Perang AS-Iran Retak di Teluk, Dosen HI Universitas Brawijaya: Bongkar Mitos Lama

SulawesiPos.com – Seruan Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) agar negara-negara Teluk membangun kemandirian pertahanan setelah perang Iran–Amerika Serikat dinilai sebagai tanda mulai runtuhnya mitos bahwa kehadiran militer Amerika Serikat selalu menjamin keamanan kawasan.

Pakar Timur Tengah dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., mengatakan hal tersebut saat dihubungi jurnalis SulawesiPos.com pada Rabu (9/9/2026).

Abdullah mengatakan, perubahan pemikiran strategis Qatar dan UEA harus dilihat dalam konteks pengalaman perang yang memperlihatkan bahwa keberadaan pangkalan, kapal perang, dan sistem pertahanan Amerika tidak dengan sendirinya membuat negara-negara Teluk terbebas dari risiko konflik.

“Perang Iran–Amerika Serikat sebenarnya sedang membongkar satu mitos lama di Teluk, bahwa semakin besar kehadiran militer Amerika, semakin aman kawasan,” kata Abdullah.

Menurutnya, ketika perang pecah, infrastruktur dan aset strategis Amerika di kawasan justru dapat memasukkan negara tempat aset tersebut berada ke dalam kalkulasi militer pihak yang berkonflik, sehingga konsep perlindungan eksternal sekaligus dapat menghasilkan kerentanan strategis baru.

BACA JUGA:  Indonesia Hentikan Pembahasan Board of Peace, Ketegangan Iran–Israel–AS Ubah Arah Diplomasi Global

Analisis Abdullah sejalan dengan pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Dr. Majed Al Ansari dan penasihat diplomatik Presiden UEA Anwar Gargash dalam Hili Forum di Abu Dhabi, 7 September 2026, yang sama-sama menegaskan bahwa kemitraan strategis dengan Washington tetap penting, tetapi tidak lagi cukup sebagai satu-satunya fondasi keamanan Teluk.

Negara-negara Teluk memperkuat kemandirian keamanan di tengah perang Iran–AS dan ketegangan Selat Hormuz

Euronews yang mempublikasikan laporan tersebut pada 8 September 2026 mencatat Al Ansari menyerukan penguatan kemampuan pertahanan negara-negara Teluk dan mengatakan bahwa ketergantungan penuh terhadap sekutu eksternal bukan lagi pilihan memadai setelah pengalaman perang mengguncang kawasan.

“Kemandirian dalam bidang keamanan adalah satu-satunya jalan ke depan,” kata Al Ansari, sembari menegaskan bahwa negara-negara Teluk masih membutuhkan mitra dan sekutu tetapi tidak dapat bergantung kepada mereka sepenuhnya.

Qatar mempunyai posisi yang sangat strategis dalam persoalan tersebut karena menjadi tuan rumah Al Udeid Air Base, pusat penting operasi militer Amerika di Timur Tengah, sementara negara itu juga merupakan salah satu pemain utama dalam perdagangan gas alam cair dunia.

BACA JUGA:  OPEC Pangkas Ramalan Minyak Empat Kali, Perang Iran Membelah Peta Energi Dunia

Bagi Abdullah, pernyataan Qatar dan UEA karena itu lebih tepat dibaca sebagai alarm strategis daripada tanda bahwa Doha dan Abu Dhabi akan meninggalkan Amerika Serikat.

“Mereka mulai menyadari bahwa American security umbrella bukan cek kosong; Amerika akan melindungi kepentingannya sendiri terlebih dahulu, dan kepentingan negara-negara Teluk belum tentu selalu identik dengan kepentingan Washington,” ujarnya.

Dari Ketergantungan Menuju Otonomi Strategis

Perubahan tersebut mengarah pada apa yang dalam studi hubungan internasional dapat disebut sebagai strategic autonomy, yakni kemampuan sebuah negara mempertahankan kemitraan dengan kekuatan besar tetapi sekaligus memiliki kapasitas mengambil keputusan keamanan berdasarkan kepentingannya sendiri.

Dalam konteks Teluk, strategi itu tidak harus berarti menggantikan Amerika Serikat atau membentuk blok anti-Washington, melainkan memperkuat kemampuan pertahanan nasional, integrasi pertahanan udara dan rudal, keamanan maritim, intelijen, infrastruktur energi, serta mekanisme keamanan kolektif melalui Gulf Cooperation Council (GCC).

Al Ansari sendiri menekankan pentingnya memperkuat GCC dan membangun arsitektur keamanan regional yang lebih tangguh berdasarkan keamanan kolektif, diplomasi, dan keterikatan ekonomi antarnegara.

BACA JUGA:  Israel Gempur Basis Hizbullah di Beirut Selatan, Puluhan Roket Dibalas ke Israel Utara

Anwar Gargash menyampaikan pandangan serupa dengan mengatakan bahwa perang telah menunjukkan mengapa negara-negara Teluk perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi dirinya sendiri, meskipun kemitraan dengan Washington tetap penting.

“Keamanan kami adalah prioritas pertama kami, dan ketika kami sepenuhnya bergantung kepada pihak lain, kami tidak dapat selalu menganggap keamanan kami akan menjadi prioritas mereka,” kata Gargash.

Namun Abdullah menilai, persoalan keamanan Teluk tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengurangi ketergantungan terhadap Amerika karena Iran sebagai kekuatan besar di seberang Teluk juga harus mengubah cara membangun hubungan dengan negara-negara tetangganya.

SulawesiPos.com – Seruan Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) agar negara-negara Teluk membangun kemandirian pertahanan setelah perang Iran–Amerika Serikat dinilai sebagai tanda mulai runtuhnya mitos bahwa kehadiran militer Amerika Serikat selalu menjamin keamanan kawasan.

Pakar Timur Tengah dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., mengatakan hal tersebut saat dihubungi jurnalis SulawesiPos.com pada Rabu (9/9/2026).

Abdullah mengatakan, perubahan pemikiran strategis Qatar dan UEA harus dilihat dalam konteks pengalaman perang yang memperlihatkan bahwa keberadaan pangkalan, kapal perang, dan sistem pertahanan Amerika tidak dengan sendirinya membuat negara-negara Teluk terbebas dari risiko konflik.

“Perang Iran–Amerika Serikat sebenarnya sedang membongkar satu mitos lama di Teluk, bahwa semakin besar kehadiran militer Amerika, semakin aman kawasan,” kata Abdullah.

Menurutnya, ketika perang pecah, infrastruktur dan aset strategis Amerika di kawasan justru dapat memasukkan negara tempat aset tersebut berada ke dalam kalkulasi militer pihak yang berkonflik, sehingga konsep perlindungan eksternal sekaligus dapat menghasilkan kerentanan strategis baru.

BACA JUGA:  Rudal AS Hantam Dekat Rumah Sakit Anak Penderita Kanker di Ahvaz, Evakuasi Darurat Picu Kepanikan di Tengah Perang Iran–Amerika

Analisis Abdullah sejalan dengan pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Dr. Majed Al Ansari dan penasihat diplomatik Presiden UEA Anwar Gargash dalam Hili Forum di Abu Dhabi, 7 September 2026, yang sama-sama menegaskan bahwa kemitraan strategis dengan Washington tetap penting, tetapi tidak lagi cukup sebagai satu-satunya fondasi keamanan Teluk.

Negara-negara Teluk memperkuat kemandirian keamanan di tengah perang Iran–AS dan ketegangan Selat Hormuz

Euronews yang mempublikasikan laporan tersebut pada 8 September 2026 mencatat Al Ansari menyerukan penguatan kemampuan pertahanan negara-negara Teluk dan mengatakan bahwa ketergantungan penuh terhadap sekutu eksternal bukan lagi pilihan memadai setelah pengalaman perang mengguncang kawasan.

“Kemandirian dalam bidang keamanan adalah satu-satunya jalan ke depan,” kata Al Ansari, sembari menegaskan bahwa negara-negara Teluk masih membutuhkan mitra dan sekutu tetapi tidak dapat bergantung kepada mereka sepenuhnya.

Qatar mempunyai posisi yang sangat strategis dalam persoalan tersebut karena menjadi tuan rumah Al Udeid Air Base, pusat penting operasi militer Amerika di Timur Tengah, sementara negara itu juga merupakan salah satu pemain utama dalam perdagangan gas alam cair dunia.

BACA JUGA:  OPEC Pangkas Ramalan Minyak Empat Kali, Perang Iran Membelah Peta Energi Dunia

Bagi Abdullah, pernyataan Qatar dan UEA karena itu lebih tepat dibaca sebagai alarm strategis daripada tanda bahwa Doha dan Abu Dhabi akan meninggalkan Amerika Serikat.

“Mereka mulai menyadari bahwa American security umbrella bukan cek kosong; Amerika akan melindungi kepentingannya sendiri terlebih dahulu, dan kepentingan negara-negara Teluk belum tentu selalu identik dengan kepentingan Washington,” ujarnya.

Dari Ketergantungan Menuju Otonomi Strategis

Perubahan tersebut mengarah pada apa yang dalam studi hubungan internasional dapat disebut sebagai strategic autonomy, yakni kemampuan sebuah negara mempertahankan kemitraan dengan kekuatan besar tetapi sekaligus memiliki kapasitas mengambil keputusan keamanan berdasarkan kepentingannya sendiri.

Dalam konteks Teluk, strategi itu tidak harus berarti menggantikan Amerika Serikat atau membentuk blok anti-Washington, melainkan memperkuat kemampuan pertahanan nasional, integrasi pertahanan udara dan rudal, keamanan maritim, intelijen, infrastruktur energi, serta mekanisme keamanan kolektif melalui Gulf Cooperation Council (GCC).

Al Ansari sendiri menekankan pentingnya memperkuat GCC dan membangun arsitektur keamanan regional yang lebih tangguh berdasarkan keamanan kolektif, diplomasi, dan keterikatan ekonomi antarnegara.

BACA JUGA:  Perang AS–Iran Belum Lampaui Dampak Ekonomi Krisis Minyak Iran 1979

Anwar Gargash menyampaikan pandangan serupa dengan mengatakan bahwa perang telah menunjukkan mengapa negara-negara Teluk perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi dirinya sendiri, meskipun kemitraan dengan Washington tetap penting.

“Keamanan kami adalah prioritas pertama kami, dan ketika kami sepenuhnya bergantung kepada pihak lain, kami tidak dapat selalu menganggap keamanan kami akan menjadi prioritas mereka,” kata Gargash.

Namun Abdullah menilai, persoalan keamanan Teluk tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengurangi ketergantungan terhadap Amerika karena Iran sebagai kekuatan besar di seberang Teluk juga harus mengubah cara membangun hubungan dengan negara-negara tetangganya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru