Peringatan seabad Fidel Castro sekaligus memperlihatkan bahwa pertarungan antara Washington dan Havana bukan sekadar sengketa ekonomi, melainkan benturan panjang mengenai kedaulatan, keamanan, sosialisme, hak asasi manusia, dan pengaruh geopolitik di Amerika Latin.
Castro, yang lahir pada 13 Agustus 1926 dan meninggal pada 25 November 2016, memimpin transformasi Kuba setelah kejatuhan pemerintahan Fulgencio Batista pada 1959 serta menjadikan pulau tersebut sekutu penting Uni Soviet di Belahan Barat selama Perang Dingin.
Di tengah mengerasnya retorika Rusia dan Amerika Serikat, perlindungan penduduk sipil, akses terhadap pangan, obat-obatan, listrik, serta ruang diplomasi tetap menjadi ukuran terpenting agar persaingan geopolitik tidak mengorbankan hak dasar rakyat Kuba. (Ali)

