Ia membela tim utama AC Milan selama dua dekade dan menjadi wajah dari era keemasan klub, termasuk saat Rossoneri mengoleksi gelar Serie A, Piala Champions Eropa, dan trofi-trofi domestik lainnya.
Setelah pensiun, namanya tetap melekat di struktur klub dan identitas Milan modern.
Karena itu, penghormatan terakhir di Basilika Sant’Ambrogio tak sekadar menjadi upacara duka biasa.
Banyak suporter melihatnya sebagai perpisahan dengan figur yang mewakili loyalitas, kepemimpinan, dan garis merah-hitam yang sangat khas di San Siro.
Nomor 6 yang tergantung di antara kerumunan menjadi bahasa visual paling kuat dari momen tersebut.
Duka Milan Melampaui Lapangan
Pemerintah kota Milan ikut memberi ruang khusus bagi penghormatan publik ini dengan menetapkan hari berkabung sipil bertepatan dengan pemakaman.
Langkah itu memperlihatkan bahwa kehilangan Baresi tak dipandang semata sebagai kabar sepak bola, melainkan juga sebagai duka kota yang tumbuh bersama salah satu ikon terbesarnya.
Bagi publik sepak bola, pemandangan lautan jersey nomor 6, spanduk Ciao Capitano, dan ribuan pelayat di luar basilika menjadi penanda terakhir betapa besar jejak Franco Baresi.
Di Milan, perpisahan itu tidak hanya mengantar seorang legenda, tetapi juga merawat warisan seorang kapten yang bagi banyak orang tak tergantikan.

