mendapat penugasan sebagai kepala perwakilan diplomatik Indonesia.

Duta Besar RI untuk Prancis

Pada 2019, Arrmanatha dilantik sebagai Duta Besar RI untuk Prancis, merangkap Andorra, Monako, dan UNESCO.

Selama bertugas di Paris, ia mendorong penguatan hubungan Indonesia-Prancis di bidang politik, pertahanan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Pada masa pandemi Covid-19, kerja sama kedua negara tetap berkembang melalui dukungan penanganan kesehatan, hubungan antarmasyarakat, serta penguatan mekanisme kerja sama bilateral.

Di bawah penugasannya, Indonesia dan Prancis juga memperkuat kerja sama pertahanan, membentuk forum dialog maritim, dan menyiapkan peta jalan kerja sama strategis untuk lima tahun.

BACA JUGA:  PBB Tolak Rencana Israel Kuasai 70 Persen Gaza: Seluruh Wilayah Milik Palestina

Arrmanatha menyebut hubungan kedua negara berkembang karena kedua pihak mampu menjembatani perbedaan kepentingan.

“Berbagai kemajuan yang telah dicapai dalam hubungan Indonesia-Prancis, tidak lepas dari keberhasilan kedua negara untuk secara kreatif menjembatani perbedaan posisi dan prioritas untuk memajukan kepentingan bersama,” ujar Arrmanatha, seperti dikutip dalam keterangan KBRI Paris.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu catatan menarik dalam kariernya karena diplomasi tetap berjalan dan bahkan diperkuat ketika pandemi membatasi pertemuan serta mobilitas antarnegara.

Meraih Legion d’Honneur

Pada 17 November 2021, Pemerintah Prancis menganugerahkan Commandeur de la Légion d’Honneur kepada Arrmanatha.

Penghargaan tersebut merupakan salah satu tanda kehormatan tertinggi Prancis dan diberikan atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Prancis.

Penghargaan itu diterima di Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis, atau Quai d’Orsay, di Paris.

Penganugerahan tersebut berlangsung menjelang berakhirnya masa tugas Arrmanatha sebagai duta besar Indonesia di Paris dan perpindahannya menuju penugasan baru di New York.

Utusan Tetap RI untuk PBB dan Otoritas Dasar Laut Internasional

Pada 25 Oktober 2021, Arrmanatha dilantik sebagai Duta Besar atau Utusan Tetap RI untuk PBB dan Otoritas Dasar Laut Internasional di New York.

Penugasan ini menjadi pengalaman penting karena ia ditempatkan di pusat diplomasi multilateral dan menangani forum yang berkaitan dengan perdamaian, pembangunan, ekonomi, serta tata kelola laut internasional.

Arrmanatha juga tercatat sebagai wakil tetap pertama Indonesia untuk Otoritas Dasar Laut Internasional.

Posisi tersebut memperluas pengalaman diplomatiknya dari isu perdagangan dan ekonomi menuju isu kelautan, hukum laut, serta kepentingan Indonesia di ruang laut internasional.

Saat menjalankan tugas di New York, ia juga terlibat dalam penyampaian sikap Indonesia pada berbagai sidang dan pertemuan PBB.

Dari Diplomat Karier ke Kabinet

Pada Oktober 2024, Arrmanatha dipanggil Presiden terpilih Prabowo Subianto ke kediamannya di Jakarta untuk membahas situasi global dan tantangan yang dihadapi Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Arrmanatha menyampaikan pentingnya Indonesia terus berperan aktif dalam menghadapi perubahan dunia dan mengambil peluang yang tersedia.

BACA JUGA:  Dubes Israel Bentak Pejabat PBB saat Debat Kekerasan Seksual dalam Konflik Gaza

“Saya menghadap Pak Prabowo, untuk berdiskusi situasi global dan tantangan saat ini. Dan Pak Prabowo sampaikan pentingnya untuk Indonesia terus berperan aktif dan membantu agar bisa menavigasi berbagai tantangan yang ada dan mengambil peluang yang bisa diraih,” kata Arrmanatha setelah bertemu Prabowo pada 15 Oktober 2024.

Lima hari kemudian, ia dilantik sebagai Wakil Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Merah Putih.

Penunjukan tersebut menempatkan Arrmanatha di jajaran pengambil kebijakan luar negeri setelah lebih dari dua dekade berkarier sebagai diplomat.

Dan, akhirnya ia menduduki kursi Menlu setelah dilantik oleh Presiden Prabowo pada 1 Oktober 2026.

Perjalanannya memperlihatkan perpindahan dari meja negosiasi perdagangan, kantor perwakilan PBB, ruang konferensi pers, kedutaan besar, hingga jabatan politik di pemerintahan.

Profil Arrmanatha Nasir

• Nama lengkap: Arrmanatha Christiawan Nasir.
• Nama panggilan: Tata.
• Tempat, tanggal lahir: Bangkok, Thailand, 30 Desember 1971.
• Jabatan sekarang: Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.
• Mulai menjabat: 1 Oktober 2026.
• Pendidikan: Whitefield School London, University of Buckingham, University of Leicester, dan Universitas Indonesia.
• Karier awal: Bank Danamon dan Bank Dagang Negara.
• Bergabung dengan Kemlu: 1997.
• Pengalaman internasional: WTO, Perutusan Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Perutusan Tetap RI untuk PBB di New York, Majelis Umum PBB, dan ECOSOC.
• Jabatan diplomatik: Duta Besar RI untuk Prancis, Andorra, Monako, dan UNESCO; Utusan Tetap RI untuk PBB dan Otoritas Dasar Laut Internasional.
• Jabatan lain: Kepala Subdirektorat Pertanian Kemlu, Kepala Departemen Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Kemlu, serta juru bicara Kemlu.
• Penghargaan: Commandeur de la Légion d’Honneur dari Pemerintah Prancis pada 2021.
• Keluarga: menikah dengan Nur Indah Sari dan memiliki tiga anak.
• Pengalaman menarik: menjadi negosiator WTO, juru bicara Kemlu, wakil tetap pertama Indonesia untuk Otoritas Dasar Laut Internasional, serta penerima Légion d’Honneur.*

SulawesiPos.com – Arrmanatha Christiawan Nasir merupakan diplomat senior yang kini didapuk menjadi Menteri Luar Negeri RI dalam Kabinet Merah Putih menggantikan Sugioni.

Akrab disapa Tata, Arrmanatha meniti karier dari dunia perbankan, negosiasi perdagangan internasional, perwakilan Indonesia di PBB, juru bicara Kemlu, hingga menjadi duta besar dan pejabat tinggi diplomasi Indonesia.

Arrmanatha menjabat Wamenlu sejak 21 Oktober 2024 bersama Anis Matta dan Arif Havas Oegroseno, mendampingi Menteri Luar Negeri Sugiono.

Kini, ia didapuk menjadi Menteri Luar Negeri RI menggantikan Sugiono.l

Sebelum masuk jajaran kabinet, ia memiliki pengalaman panjang menangani isu ekonomi, pembangunan, perdagangan, hubungan bilateral, dan kerja sama multilateral.

Arrmanatha lahir di Bangkok, Thailand, pada 30 Desember 1971.

Ia tumbuh menjadi diplomat yang banyak bekerja di ruang-ruang perundingan internasional, termasuk forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Perdagangan Dunia, dan hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara mitra.

Profil publik mencatat Arrmanatha akrab dipanggil Tata. Ia menikah dengan Nur Indah Sari dan memiliki tiga anak.

Pendidikan dan Awal Perjalanan

Arrmanatha menempuh pendidikan menengah di Whitefield School, London.

Ia kemudian meraih gelar sarjana bidang ekonomi dari University of Buckingham, Inggris.

Pendidikan magisternya ditempuh di University of Leicester dan Universitas Indonesia.

Latar belakang ekonomi menjadi bekal penting dalam perjalanan diplomatiknya karena sebagian besar penugasan awal Arrmanatha berkaitan dengan perdagangan, pembangunan, kerja sama ekonomi, dan negosiasi internasional.

Sebelum bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha pernah bekerja di Bank Danamon dan Bank Dagang Negara.

Pengalaman di sektor perbankan itu menjadi bagian menarik dari perjalanan kariernya karena ia tidak langsung memulai profesi sebagai diplomat, melainkan lebih dulu mengenal dunia keuangan dan perbankan.

Arrmanatha bergabung dengan Kementerian Luar Negeri pada 1997.

Dari Negosiator WTO hingga Perwakilan di PBB

Dalam perjalanan awal di Kemlu, Arrmanatha pernah bekerja sebagai sekretaris kedua dan negosiator pada Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.

Ia juga pernah menjabat Kepala Subdirektorat Pertanian pada Direktorat Perdagangan, Industri, dan Hak Kekayaan Intelektual Kemlu.

BACA JUGA:  Insiden di Lebanon Tewaskan 3 Prajurit TNI, Ini Kronologi dan Dugaan Awal

Penugasan tersebut mempertemukannya dengan isu perdagangan internasional dan sektor pertanian, dua bidang yang memiliki kaitan langsung dengan kepentingan ekonomi Indonesia di tingkat global.

Pada 2001–2005, Arrmanatha bertugas sebagai Sekretaris Kedua pada Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di Jenewa, Swiss.

Di Jenewa, ia terlibat dalam isu perundingan perdagangan internasional dan kerja-kerja diplomasi multilateral.

Kariernya kemudian berlanjut di Perutusan Tetap RI untuk PBB di New York pada 2008–2012.

Sebagai Sekretaris Pertama, ia menangani isu ekonomi dan pembangunan dalam forum Majelis Umum PBB serta Dewan Ekonomi dan Sosial atau ECOSOC.

Sebelum penugasan tersebut, Arrmanatha juga tercatat pernah menjadi penasihat ekonomi bagi Presiden Majelis Umum PBB ke-65 pada periode 2010–2011.

Pengalaman berpindah antara isu perdagangan, ekonomi, pembangunan, dan diplomasi multilateral membentuk kepakarannya dalam membaca persoalan internasional dari perspektif kepentingan nasional.

Menjadi Juru Bicara Kemlu

Sekembalinya ke Jakarta, Arrmanatha dipercaya menempati sejumlah posisi di lingkungan Kemlu, termasuk Kepala Departemen Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan.

Ia kemudian menjadi juru bicara Kemlu pada sekitar 2014 hingga 2019.

Sebagai juru bicara, Arrmanatha tampil menyampaikan sikap resmi Indonesia mengenai berbagai perkembangan internasional dan isu hubungan luar negeri.

Peran tersebut membuatnya dikenal publik lebih luas karena harus menjelaskan kebijakan diplomasi dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat.

Pengalaman sebagai juru bicara juga menjadi salah satu tahap penting sebelum ia mendapat penugasan sebagai kepala perwakilan diplomatik Indonesia.

Duta Besar RI untuk Prancis

Pada 2019, Arrmanatha dilantik sebagai Duta Besar RI untuk Prancis, merangkap Andorra, Monako, dan UNESCO.

Selama bertugas di Paris, ia mendorong penguatan hubungan Indonesia-Prancis di bidang politik, pertahanan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Pada masa pandemi Covid-19, kerja sama kedua negara tetap berkembang melalui dukungan penanganan kesehatan, hubungan antarmasyarakat, serta penguatan mekanisme kerja sama bilateral.

Di bawah penugasannya, Indonesia dan Prancis juga memperkuat kerja sama pertahanan, membentuk forum dialog maritim, dan menyiapkan peta jalan kerja sama strategis untuk lima tahun.

BACA JUGA:  Arab Saudi 2026 Raih Penghargaan Tertinggi PBB, Ustadz Das'ad Latif: Teknologi Harus Melayani Kemanusiaan

Arrmanatha menyebut hubungan kedua negara berkembang karena kedua pihak mampu menjembatani perbedaan kepentingan.

“Berbagai kemajuan yang telah dicapai dalam hubungan Indonesia-Prancis, tidak lepas dari keberhasilan kedua negara untuk secara kreatif menjembatani perbedaan posisi dan prioritas untuk memajukan kepentingan bersama,” ujar Arrmanatha, seperti dikutip dalam keterangan KBRI Paris.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu catatan menarik dalam kariernya karena diplomasi tetap berjalan dan bahkan diperkuat ketika pandemi membatasi pertemuan serta mobilitas antarnegara.

Meraih Legion d’Honneur

Pada 17 November 2021, Pemerintah Prancis menganugerahkan Commandeur de la Légion d’Honneur kepada Arrmanatha.

Penghargaan tersebut merupakan salah satu tanda kehormatan tertinggi Prancis dan diberikan atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Prancis.

Penghargaan itu diterima di Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis, atau Quai d’Orsay, di Paris.

Penganugerahan tersebut berlangsung menjelang berakhirnya masa tugas Arrmanatha sebagai duta besar Indonesia di Paris dan perpindahannya menuju penugasan baru di New York.

Utusan Tetap RI untuk PBB dan Otoritas Dasar Laut Internasional

Pada 25 Oktober 2021, Arrmanatha dilantik sebagai Duta Besar atau Utusan Tetap RI untuk PBB dan Otoritas Dasar Laut Internasional di New York.

Penugasan ini menjadi pengalaman penting karena ia ditempatkan di pusat diplomasi multilateral dan menangani forum yang berkaitan dengan perdamaian, pembangunan, ekonomi, serta tata kelola laut internasional.

Arrmanatha juga tercatat sebagai wakil tetap pertama Indonesia untuk Otoritas Dasar Laut Internasional.

Posisi tersebut memperluas pengalaman diplomatiknya dari isu perdagangan dan ekonomi menuju isu kelautan, hukum laut, serta kepentingan Indonesia di ruang laut internasional.

Saat menjalankan tugas di New York, ia juga terlibat dalam penyampaian sikap Indonesia pada berbagai sidang dan pertemuan PBB.

Dari Diplomat Karier ke Kabinet

Pada Oktober 2024, Arrmanatha dipanggil Presiden terpilih Prabowo Subianto ke kediamannya di Jakarta untuk membahas situasi global dan tantangan yang dihadapi Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Arrmanatha menyampaikan pentingnya Indonesia terus berperan aktif dalam menghadapi perubahan dunia dan mengambil peluang yang tersedia.

BACA JUGA:  Menhut Raja Juli Serukan Solidaritas Global Hadapi Krisis Iklim di Forum PBB

“Saya menghadap Pak Prabowo, untuk berdiskusi situasi global dan tantangan saat ini. Dan Pak Prabowo sampaikan pentingnya untuk Indonesia terus berperan aktif dan membantu agar bisa menavigasi berbagai tantangan yang ada dan mengambil peluang yang bisa diraih,” kata Arrmanatha setelah bertemu Prabowo pada 15 Oktober 2024.

Lima hari kemudian, ia dilantik sebagai Wakil Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Merah Putih.

Penunjukan tersebut menempatkan Arrmanatha di jajaran pengambil kebijakan luar negeri setelah lebih dari dua dekade berkarier sebagai diplomat.

Dan, akhirnya ia menduduki kursi Menlu setelah dilantik oleh Presiden Prabowo pada 1 Oktober 2026.

Perjalanannya memperlihatkan perpindahan dari meja negosiasi perdagangan, kantor perwakilan PBB, ruang konferensi pers, kedutaan besar, hingga jabatan politik di pemerintahan.

Profil Arrmanatha Nasir

• Nama lengkap: Arrmanatha Christiawan Nasir.
• Nama panggilan: Tata.
• Tempat, tanggal lahir: Bangkok, Thailand, 30 Desember 1971.
• Jabatan sekarang: Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.
• Mulai menjabat: 1 Oktober 2026.
• Pendidikan: Whitefield School London, University of Buckingham, University of Leicester, dan Universitas Indonesia.
• Karier awal: Bank Danamon dan Bank Dagang Negara.
• Bergabung dengan Kemlu: 1997.
• Pengalaman internasional: WTO, Perutusan Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Perutusan Tetap RI untuk PBB di New York, Majelis Umum PBB, dan ECOSOC.
• Jabatan diplomatik: Duta Besar RI untuk Prancis, Andorra, Monako, dan UNESCO; Utusan Tetap RI untuk PBB dan Otoritas Dasar Laut Internasional.
• Jabatan lain: Kepala Subdirektorat Pertanian Kemlu, Kepala Departemen Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Kemlu, serta juru bicara Kemlu.
• Penghargaan: Commandeur de la Légion d’Honneur dari Pemerintah Prancis pada 2021.
• Keluarga: menikah dengan Nur Indah Sari dan memiliki tiga anak.
• Pengalaman menarik: menjadi negosiator WTO, juru bicara Kemlu, wakil tetap pertama Indonesia untuk Otoritas Dasar Laut Internasional, serta penerima Légion d’Honneur.*

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru