SulawesiPos.com – Rudal-rudal Amerika Serikat dilaporkan menghantam kawasan di sekitar Rumah Sakit Shahid Baghaei di Kota Ahvaz, Provinsi Khuzestan, Iran barat daya, pada Rabu hingga Kamis, 15–16 Juli 2026, sehingga memicu evakuasi darurat pasien, terutama anak-anak penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi, setelah ledakan keras menimbulkan kepanikan dan trauma psikologis di lingkungan rumah sakit.
Serangan tersebut terjadi ketika Amerika Serikat melancarkan gelombang baru operasi militer terhadap berbagai sasaran di Iran yang menurut Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) digunakan untuk mengancam pelayaran internasional di Selat Hormuz, sementara Teheran menilai serangan itu sebagai tindakan agresi yang turut membahayakan fasilitas sipil.
Beberapa rudal dilaporkan jatuh di dekat kompleks Rumah Sakit Shahid Baghaei yang merupakan rumah sakit rujukan kemoterapi bagi pasien kanker, khususnya anak-anak, sehingga suara ledakan dan getaran hebat langsung memicu kepanikan di ruang perawatan.
Tim medis bersama keluarga pasien segera melakukan evakuasi darurat dengan memindahkan anak-anak yang tengah menjalani terapi ke fasilitas kesehatan lain demi menghindari risiko lebih besar apabila serangan berlanjut.
Pengamatan wartawan Fars di lokasi menyebutkan bahwa ledakan menyebabkan ketakutan luar biasa, kecemasan berat, serta guncangan psikologis pada pasien dan keluarga yang sebelumnya telah berada dalam kondisi emosional rentan akibat proses pengobatan kanker.
Pihak rumah sakit juga menghubungi orang tua pasien untuk segera datang menjemput anak-anak mereka sebagai langkah penyelamatan sementara hingga situasi keamanan memungkinkan pelayanan medis kembali berlangsung normal.
Perang Memanas, Serangan Meluas ke Infrastruktur Strategis Iran
CENTCOM melalui pernyataan resminya di media sosial X menyatakan bahwa operasi militer gelombang kedua dilaksanakan atas perintah Presiden Amerika Serikat dengan sasaran kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam kapal-kapal dagang yang melintas bebas di Selat Hormuz.
Washington menyebut operasi tersebut ditujukan untuk melumpuhkan sistem pertahanan pantai, gudang rudal jelajah, lokasi peluncuran rudal, serta berbagai instalasi militer Iran yang berhubungan dengan keamanan jalur pelayaran internasional.
Serangan terbaru berlangsung setelah Iran sebelumnya mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan dituduh menyerang sejumlah kapal tanker di perairan Oman, sehingga Amerika Serikat memperketat blokade maritim terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan terus melancarkan serangan balasan terhadap berbagai fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania sehingga konflik memasuki hari kelima berturut-turut dengan eskalasi yang semakin luas.
Media pemerintah Iran menegaskan bahwa kawasan sekitar rumah sakit menjadi salah satu lokasi yang terdampak ledakan, meskipun tidak menyebutkan adanya kerusakan langsung pada bangunan utama rumah sakit ataupun jumlah korban jiwa dari insiden tersebut.
Hingga berita ini ditulis belum terdapat konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan di sekitar fasilitas kesehatan tersebut, sementara otoritas Amerika Serikat juga belum memberikan tanggapan khusus terhadap klaim Iran bahwa rudal mereka jatuh di dekat rumah sakit anak penderita kanker.
Rumah Sakit dan Anak-Anak Dilindungi Hukum Humaniter Internasional
Rumah sakit, tenaga kesehatan, ambulans, serta pasien sipil memperoleh perlindungan khusus berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan I Tahun 1977, yang mengharuskan semua pihak dalam konflik bersenjata menghormati serta melindungi fasilitas pelayanan kesehatan dari serangan.
Hukum humaniter internasional juga menempatkan anak-anak sebagai kelompok sipil yang harus memperoleh perlindungan maksimal selama konflik berlangsung karena mereka merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak fisik maupun psikologis peperangan.
Rumah Sakit Shahid Baghaei sendiri dikenal sebagai salah satu pusat layanan onkologi di Provinsi Khuzestan yang menangani pasien kanker dari Ahvaz dan berbagai wilayah di Iran barat daya, sehingga keberlangsungan operasionalnya memiliki arti penting bagi kesinambungan terapi kemoterapi pasien anak.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan bahwa perang modern tidak hanya menghancurkan sasaran militer, tetapi juga berpotensi mengganggu layanan kesehatan, memperburuk penderitaan warga sipil, dan menimbulkan trauma jangka panjang bagi anak-anak yang telah berjuang melawan penyakit berat bahkan sebelum menghadapi ancaman konflik bersenjata. (Ali)


