Pihak UNDIP menyebut Adriano sebagai mahasiswa baru Prodi S1 Hubungan Internasional FISIP yang tampil menyampaikan aspirasi soal kesulitan distribusi pangan di Alor di hadapan Menteri Pertanian.
Menurut keterangan Semuel Padama, pilihan kuliah di UNDIP juga datang dari keputusan Adriano sendiri.
Ia disebut mencari informasi pendaftaran secara mandiri, mengikuti proses seleksi, lalu memberi tahu keluarga setelah dinyatakan diterima.
“Dia kemauan sendiri. Waktu daftar pun tanpa sepengetahuan kita orang tua,” kata Semuel Padama.
Semuel mengaku awalnya sempat memiliki harapan lain. Ia ingin Adriano mempertimbangkan sekolah kedinasan karena dinilai memberi jalur masa depan yang lebih pasti.
Namun keputusan itu tidak dipaksakan kepada anaknya.
“Tidak apa-apa, kita mengikuti kemauan dia saja,” ujar Semuel.
Pilihan Adriano ke Hubungan Internasional kemudian dinilai sejalan dengan minatnya pada isu sosial.
Ayahnya menyebut Adriano terbiasa membaca, belajar mandiri, dan memikirkan persoalan di sekitarnya, bukan sekadar melihat masalah.
“Dia tipe orang yang melihat problem sosial. Dia harus berpikir bagaimana solusinya,” kata Semuel.
Kebiasaan itu, menurut Semuel, tumbuh dari lingkungan rumah yang terbuka untuk diskusi.
Adriano juga disebut kerap berdiskusi dengan bapak besarnya, Richard Padama, sejak masih kecil.
Viral karena Membawa Masalah Alor ke Forum Kampus
Nama Adriano meluas setelah ia mengeluhkan tingginya harga beras di Alor saat sesi dialog mahasiswa dengan Mentan Amran pada 6 Agustus 2026.
Dalam forum itu, ia menjelaskan kebutuhan beras di Alor tinggi, sementara kemampuan produksi lokal hanya sekitar 10 persen, sehingga harga di pedalaman bisa melonjak jauh lebih mahal saat distribusi terganggu cuaca.
Pernyataan itu langsung mendapat respons di tempat. Menteri Pertanian saat itu menghubungi jajaran terkait untuk menindaklanjuti distribusi pangan ke Alor dan menjanjikan dukungan bagi kebutuhan tempat tinggal Adriano selama kuliah.
Di rumah, respons ayah Adriano semula campur aduk antara bangga dan khawatir karena sang anak membawa angka dan data ke hadapan pejabat negara.
Namun setelah mencocokkan kembali kondisi lapangan, Semuel menyebut data yang dibawa Adriano sesuai dengan kenyataan yang dirasakan warga.
“Saya khawatir, jangan sampai anak saya asal bicara. Data juga harus data yang konkret,” kata Semuel.
Setelah mengecek ulang, kekhawatiran itu berubah menjadi keyakinan.
“Dia bicara dengan lantang, dengan berani, dengan jujur, dengan polos, dan dengan data,” ujar Semuel.
Profil Adriano Padama pada akhirnya bukan hanya dibaca dari momen viralnya, melainkan juga dari jejak pendidikan yang membawanya dari SMP Negeri 1 Kalabahi, lalu SMA Negeri 1 Kalabahi, hingga menjadi mahasiswa baru Hubungan Internasional di UNDIP Semarang pada tahun akademik 2026/2027.

