Antrean Panjang BBM di Makassar, Rental Mobil Merugi, Distribusi Logistik Molor

SulawesiPos.com — Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Makassar dan sekitarnya mulai memukul sektor dunia usaha.

Tersendatnya pasokan bahan bakar memaksa para pelaku usaha dan armada logistik menghabiskan waktu berjam-jam di jalan hanya untuk mengisi tangki kendaraan, yang berdampak langsung pada penurunan omzet serta terganggunya distribusi barang.

Dampak nyata dialami Tadiuz, seorang pemilik usaha rental mobil di Makassar. Memiliki belasan unit armada mulai dari kelas Low Cost Green Car (LCGC), MPV, hingga minibus sekelas Toyota Innova, roda bisnisnya mendadak melambat drastis dalam sepekan terakhir akibat kelangkaan dan antrean bahan bakar.

Biasanya, sebagian besar armadanya aktif disewa pelanggan. Namun sepekan belakangan, penyewaan merosot tajam.

“Hanya dua sampai tiga mobil yang keluar disewa dalam sepekan ini. Penurunannya sangat jauh dibanding hari-hari normal sebelumnya,” keluh Tadiuz.

Selain minimnya minat penyewa yang enggan terjebak antrean, Tadiuz sendiri harus berjibaku menyiapkan armada dalam kondisi bahan bakar terisi. Saat mengisi BBM di SPBU Pannara, Jalan Antang Raya, ia terpaksa mengantre sejak pukul 06.00 WITA dan baru berhasil mendapatkan giliran pada pukul 11.00 WITA.

BACA JUGA:  Pertamina Patra Niaga Jamin Stok BBM Seluruh Wilayah Sulawesi, Minta Masyarakat Tidak Panic Buying

Waktu lima jam terbuang di jalan hanya demi satu tangki kendaraan. Tadiuz mematok tarif sewa mulai dari Rp300 ribu per hari untuk kelas LCGC, Rp400 ribu untuk kelas MPV seperti Avanza, dan Rp600 ribu untuk minibus seperti Innova. Ia sangat berharap pasokan BBM segera stabil agar aktivitas penyewaan mobilnya bisa kembali normal seperti sedia kala.

Kondisi serupa dialami armada logistik harian. Zul, seorang sopir truk distributor es krim yang memiliki pabrik di Kawasan Industri Makasar (KIMA), mengaku waktu operasional pengantaran barangnya terpangkas habis di SPBU. Saat ditemui di tengah antrean panjang kendaraan di SPBU Jalan AP Pettarani, Zul menyebut kehabisan banyak waktu berharga yang semestinya digunakan untuk menyuplai barang ke pelanggan.

Setiap kali mengisi bahan bakar, truk yang dikemudikan Zul membutuhkan solar penuh sekitar 60 liter atau senilai Rp400 ribu untuk menunjang rute pengantaran ke toko-toko di kawasan Makassar dan sekitarnya.

BACA JUGA:  Antisipasi Lonjakan Kebutuhan, Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg hingga 130 Persen di Sulsel

“Harus antre berjam-jam untuk dapat solar. Waktu operasional habis terpakai antre, jadwal pengantaran es krim ke penjual dan toko-toko langganan jadi ikut molor,” ujar Zul.

Kondisi antrean berjam-jam ini kian menambah beban operasional harian para pelaku usaha. Jika pasokan BBM di Makassar tak kunjung terurai dalam waktu dekat, gangguan rantai pasok barang hingga penurunan pendapatan sektor jasa transportasi dikhawatirkan akan makin meluas.

SulawesiPos.com — Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Makassar dan sekitarnya mulai memukul sektor dunia usaha.

Tersendatnya pasokan bahan bakar memaksa para pelaku usaha dan armada logistik menghabiskan waktu berjam-jam di jalan hanya untuk mengisi tangki kendaraan, yang berdampak langsung pada penurunan omzet serta terganggunya distribusi barang.

Dampak nyata dialami Tadiuz, seorang pemilik usaha rental mobil di Makassar. Memiliki belasan unit armada mulai dari kelas Low Cost Green Car (LCGC), MPV, hingga minibus sekelas Toyota Innova, roda bisnisnya mendadak melambat drastis dalam sepekan terakhir akibat kelangkaan dan antrean bahan bakar.

Biasanya, sebagian besar armadanya aktif disewa pelanggan. Namun sepekan belakangan, penyewaan merosot tajam.

“Hanya dua sampai tiga mobil yang keluar disewa dalam sepekan ini. Penurunannya sangat jauh dibanding hari-hari normal sebelumnya,” keluh Tadiuz.

Selain minimnya minat penyewa yang enggan terjebak antrean, Tadiuz sendiri harus berjibaku menyiapkan armada dalam kondisi bahan bakar terisi. Saat mengisi BBM di SPBU Pannara, Jalan Antang Raya, ia terpaksa mengantre sejak pukul 06.00 WITA dan baru berhasil mendapatkan giliran pada pukul 11.00 WITA.

BACA JUGA:  Dituntut 18 Tahun Penjara, Kerry Riza: Saya Pulang untuk Perkuat Ketahanan Energi, Bukan Rugikan Negara

Waktu lima jam terbuang di jalan hanya demi satu tangki kendaraan. Tadiuz mematok tarif sewa mulai dari Rp300 ribu per hari untuk kelas LCGC, Rp400 ribu untuk kelas MPV seperti Avanza, dan Rp600 ribu untuk minibus seperti Innova. Ia sangat berharap pasokan BBM segera stabil agar aktivitas penyewaan mobilnya bisa kembali normal seperti sedia kala.

Kondisi serupa dialami armada logistik harian. Zul, seorang sopir truk distributor es krim yang memiliki pabrik di Kawasan Industri Makasar (KIMA), mengaku waktu operasional pengantaran barangnya terpangkas habis di SPBU. Saat ditemui di tengah antrean panjang kendaraan di SPBU Jalan AP Pettarani, Zul menyebut kehabisan banyak waktu berharga yang semestinya digunakan untuk menyuplai barang ke pelanggan.

Setiap kali mengisi bahan bakar, truk yang dikemudikan Zul membutuhkan solar penuh sekitar 60 liter atau senilai Rp400 ribu untuk menunjang rute pengantaran ke toko-toko di kawasan Makassar dan sekitarnya.

BACA JUGA:  Gubernur Bentuk Satgas Tertibkan Antrean dan Selidiki Dugaan Pelanggaran SPBU

“Harus antre berjam-jam untuk dapat solar. Waktu operasional habis terpakai antre, jadwal pengantaran es krim ke penjual dan toko-toko langganan jadi ikut molor,” ujar Zul.

Kondisi antrean berjam-jam ini kian menambah beban operasional harian para pelaku usaha. Jika pasokan BBM di Makassar tak kunjung terurai dalam waktu dekat, gangguan rantai pasok barang hingga penurunan pendapatan sektor jasa transportasi dikhawatirkan akan makin meluas.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru