Lautan Jersey Nomor 6 Iringi Pemakaman Franco Baresi di Milan, Curva Sud Bentangkan Ciao Capitano

SulawesiPos.com – Pemakaman Franco Baresi di Basilika Sant’Ambrogio, Milan, pada Selasa, 4 Agustus 2026, berubah menjadi penghormatan raksasa dari pendukung AC Milan.

Curva Sud membentangkan spanduk besar bertuliskan Ciao Capitano dan mengangkat jersey merah-hitam bernomor 6 saat mengantar kapten legendaris Rossoneri itu ke peristirahatan terakhir.

Franco Baresi wafat pada Jumat, 31 Juli 2026, dalam usia 66 tahun.

AC Milan mengumumkan kabar duka itu lewat pernyataan resmi klub, sementara laporan ANSA menyebut penyebab kematian tidak dijelaskan secara terbuka oleh keluarga maupun klub.

Kota Milan kemudian menetapkan hari berkabung sipil saat prosesi pemakaman digelar.

Suasana di sekitar basilika dipenuhi ribuan pelayat sejak pagi.

Sejumlah rekaman dan foto dari lokasi menunjukkan pagar-pagar di sekitar gereja dipenuhi jersey nomor 6, nomor yang identik dengan Baresi sepanjang kariernya di AC Milan.

Penghormatan itu menjadi simbol kuat relasi satu klub yang nyaris tak terputus antara Baresi, Rossoneri, dan basis suporter Curva Sud.

BACA JUGA:  Inter Pesta Gol! Hajar AS Roma 5-2, Lautaro Martinez Brace di Giuseppe Meazza

Laporan dari Milan juga memperlihatkan kehadiran banyak tokoh sepak bola dalam prosesi tersebut.

Sejumlah legenda dan mantan rekan setim datang memberi penghormatan langsung, menegaskan besarnya posisi Baresi bukan hanya di AC Milan, tetapi juga dalam sejarah sepak bola Italia.

Penghormatan untuk Kapten yang Jadi Simbol Satu Klub

Baresi dikenal luas sebagai one-club man sejati.

Ia membela tim utama AC Milan selama dua dekade dan menjadi wajah dari era keemasan klub, termasuk saat Rossoneri mengoleksi gelar Serie A, Piala Champions Eropa, dan trofi-trofi domestik lainnya.

Setelah pensiun, namanya tetap melekat di struktur klub dan identitas Milan modern.

Karena itu, penghormatan terakhir di Basilika Sant’Ambrogio tak sekadar menjadi upacara duka biasa.

Banyak suporter melihatnya sebagai perpisahan dengan figur yang mewakili loyalitas, kepemimpinan, dan garis merah-hitam yang sangat khas di San Siro.

Nomor 6 yang tergantung di antara kerumunan menjadi bahasa visual paling kuat dari momen tersebut.

BACA JUGA:  Como 1907 Milik Hartono Bersaudara Jadi Sensasi Serie A, Tampil Atraktif dan Banjir Pujian

Duka Milan Melampaui Lapangan

Pemerintah kota Milan ikut memberi ruang khusus bagi penghormatan publik ini dengan menetapkan hari berkabung sipil bertepatan dengan pemakaman.

Langkah itu memperlihatkan bahwa kehilangan Baresi tak dipandang semata sebagai kabar sepak bola, melainkan juga sebagai duka kota yang tumbuh bersama salah satu ikon terbesarnya.

Bagi publik sepak bola, pemandangan lautan jersey nomor 6, spanduk Ciao Capitano, dan ribuan pelayat di luar basilika menjadi penanda terakhir betapa besar jejak Franco Baresi.

Di Milan, perpisahan itu tidak hanya mengantar seorang legenda, tetapi juga merawat warisan seorang kapten yang bagi banyak orang tak tergantikan.

SulawesiPos.com – Pemakaman Franco Baresi di Basilika Sant’Ambrogio, Milan, pada Selasa, 4 Agustus 2026, berubah menjadi penghormatan raksasa dari pendukung AC Milan.

Curva Sud membentangkan spanduk besar bertuliskan Ciao Capitano dan mengangkat jersey merah-hitam bernomor 6 saat mengantar kapten legendaris Rossoneri itu ke peristirahatan terakhir.

Franco Baresi wafat pada Jumat, 31 Juli 2026, dalam usia 66 tahun.

AC Milan mengumumkan kabar duka itu lewat pernyataan resmi klub, sementara laporan ANSA menyebut penyebab kematian tidak dijelaskan secara terbuka oleh keluarga maupun klub.

Kota Milan kemudian menetapkan hari berkabung sipil saat prosesi pemakaman digelar.

Suasana di sekitar basilika dipenuhi ribuan pelayat sejak pagi.

Sejumlah rekaman dan foto dari lokasi menunjukkan pagar-pagar di sekitar gereja dipenuhi jersey nomor 6, nomor yang identik dengan Baresi sepanjang kariernya di AC Milan.

Penghormatan itu menjadi simbol kuat relasi satu klub yang nyaris tak terputus antara Baresi, Rossoneri, dan basis suporter Curva Sud.

BACA JUGA:  AC Milan Tumbang Dramatis dari Atalanta, San Siro Membara dan Tiket Liga Champions Kian Menjauh

Laporan dari Milan juga memperlihatkan kehadiran banyak tokoh sepak bola dalam prosesi tersebut.

Sejumlah legenda dan mantan rekan setim datang memberi penghormatan langsung, menegaskan besarnya posisi Baresi bukan hanya di AC Milan, tetapi juga dalam sejarah sepak bola Italia.

Penghormatan untuk Kapten yang Jadi Simbol Satu Klub

Baresi dikenal luas sebagai one-club man sejati.

Ia membela tim utama AC Milan selama dua dekade dan menjadi wajah dari era keemasan klub, termasuk saat Rossoneri mengoleksi gelar Serie A, Piala Champions Eropa, dan trofi-trofi domestik lainnya.

Setelah pensiun, namanya tetap melekat di struktur klub dan identitas Milan modern.

Karena itu, penghormatan terakhir di Basilika Sant’Ambrogio tak sekadar menjadi upacara duka biasa.

Banyak suporter melihatnya sebagai perpisahan dengan figur yang mewakili loyalitas, kepemimpinan, dan garis merah-hitam yang sangat khas di San Siro.

Nomor 6 yang tergantung di antara kerumunan menjadi bahasa visual paling kuat dari momen tersebut.

BACA JUGA:  AC Milan Tersungkur di San Siro! Cagliari Hancurkan Mimpi Rossoneri ke Liga Champions

Duka Milan Melampaui Lapangan

Pemerintah kota Milan ikut memberi ruang khusus bagi penghormatan publik ini dengan menetapkan hari berkabung sipil bertepatan dengan pemakaman.

Langkah itu memperlihatkan bahwa kehilangan Baresi tak dipandang semata sebagai kabar sepak bola, melainkan juga sebagai duka kota yang tumbuh bersama salah satu ikon terbesarnya.

Bagi publik sepak bola, pemandangan lautan jersey nomor 6, spanduk Ciao Capitano, dan ribuan pelayat di luar basilika menjadi penanda terakhir betapa besar jejak Franco Baresi.

Di Milan, perpisahan itu tidak hanya mengantar seorang legenda, tetapi juga merawat warisan seorang kapten yang bagi banyak orang tak tergantikan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru