Panitia juga menyelenggarakan kegiatan kebudayaan dan kunjungan ke sejumlah tempat bersejarah di Makkah dan Madinah agar perjalanan peserta tidak berhenti sebagai perlombaan, tetapi berkembang menjadi pengalaman spiritual, pendidikan, dan perjumpaan lintas budaya.
Pertemuan 334 peserta dari 133 negara memperlihatkan bahwa tradisi hafalan Al-Qur’an tetap hidup melintasi perbedaan bahasa, bangsa, dan sistem pendidikan, karena teks berbahasa Arab yang sama dapat dipelajari dan diwariskan dari Afrika hingga Asia, Eropa, Amerika, dan kawasan Pasifik.
Musabaqah ini juga menunjukkan perkembangan pesat partisipasi global, dari 174 peserta asal 123 negara pada edisi ke-44 tahun 2024, menjadi 179 peserta asal 128 negara pada edisi ke-45 tahun 2025, lalu melonjak menjadi 334 peserta asal 133 negara pada 2026.
Pada edisi ke-45, Mohammad Adam Mohamed dari Chad meraih peringkat pertama, disusul Anas bin Majid Abdulla Al-Hazmi dari Arab Saudi pada posisi kedua dan Sanusi Bukhari Idrees dari Nigeria pada peringkat ketiga.
Lebih daripada perebutan hadiah, kompetisi Raja Abdulaziz menjadi ruang untuk mempertemukan generasi muda Muslim dunia dalam tradisi keilmuan yang menggabungkan ketepatan hafalan, keindahan bacaan, pemahaman makna, disiplin belajar, dan tanggung jawab moral dalam mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an. (Ali)

