Perang AS-Iran Retak di Teluk, Dosen HI Universitas Brawijaya: Bongkar Mitos Lama

Menurut Abdullah, kemampuan militer memang dapat menghasilkan daya gentar, tetapi legitimasi sebagai kekuatan regional memerlukan kemampuan memberikan rasa aman kepada negara lain, bukan semata-mata menunjukkan kapasitas melakukan serangan balasan.

“Jika Teheran ingin mengubah dirinya dari sekadar kekuatan yang mampu melakukan retaliation menjadi kekuatan regional yang legitimate, Iran harus menawarkan konsep keamanan yang membuat tetangganya merasa aman, bukan hanya membuat lawannya merasa gentar,” katanya.

Pandangan tersebut menemukan relevansinya pada pernyataan Gargash bahwa negara-negara Teluk tetap harus menemukan jalan untuk berhubungan dengan Iran karena “geografi tidak memberikan alternatif selain keterlibatan”, meskipun memulihkan kepercayaan setelah perang jauh lebih sulit dibandingkan memulihkan hubungan diplomatik yang bersifat fungsional.

“Kepercayaan adalah gunung yang harus kita daki,” kata Gargash menggambarkan beratnya rekonsiliasi Iran dengan negara-negara Arab Teluk.

Hormuz Berubah Menjadi Pusat Perebutan Daya Tawar

Ketegangan itu mencapai titik paling sensitif di Selat Hormuz karena jalur sempit antara Iran dan Semenanjung Arab tersebut merupakan salah satu koridor energi terpenting dunia.

Reuters pada 6 September 2026 melaporkan sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melewati Hormuz, sehingga setiap gangguan serius terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat dengan cepat berubah dari persoalan keamanan regional menjadi guncangan ekonomi global.

BACA JUGA:  Elemen Masyarakat Sipil Gelar Doa untuk Bangsa dan Dunia, Soroti Konflik Timur Tengah hingga Board of Peace

Abdullah melihat Hormuz bukan hanya sebagai jalur geografis, tetapi sebagai simbol persinggungan tiga kepentingan strategis: Washington ingin mempertahankan kebebasan navigasi dan pengaruh militernya, Iran ingin mempertahankan daya tawarnya sebagai kekuatan pesisir utama, sedangkan negara-negara Arab Teluk berkepentingan memastikan ekspor energi mereka tidak tergantung pada konflik dua kekuatan tersebut.

“Hormuz akhirnya menjadi simbol perebutan pengaruh itu; siapa yang mengendalikan keamanan Hormuz memiliki pengaruh besar terhadap energi dan ekonomi dunia, tetapi Hormuz tidak boleh menjadi sandera geopolitik siapa pun,” kata Abdullah.

Risiko tersebut semakin nyata karena Reuters pada 8 September 2026 melaporkan lalu lintas komoditas melalui Hormuz menurun tajam pada awal pekan setelah Iran mengancam membalas serangan baru Amerika Serikat, dengan hanya tujuh kapal komoditas tercatat melintasi jalur tersebut pada Senin.

Ketidakpastian itu juga telah merambat ke pasar energi karena minyak mentah Brent pada 8 September bergerak sekitar US$98,63 per barel, mendekati batas psikologis US$100, di tengah kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran–AS dan gangguan terhadap infrastruktur energi kawasan.

BACA JUGA:  Trump Peringatkan Iran, Graham Ancam Ambil Alih Hormuz: Kesepakatan Damai Masuki Fase Kritis

Dampaknya bahkan telah mencapai Asia ketika Korea Selatan mengirim tim ke UEA untuk menilai situasi keamanan Hormuz, sementara Seoul masih mempertimbangkan berbagai opsi untuk membantu menjamin kebebasan navigasi tanpa menyatakan keputusan final mengenai pengerahan militernya.

Ketergantungan global terhadap jalur tersebut menjelaskan mengapa keamanan Hormuz tidak semata-mata menyangkut Iran, Oman, Qatar, UEA, Arab Saudi atau Amerika Serikat, tetapi juga negara-negara Asia yang mengimpor energi untuk industri, pembangkit listrik, transportasi, dan kebutuhan masyarakatnya.

UEA Bangun Jalan Keluar dari “Jebakan Hormuz”

UEA telah merespons risiko itu secara konkret dengan memperbesar kapasitas pelabuhan di pantai timur serta mengembangkan jaringan pipa, kereta api dan koridor perdagangan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

“Ekspor energi kami tidak akan dijadikan sandera, demikian pula perdagangan dan kegiatan ekonomi kami,” kata Gargash.

Strategi diversifikasi jalur tersebut memperlihatkan bahwa konsep keamanan modern tidak lagi hanya berkaitan dengan jumlah pesawat tempur, rudal atau kapal perang, tetapi mencakup ketahanan pelabuhan, jalur energi, logistik, rantai pasokan, komunikasi, perdagangan dan kemampuan ekonomi bertahan ketika perang terjadi.

BACA JUGA:  Setelah Hormuz Dibuka, Amerika Serikat Bersiap Menekan Rusia Lebih Kuat

Perkembangan terbaru bahkan memperlihatkan perusahaan energi dan pelayaran mulai menggunakan mekanisme tidak lazim untuk mempertahankan arus perdagangan, termasuk pemindahan muatan LNG Qatar dan UEA antarkapal di luar Hormuz untuk kemudian meneruskan pengiriman menuju pasar seperti India dan Jepang.

Gangguan itu mempunyai konsekuensi ekonomi yang jauh melampaui Timur Tengah karena kenaikan biaya energi dan transportasi pada akhirnya dapat masuk ke harga barang, meningkatkan inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan memengaruhi kebijakan moneter berbagai negara.

Abdullah: Keamanan Teluk Harus Dibangun Negara-Negara Teluk

Abdullah melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari pertarungan yang lebih besar mengenai siapa yang berhak menentukan arsitektur keamanan Timur Tengah setelah sistem yang selama puluhan tahun sangat bergantung pada kekuatan eksternal mulai dipertanyakan.

Menurut Abdullah, kemampuan militer memang dapat menghasilkan daya gentar, tetapi legitimasi sebagai kekuatan regional memerlukan kemampuan memberikan rasa aman kepada negara lain, bukan semata-mata menunjukkan kapasitas melakukan serangan balasan.

“Jika Teheran ingin mengubah dirinya dari sekadar kekuatan yang mampu melakukan retaliation menjadi kekuatan regional yang legitimate, Iran harus menawarkan konsep keamanan yang membuat tetangganya merasa aman, bukan hanya membuat lawannya merasa gentar,” katanya.

Pandangan tersebut menemukan relevansinya pada pernyataan Gargash bahwa negara-negara Teluk tetap harus menemukan jalan untuk berhubungan dengan Iran karena “geografi tidak memberikan alternatif selain keterlibatan”, meskipun memulihkan kepercayaan setelah perang jauh lebih sulit dibandingkan memulihkan hubungan diplomatik yang bersifat fungsional.

“Kepercayaan adalah gunung yang harus kita daki,” kata Gargash menggambarkan beratnya rekonsiliasi Iran dengan negara-negara Arab Teluk.

Hormuz Berubah Menjadi Pusat Perebutan Daya Tawar

Ketegangan itu mencapai titik paling sensitif di Selat Hormuz karena jalur sempit antara Iran dan Semenanjung Arab tersebut merupakan salah satu koridor energi terpenting dunia.

Reuters pada 6 September 2026 melaporkan sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melewati Hormuz, sehingga setiap gangguan serius terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat dengan cepat berubah dari persoalan keamanan regional menjadi guncangan ekonomi global.

BACA JUGA:  Trump Peringatkan Iran, Graham Ancam Ambil Alih Hormuz: Kesepakatan Damai Masuki Fase Kritis

Abdullah melihat Hormuz bukan hanya sebagai jalur geografis, tetapi sebagai simbol persinggungan tiga kepentingan strategis: Washington ingin mempertahankan kebebasan navigasi dan pengaruh militernya, Iran ingin mempertahankan daya tawarnya sebagai kekuatan pesisir utama, sedangkan negara-negara Arab Teluk berkepentingan memastikan ekspor energi mereka tidak tergantung pada konflik dua kekuatan tersebut.

“Hormuz akhirnya menjadi simbol perebutan pengaruh itu; siapa yang mengendalikan keamanan Hormuz memiliki pengaruh besar terhadap energi dan ekonomi dunia, tetapi Hormuz tidak boleh menjadi sandera geopolitik siapa pun,” kata Abdullah.

Risiko tersebut semakin nyata karena Reuters pada 8 September 2026 melaporkan lalu lintas komoditas melalui Hormuz menurun tajam pada awal pekan setelah Iran mengancam membalas serangan baru Amerika Serikat, dengan hanya tujuh kapal komoditas tercatat melintasi jalur tersebut pada Senin.

Ketidakpastian itu juga telah merambat ke pasar energi karena minyak mentah Brent pada 8 September bergerak sekitar US$98,63 per barel, mendekati batas psikologis US$100, di tengah kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran–AS dan gangguan terhadap infrastruktur energi kawasan.

BACA JUGA:  Elemen Masyarakat Sipil Gelar Doa untuk Bangsa dan Dunia, Soroti Konflik Timur Tengah hingga Board of Peace

Dampaknya bahkan telah mencapai Asia ketika Korea Selatan mengirim tim ke UEA untuk menilai situasi keamanan Hormuz, sementara Seoul masih mempertimbangkan berbagai opsi untuk membantu menjamin kebebasan navigasi tanpa menyatakan keputusan final mengenai pengerahan militernya.

Ketergantungan global terhadap jalur tersebut menjelaskan mengapa keamanan Hormuz tidak semata-mata menyangkut Iran, Oman, Qatar, UEA, Arab Saudi atau Amerika Serikat, tetapi juga negara-negara Asia yang mengimpor energi untuk industri, pembangkit listrik, transportasi, dan kebutuhan masyarakatnya.

UEA Bangun Jalan Keluar dari “Jebakan Hormuz”

UEA telah merespons risiko itu secara konkret dengan memperbesar kapasitas pelabuhan di pantai timur serta mengembangkan jaringan pipa, kereta api dan koridor perdagangan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

“Ekspor energi kami tidak akan dijadikan sandera, demikian pula perdagangan dan kegiatan ekonomi kami,” kata Gargash.

Strategi diversifikasi jalur tersebut memperlihatkan bahwa konsep keamanan modern tidak lagi hanya berkaitan dengan jumlah pesawat tempur, rudal atau kapal perang, tetapi mencakup ketahanan pelabuhan, jalur energi, logistik, rantai pasokan, komunikasi, perdagangan dan kemampuan ekonomi bertahan ketika perang terjadi.

BACA JUGA:  Serangan Iran Putus “Urat Nadi” Armada AS, Abraham Lincoln Dilanda Krisis Logistik

Perkembangan terbaru bahkan memperlihatkan perusahaan energi dan pelayaran mulai menggunakan mekanisme tidak lazim untuk mempertahankan arus perdagangan, termasuk pemindahan muatan LNG Qatar dan UEA antarkapal di luar Hormuz untuk kemudian meneruskan pengiriman menuju pasar seperti India dan Jepang.

Gangguan itu mempunyai konsekuensi ekonomi yang jauh melampaui Timur Tengah karena kenaikan biaya energi dan transportasi pada akhirnya dapat masuk ke harga barang, meningkatkan inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan memengaruhi kebijakan moneter berbagai negara.

Abdullah: Keamanan Teluk Harus Dibangun Negara-Negara Teluk

Abdullah melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari pertarungan yang lebih besar mengenai siapa yang berhak menentukan arsitektur keamanan Timur Tengah setelah sistem yang selama puluhan tahun sangat bergantung pada kekuatan eksternal mulai dipertanyakan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru