Arab Saudi Luncurkan Master Plan Raksasa 456 Km², Ibu Kota Baru Dunia Sedang Dibangun

SulawesiPos.com – Pemerintah Arab Saudi melalui Royal Commission for Riyadh City (RCRC) merampungkan Master Plan Riyadh Timur Laut seluas 456 kilometer persegi pada Senin (27/7/2026). Kawasan ini mencakup Bandara Internasional King Khalid, Lembah Al-Sulai, Jalan Dammam, dan Jalan Al-Janadriyah.

Rencana induk ini menjadi cetak biru pengembangan jangka panjang untuk mengakomodasi pertumbuhan penduduk, ekonomi, dan urbanisasi serta mempercepat transformasi Riyadh menjadi kota global sesuai Saudi Vision 2030, sebagaimana dilaporkan Saudi Press Agency (SPA) pada 27 Juli 2026.

Master plan tersebut menjadi fondasi utama pengembangan koridor pertumbuhan baru Riyadh dengan menata pemanfaatan lahan secara menyeluruh berdasarkan prinsip pembangunan kota yang berkelanjutan.

Dokumen perencanaan itu dirancang untuk memungkinkan ekspansi kota dilakukan secara bertahap sehingga pertumbuhan wilayah tetap terkendali, efisien, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Setiap kawasan akan dikembangkan sebagai komunitas terpadu yang menggabungkan permukiman, pusat layanan publik, fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, serta berbagai kebutuhan sehari-hari dalam satu sistem perkotaan yang saling terhubung.

BACA JUGA:  Trump Restui Pengayaan Uranium Arab Saudi, Peta Nuklir Kawasan Asia Barat Memasuki Babak Baru yang Mengguncang Dunia

Pemerintah juga menetapkan distribusi yang seimbang antara kawasan hunian, pusat ekonomi, ruang rekreasi, dan kawasan konservasi alam agar pembangunan tidak mengorbankan kualitas lingkungan.

Kota Masa Depan Berbasis Lingkungan dan Kualitas Hidup

Master plan Riyadh Timur Laut memberikan perhatian besar pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui perluasan ruang terbuka hijau, pelestarian lembah-lembah alami, serta pembangunan jaringan kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan transportasi modern.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tren global pembangunan perkotaan yang menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai salah satu indikator utama daya saing sebuah kota.

Riyadh dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang sangat cepat sebagai pusat pemerintahan, investasi, teknologi, industri, dan jasa sehingga membutuhkan kawasan pengembangan baru yang mampu mengantisipasi kebutuhan beberapa dekade mendatang.

Pengembangan koridor baru ini juga diproyeksikan memperkuat konektivitas ibu kota dengan infrastruktur strategis nasional, termasuk jaringan transportasi regional dan kawasan logistik internasional.

Chief Executive Officer Royal Commission for Riyadh City, Eng. Ibrahim Mohammed Al-Sultan, menyampaikan apresiasi kepada Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud serta Putra Mahkota Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud atas dukungan berkelanjutan terhadap transformasi Riyadh.

BACA JUGA:  Situasi Timur Tengah Memanas, Pemerintah Imbau Jamaah Tunda Umrah

SulawesiPos.com – Pemerintah Arab Saudi melalui Royal Commission for Riyadh City (RCRC) merampungkan Master Plan Riyadh Timur Laut seluas 456 kilometer persegi pada Senin (27/7/2026). Kawasan ini mencakup Bandara Internasional King Khalid, Lembah Al-Sulai, Jalan Dammam, dan Jalan Al-Janadriyah.

Rencana induk ini menjadi cetak biru pengembangan jangka panjang untuk mengakomodasi pertumbuhan penduduk, ekonomi, dan urbanisasi serta mempercepat transformasi Riyadh menjadi kota global sesuai Saudi Vision 2030, sebagaimana dilaporkan Saudi Press Agency (SPA) pada 27 Juli 2026.

Master plan tersebut menjadi fondasi utama pengembangan koridor pertumbuhan baru Riyadh dengan menata pemanfaatan lahan secara menyeluruh berdasarkan prinsip pembangunan kota yang berkelanjutan.

Dokumen perencanaan itu dirancang untuk memungkinkan ekspansi kota dilakukan secara bertahap sehingga pertumbuhan wilayah tetap terkendali, efisien, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Setiap kawasan akan dikembangkan sebagai komunitas terpadu yang menggabungkan permukiman, pusat layanan publik, fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, serta berbagai kebutuhan sehari-hari dalam satu sistem perkotaan yang saling terhubung.

BACA JUGA:  Situasi Timur Tengah Memanas, Pemerintah Imbau Jamaah Tunda Umrah

Pemerintah juga menetapkan distribusi yang seimbang antara kawasan hunian, pusat ekonomi, ruang rekreasi, dan kawasan konservasi alam agar pembangunan tidak mengorbankan kualitas lingkungan.

Kota Masa Depan Berbasis Lingkungan dan Kualitas Hidup

Master plan Riyadh Timur Laut memberikan perhatian besar pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui perluasan ruang terbuka hijau, pelestarian lembah-lembah alami, serta pembangunan jaringan kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan transportasi modern.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tren global pembangunan perkotaan yang menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai salah satu indikator utama daya saing sebuah kota.

Riyadh dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang sangat cepat sebagai pusat pemerintahan, investasi, teknologi, industri, dan jasa sehingga membutuhkan kawasan pengembangan baru yang mampu mengantisipasi kebutuhan beberapa dekade mendatang.

Pengembangan koridor baru ini juga diproyeksikan memperkuat konektivitas ibu kota dengan infrastruktur strategis nasional, termasuk jaringan transportasi regional dan kawasan logistik internasional.

Chief Executive Officer Royal Commission for Riyadh City, Eng. Ibrahim Mohammed Al-Sultan, menyampaikan apresiasi kepada Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud serta Putra Mahkota Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud atas dukungan berkelanjutan terhadap transformasi Riyadh.

BACA JUGA:  Arab Saudi 2026 Raih Penghargaan Tertinggi PBB, Ustadz Das'ad Latif: Teknologi Harus Melayani Kemanusiaan

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru