Utang Amerika Serikat Tembus 40 Triliun Dolar, Bunga Menggerogoti Anggaran hingga Mengguncang Pasar Dunia

Namun, terlampauinya angka 40 triliun dolar tidak berarti Amerika langsung bangkrut karena pemerintah masih mempunyai kapasitas perpajakan yang besar, pasar obligasi yang sangat dalam, dan dolar yang berstatus mata uang cadangan utama dunia.

Risiko sebenarnya muncul apabila utang tumbuh terus-menerus lebih cepat daripada perekonomian, pembayaran bunga mengambil bagian semakin besar dari penerimaan negara, dan perselisihan politik menghambat keputusan fiskal sebelum kepercayaan investor memburuk.

Amerika pernah memiliki rasio utang sangat tinggi seusai Perang Dunia II, tetapi rasio itu kemudian turun karena pertumbuhan ekonomi yang kuat, disiplin fiskal, inflasi, dan berakhirnya kebutuhan belanja perang, sedangkan kondisi saat ini ditandai program permanen serta populasi yang menua.

Persoalan Politik yang Tak Kunjung Diselesaikan

Kelompok Republik cenderung mengusulkan pengendalian belanja dan program tunjangan, sedangkan Demokrat lebih banyak mendorong peningkatan pajak terhadap warga kaya dan perusahaan, tetapi tidak satu pun pendekatan dapat menstabilkan utang apabila dijalankan secara parsial.

BACA JUGA:  Trump Ultimatum China dan Rusia: Jangan Persenjatai Iran atau Hadapi Konsekuensi Berat

Ketua Komite Anggaran DPR AS Jodey Arrington menyerukan amendemen konstitusi mengenai anggaran berimbang karena menilai utang nasional telah menggadaikan masa depan generasi mendatang untuk membayar janji belanja hari ini.

Para pengawas anggaran menegaskan bahwa solusi teknis sebenarnya telah diketahui, yakni memadukan peningkatan pendapatan, evaluasi pengeluaran, reformasi Jaminan Sosial serta layanan kesehatan, dan perlindungan investasi publik yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Pilihan tersebut tetap sulit secara politik karena kenaikan pajak tidak populer, sedangkan pemotongan Jaminan Sosial, Medicare, Medicaid, pertahanan, atau bantuan masyarakat langsung menyentuh kepentingan jutaan warga.

Karena itu, tonggak 40 triliun dolar harus dipahami bukan sebagai hari kebangkrutan Amerika, melainkan alarm ilmiah bahwa negara adidaya tersebut sedang kehilangan ruang fiskal dan menghadapi biaya yang semakin mahal untuk mempertahankan janji ekonominya.

Tanpa kesepakatan lintas partai yang menyeimbangkan penerimaan dengan pengeluaran, Amerika berisiko memasuki lingkaran utang ketika defisit melahirkan pinjaman baru, pinjaman memperbesar bunga, dan bunga kembali memperlebar defisit. (Ali)

BACA JUGA:  Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS Mundur dari Jabatan, Kritik Perang Iran dalam Pernyataan di Platform X

Namun, terlampauinya angka 40 triliun dolar tidak berarti Amerika langsung bangkrut karena pemerintah masih mempunyai kapasitas perpajakan yang besar, pasar obligasi yang sangat dalam, dan dolar yang berstatus mata uang cadangan utama dunia.

Risiko sebenarnya muncul apabila utang tumbuh terus-menerus lebih cepat daripada perekonomian, pembayaran bunga mengambil bagian semakin besar dari penerimaan negara, dan perselisihan politik menghambat keputusan fiskal sebelum kepercayaan investor memburuk.

Amerika pernah memiliki rasio utang sangat tinggi seusai Perang Dunia II, tetapi rasio itu kemudian turun karena pertumbuhan ekonomi yang kuat, disiplin fiskal, inflasi, dan berakhirnya kebutuhan belanja perang, sedangkan kondisi saat ini ditandai program permanen serta populasi yang menua.

Persoalan Politik yang Tak Kunjung Diselesaikan

Kelompok Republik cenderung mengusulkan pengendalian belanja dan program tunjangan, sedangkan Demokrat lebih banyak mendorong peningkatan pajak terhadap warga kaya dan perusahaan, tetapi tidak satu pun pendekatan dapat menstabilkan utang apabila dijalankan secara parsial.

BACA JUGA:  22 Negara Siap Amankan Selat Hormuz, NATO Jawab Kritik Trump di Tengah Konflik Iran

Ketua Komite Anggaran DPR AS Jodey Arrington menyerukan amendemen konstitusi mengenai anggaran berimbang karena menilai utang nasional telah menggadaikan masa depan generasi mendatang untuk membayar janji belanja hari ini.

Para pengawas anggaran menegaskan bahwa solusi teknis sebenarnya telah diketahui, yakni memadukan peningkatan pendapatan, evaluasi pengeluaran, reformasi Jaminan Sosial serta layanan kesehatan, dan perlindungan investasi publik yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Pilihan tersebut tetap sulit secara politik karena kenaikan pajak tidak populer, sedangkan pemotongan Jaminan Sosial, Medicare, Medicaid, pertahanan, atau bantuan masyarakat langsung menyentuh kepentingan jutaan warga.

Karena itu, tonggak 40 triliun dolar harus dipahami bukan sebagai hari kebangkrutan Amerika, melainkan alarm ilmiah bahwa negara adidaya tersebut sedang kehilangan ruang fiskal dan menghadapi biaya yang semakin mahal untuk mempertahankan janji ekonominya.

Tanpa kesepakatan lintas partai yang menyeimbangkan penerimaan dengan pengeluaran, Amerika berisiko memasuki lingkaran utang ketika defisit melahirkan pinjaman baru, pinjaman memperbesar bunga, dan bunga kembali memperlebar defisit. (Ali)

BACA JUGA:  Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Iran, Trump: Putra Khamenei Tidak Bisa Saya Terima!

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru