Perang AS-Iran Retak di Teluk, Dosen HI Universitas Brawijaya: Bongkar Mitos Lama

Washington, menurut analisisnya, berkepentingan mempertahankan struktur keamanan yang menjadikan Amerika Serikat pemain utama, sementara negara-negara Teluk semakin mencari ruang untuk memperbesar otonomi strategis mereka dan Iran berupaya memastikan keamanan kawasan tidak sepenuhnya ditentukan kekuatan dari luar.

Namun membangun arsitektur baru tidak berarti mengganti dominasi satu negara dengan dominasi negara lain karena keamanan regional yang stabil membutuhkan mekanisme yang dapat diterima bersama oleh negara-negara di kedua sisi Teluk.

Karena itu, pilihan paling rasional dalam jangka panjang adalah membangun sistem yang menggabungkan kemampuan pertahanan, mekanisme pencegahan konflik, diplomasi, kebebasan navigasi, perlindungan infrastruktur energi, dan saluran komunikasi krisis agar kesalahan kalkulasi militer tidak berubah menjadi perang besar.

“Menurut saya, masa depan Teluk tidak seharusnya ditentukan oleh Washington maupun Teheran sendirian,” ujar Abdullah.

Ia menegaskan negara-negara kawasan harus berani membangun posisi strategisnya sendiri dengan menjadikan kepentingan bersama sebagai fondasi keamanan regional, bukan sekadar mengikuti kompetisi kekuatan besar.

BACA JUGA:  Perang Tagihan Triliunan Meledak: Trump Tuntut Iran Bayar 50 Tahun Konflik, Hormuz Makin Membara

“Negara-negara kawasan harus berani mengatakan: keamanan Teluk harus dibangun oleh negara-negara Teluk, bukan diproyeksikan dari luar kawasan,” tegas Abdullah.

Dengan demikian, seruan Qatar dan UEA dapat dibaca bukan sebagai berakhirnya aliansi Amerika di Teluk, melainkan sebagai munculnya kesadaran baru bahwa pangkalan militer dapat menghasilkan daya tangkal tetapi tidak otomatis menghasilkan perdamaian.

Kekuatan senjata tersebut dapat menciptakan ketakutan tetapi belum tentu melahirkan kepercayaan, dan keamanan jangka panjang hanya mungkin bertahan ketika negara-negara yang berbagi kawasan juga berbagi tanggung jawab untuk menjaganya. (Ali)

Washington, menurut analisisnya, berkepentingan mempertahankan struktur keamanan yang menjadikan Amerika Serikat pemain utama, sementara negara-negara Teluk semakin mencari ruang untuk memperbesar otonomi strategis mereka dan Iran berupaya memastikan keamanan kawasan tidak sepenuhnya ditentukan kekuatan dari luar.

Namun membangun arsitektur baru tidak berarti mengganti dominasi satu negara dengan dominasi negara lain karena keamanan regional yang stabil membutuhkan mekanisme yang dapat diterima bersama oleh negara-negara di kedua sisi Teluk.

Karena itu, pilihan paling rasional dalam jangka panjang adalah membangun sistem yang menggabungkan kemampuan pertahanan, mekanisme pencegahan konflik, diplomasi, kebebasan navigasi, perlindungan infrastruktur energi, dan saluran komunikasi krisis agar kesalahan kalkulasi militer tidak berubah menjadi perang besar.

“Menurut saya, masa depan Teluk tidak seharusnya ditentukan oleh Washington maupun Teheran sendirian,” ujar Abdullah.

Ia menegaskan negara-negara kawasan harus berani membangun posisi strategisnya sendiri dengan menjadikan kepentingan bersama sebagai fondasi keamanan regional, bukan sekadar mengikuti kompetisi kekuatan besar.

BACA JUGA:  Rudal AS Hantam Dekat Rumah Sakit Anak Penderita Kanker di Ahvaz, Evakuasi Darurat Picu Kepanikan di Tengah Perang Iran–Amerika

“Negara-negara kawasan harus berani mengatakan: keamanan Teluk harus dibangun oleh negara-negara Teluk, bukan diproyeksikan dari luar kawasan,” tegas Abdullah.

Dengan demikian, seruan Qatar dan UEA dapat dibaca bukan sebagai berakhirnya aliansi Amerika di Teluk, melainkan sebagai munculnya kesadaran baru bahwa pangkalan militer dapat menghasilkan daya tangkal tetapi tidak otomatis menghasilkan perdamaian.

Kekuatan senjata tersebut dapat menciptakan ketakutan tetapi belum tentu melahirkan kepercayaan, dan keamanan jangka panjang hanya mungkin bertahan ketika negara-negara yang berbagi kawasan juga berbagi tanggung jawab untuk menjaganya. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru