Perubahan itu menjadi pukulan bagi keluarga karena Febiola sebelumnya aktif di sekolah dan memiliki prestasi akademik.
Selain gangguan ingatan, Febiola juga mengalami kesulitan berbicara. Elvinus mengatakan terdapat perubahan pada bagian lidah yang membuat putrinya kesulitan berkomunikasi.
“Lidahnya agak masuk ke dalam. Sampai ngomong pun dia agak sulit,” katanya.
Hampir satu bulan setelah kejadian, keluarga menyebut hasil pemeriksaan medis yang dilakukan terhadap Febiola belum mereka terima.
Indikasi medis sementara yang disampaikan keluarga menduga adanya keterpaparan racun jamur atau toksin bakteri yang menyerang sistem saraf pusat.
Namun, penyebab pasti kondisi Febiola masih menunggu hasil pemeriksaan medis lebih lanjut.
Pemulihan Diperkirakan Panjang
Febiola kini masih membutuhkan penanganan dan pemulihan yang tidak singkat. Keluarga menyebut proses pemulihan saraf diproyeksikan dapat berlangsung hingga sekitar satu tahun dan membutuhkan rawat jalan serta terapi medis rutin.
Kondisi tersebut turut memengaruhi kehidupan ekonomi keluarga. Kedua orang tua Febiola disebut menghentikan sementara aktivitas mencari nafkah untuk memberikan pendampingan selama masa perawatan.
Kebutuhan nutrisi dan pengobatan juga harus dipenuhi secara rutin. Keluarga membeli susu khusus dua kali dalam sepekan dengan harga sekitar Rp180.000 setiap pembelian. Makanan dan vitamin yang dikonsumsi Febiola juga disesuaikan dengan anjuran dokter.
Kasus Febiola menjadi bagian dari rangkaian laporan gangguan kesehatan yang dialami siswa setelah mengonsumsi makanan MBG di Sumatera Utara.
Jumlah siswa yang dilaporkan menjadi korban disebut mencapai 823 anak, dengan Kabupaten Karo menyumbang 389 kasus.
Meski demikian, kondisi medis Febiola dan kaitannya dengan makanan yang dikonsumsi masih memerlukan kepastian berdasarkan hasil pemeriksaan medis.

