Dulu Wakil Ketua Osis, Kini Ingatan Febiola Disebut Turun 70 Persen Usai Santap MBG

Perubahan itu menjadi pukulan bagi keluarga karena Febiola sebelumnya aktif di sekolah dan memiliki prestasi akademik.

Selain gangguan ingatan, Febiola juga mengalami kesulitan berbicara. Elvinus mengatakan terdapat perubahan pada bagian lidah yang membuat putrinya kesulitan berkomunikasi.

“Lidahnya agak masuk ke dalam. Sampai ngomong pun dia agak sulit,” katanya.

Hampir satu bulan setelah kejadian, keluarga menyebut hasil pemeriksaan medis yang dilakukan terhadap Febiola belum mereka terima.

Indikasi medis sementara yang disampaikan keluarga menduga adanya keterpaparan racun jamur atau toksin bakteri yang menyerang sistem saraf pusat.

Namun, penyebab pasti kondisi Febiola masih menunggu hasil pemeriksaan medis lebih lanjut.

Pemulihan Diperkirakan Panjang

Febiola kini masih membutuhkan penanganan dan pemulihan yang tidak singkat. Keluarga menyebut proses pemulihan saraf diproyeksikan dapat berlangsung hingga sekitar satu tahun dan membutuhkan rawat jalan serta terapi medis rutin.

Kondisi tersebut turut memengaruhi kehidupan ekonomi keluarga. Kedua orang tua Febiola disebut menghentikan sementara aktivitas mencari nafkah untuk memberikan pendampingan selama masa perawatan.

BACA JUGA:  Siswa Pulau Kalukulukuang Belum Dapat MBG, Tamsil Linrung Minta Wilayah 3T Tak Diabaikan

Kebutuhan nutrisi dan pengobatan juga harus dipenuhi secara rutin. Keluarga membeli susu khusus dua kali dalam sepekan dengan harga sekitar Rp180.000 setiap pembelian. Makanan dan vitamin yang dikonsumsi Febiola juga disesuaikan dengan anjuran dokter.

Kasus Febiola menjadi bagian dari rangkaian laporan gangguan kesehatan yang dialami siswa setelah mengonsumsi makanan MBG di Sumatera Utara.

Jumlah siswa yang dilaporkan menjadi korban disebut mencapai 823 anak, dengan Kabupaten Karo menyumbang 389 kasus.

Meski demikian, kondisi medis Febiola dan kaitannya dengan makanan yang dikonsumsi masih memerlukan kepastian berdasarkan hasil pemeriksaan medis.

Perubahan itu menjadi pukulan bagi keluarga karena Febiola sebelumnya aktif di sekolah dan memiliki prestasi akademik.

Selain gangguan ingatan, Febiola juga mengalami kesulitan berbicara. Elvinus mengatakan terdapat perubahan pada bagian lidah yang membuat putrinya kesulitan berkomunikasi.

“Lidahnya agak masuk ke dalam. Sampai ngomong pun dia agak sulit,” katanya.

Hampir satu bulan setelah kejadian, keluarga menyebut hasil pemeriksaan medis yang dilakukan terhadap Febiola belum mereka terima.

Indikasi medis sementara yang disampaikan keluarga menduga adanya keterpaparan racun jamur atau toksin bakteri yang menyerang sistem saraf pusat.

Namun, penyebab pasti kondisi Febiola masih menunggu hasil pemeriksaan medis lebih lanjut.

Pemulihan Diperkirakan Panjang

Febiola kini masih membutuhkan penanganan dan pemulihan yang tidak singkat. Keluarga menyebut proses pemulihan saraf diproyeksikan dapat berlangsung hingga sekitar satu tahun dan membutuhkan rawat jalan serta terapi medis rutin.

Kondisi tersebut turut memengaruhi kehidupan ekonomi keluarga. Kedua orang tua Febiola disebut menghentikan sementara aktivitas mencari nafkah untuk memberikan pendampingan selama masa perawatan.

BACA JUGA:  Luhut Minta BGN Alihkan 1.700 SPPG MBG ke Wilayah 3T

Kebutuhan nutrisi dan pengobatan juga harus dipenuhi secara rutin. Keluarga membeli susu khusus dua kali dalam sepekan dengan harga sekitar Rp180.000 setiap pembelian. Makanan dan vitamin yang dikonsumsi Febiola juga disesuaikan dengan anjuran dokter.

Kasus Febiola menjadi bagian dari rangkaian laporan gangguan kesehatan yang dialami siswa setelah mengonsumsi makanan MBG di Sumatera Utara.

Jumlah siswa yang dilaporkan menjadi korban disebut mencapai 823 anak, dengan Kabupaten Karo menyumbang 389 kasus.

Meski demikian, kondisi medis Febiola dan kaitannya dengan makanan yang dikonsumsi masih memerlukan kepastian berdasarkan hasil pemeriksaan medis.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru