Iran Usulkan Aliansi Keamanan Islam, Ajak Negara Muslim Bangun Blok Pertahanan Baru Tanpa Amerika

SulawesiPos.com – Pemerintah Iran mengusulkan pembentukan aliansi keamanan bersama negara-negara Islam yang melibatkan Iran, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan negara-negara Muslim lainnya untuk menjaga stabilitas kawasan tanpa keterlibatan kekuatan asing, dalam pembicaraan telepon antara Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Seyyed Majid Ebn-e-Reza dan Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler pada Minggu (2/8/2026), sebagaimana diberitakan Mehr News Agency (MNA) pada 3 Agustus 2026.

Dalam pembicaraan itu, Iran menegaskan bahwa pengalaman perang terakhir membuktikan keamanan kawasan harus dijaga oleh negara-negara kawasan sendiri, sementara kehadiran kekuatan ekstra-regional justru memperbesar ketidakstabilan.

Majid Ebn-e-Reza mengatakan memorandum gencatan senjata dengan Amerika Serikat ditandatangani atas permintaan negara-negara sahabat dan tetangga untuk membantu memulihkan stabilitas kawasan.

Namun, ia menegaskan Iran tetap tidak mempercayai Amerika Serikat karena memiliki rekam jejak panjang melanggar komitmen internasional.

Ia menambahkan seluruh angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam kesiapsiagaan penuh dan akan memberikan respons yang sepadan apabila terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

BACA JUGA:  Trump Restui Pengayaan Uranium Arab Saudi, Peta Nuklir Kawasan Asia Barat Memasuki Babak Baru yang Mengguncang Dunia

Menurut pejabat pertahanan Iran itu, keamanan kawasan tidak dapat dibangun melalui ketergantungan kepada kekuatan dari luar kawasan, melainkan harus lahir dari kerja sama negara-negara regional sendiri.

Aliansi Keamanan Dunia Islam Jadi Agenda Baru

Iran kembali mengusulkan pembentukan mekanisme keamanan bersama dunia Islam yang melibatkan Iran, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Mesir, serta negara-negara Muslim lainnya.

Majid Ebn-e-Reza menilai perang terbaru menunjukkan bahwa hanya negara-negara kawasan yang memahami kebutuhan keamanan regional secara utuh.

Ia memperingatkan bahwa keberadaan pasukan asing justru meningkatkan ketidakpercayaan, memperbesar ketegangan, dan memperluas potensi konflik.

Iran juga menyatakan siap melanjutkan konsultasi strategis dengan Turki dan negara-negara regional lainnya guna membangun tatanan keamanan baru yang berkelanjutan.

Konsep tersebut sejalan dengan pandangan Iran bahwa keamanan Teluk Persia dan Asia Barat harus dikelola oleh negara-negara kawasan tanpa intervensi militer dari luar.

Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai gagasan arsitektur keamanan regional semakin mendapat perhatian setelah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA:  Breaking! Rupiah Melemah ke Rp17.289 per Dolar AS Pagi Ini

Soroti Israel dan Kebijakan Amerika Serikat

Majid Ebn-e-Reza mengecam operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran.

Ia menilai dukungan Amerika Serikat telah memperpanjang keberlangsungan kekuatan militer Israel sekaligus mendorong meningkatnya eskalasi kawasan.

Ia juga memperingatkan bahwa pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat mengenai kemungkinan pembukaan front baru terhadap Hizbullah berpotensi menyeret kawasan ke krisis keamanan yang lebih luas.

Menurutnya, rencana Israel membentuk apa yang disebut sebagai zona keamanan di Suriah dan Lebanon dapat menjadi awal dari konflik regional yang lebih besar.

Iran menyerukan negara-negara Islam memperkuat persatuan dan kerja sama praktis untuk menghadapi berbagai ancaman terhadap stabilitas kawasan.

Turki Dukung Diplomasi dan Kerja Sama Regional

Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler menyampaikan belasungkawa atas korban perang terakhir di Iran, termasuk para komandan militer, warga sipil, serta para pelajar yang tewas di Minab.

Guler menegaskan dukungan Ankara terhadap pelaksanaan penuh memorandum gencatan senjata dan kelanjutan jalur diplomasi.

Ia juga menyatakan Turki tetap mendukung keutuhan wilayah seluruh negara tetangga.

BACA JUGA:  Arab Saudi Pimpin Negara-Negara Teluk Desak Amerika Serikat Urungkan Serangan ke Iran

Ankara menyatakan kesiapan memperluas kerja sama dengan Teheran di bidang pemberantasan terorisme, keamanan perbatasan, serta berbagai isu strategis kawasan.

Menurut Guler, dialog, kerja sama, dan konvergensi regional merupakan satu-satunya jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.

Arah Baru Arsitektur Keamanan Asia Barat

Usulan Iran mencerminkan semakin kuatnya dorongan sebagian negara kawasan untuk membangun sistem keamanan regional yang lebih mandiri di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan global di Asia Barat.

Gagasan tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan dinamika geopolitik setelah berbagai konflik bersenjata, termasuk perang Gaza, ketegangan Iran–Israel, serta meningkatnya kompetisi pengaruh antara Amerika Serikat, Rusia, dan China di Asia Barat.

Bagi kalangan akademisi keamanan internasional, pembentukan mekanisme keamanan regional yang inklusif hanya dapat berhasil apabila dibangun di atas prinsip saling percaya, penghormatan terhadap kedaulatan negara, penyelesaian sengketa melalui diplomasi, serta komitmen bersama untuk menghindari eskalasi militer yang dapat mengancam stabilitas Asia Barat dan perdamaian dunia. (Ali)

SulawesiPos.com – Pemerintah Iran mengusulkan pembentukan aliansi keamanan bersama negara-negara Islam yang melibatkan Iran, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan negara-negara Muslim lainnya untuk menjaga stabilitas kawasan tanpa keterlibatan kekuatan asing, dalam pembicaraan telepon antara Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Seyyed Majid Ebn-e-Reza dan Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler pada Minggu (2/8/2026), sebagaimana diberitakan Mehr News Agency (MNA) pada 3 Agustus 2026.

Dalam pembicaraan itu, Iran menegaskan bahwa pengalaman perang terakhir membuktikan keamanan kawasan harus dijaga oleh negara-negara kawasan sendiri, sementara kehadiran kekuatan ekstra-regional justru memperbesar ketidakstabilan.

Majid Ebn-e-Reza mengatakan memorandum gencatan senjata dengan Amerika Serikat ditandatangani atas permintaan negara-negara sahabat dan tetangga untuk membantu memulihkan stabilitas kawasan.

Namun, ia menegaskan Iran tetap tidak mempercayai Amerika Serikat karena memiliki rekam jejak panjang melanggar komitmen internasional.

Ia menambahkan seluruh angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam kesiapsiagaan penuh dan akan memberikan respons yang sepadan apabila terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

BACA JUGA:  Perang AS-Iran Naik Level: Kini Infrastruktur dan Energi Jadi Sasaran Utama

Menurut pejabat pertahanan Iran itu, keamanan kawasan tidak dapat dibangun melalui ketergantungan kepada kekuatan dari luar kawasan, melainkan harus lahir dari kerja sama negara-negara regional sendiri.

Aliansi Keamanan Dunia Islam Jadi Agenda Baru

Iran kembali mengusulkan pembentukan mekanisme keamanan bersama dunia Islam yang melibatkan Iran, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Mesir, serta negara-negara Muslim lainnya.

Majid Ebn-e-Reza menilai perang terbaru menunjukkan bahwa hanya negara-negara kawasan yang memahami kebutuhan keamanan regional secara utuh.

Ia memperingatkan bahwa keberadaan pasukan asing justru meningkatkan ketidakpercayaan, memperbesar ketegangan, dan memperluas potensi konflik.

Iran juga menyatakan siap melanjutkan konsultasi strategis dengan Turki dan negara-negara regional lainnya guna membangun tatanan keamanan baru yang berkelanjutan.

Konsep tersebut sejalan dengan pandangan Iran bahwa keamanan Teluk Persia dan Asia Barat harus dikelola oleh negara-negara kawasan tanpa intervensi militer dari luar.

Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai gagasan arsitektur keamanan regional semakin mendapat perhatian setelah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA:  Putra Mahkota Arab Saudi dan Macron Bahas Implementasi Kesepakatan Iran-AS, Stabilitas Timur Tengah Jadi Prioritas

Soroti Israel dan Kebijakan Amerika Serikat

Majid Ebn-e-Reza mengecam operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran.

Ia menilai dukungan Amerika Serikat telah memperpanjang keberlangsungan kekuatan militer Israel sekaligus mendorong meningkatnya eskalasi kawasan.

Ia juga memperingatkan bahwa pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat mengenai kemungkinan pembukaan front baru terhadap Hizbullah berpotensi menyeret kawasan ke krisis keamanan yang lebih luas.

Menurutnya, rencana Israel membentuk apa yang disebut sebagai zona keamanan di Suriah dan Lebanon dapat menjadi awal dari konflik regional yang lebih besar.

Iran menyerukan negara-negara Islam memperkuat persatuan dan kerja sama praktis untuk menghadapi berbagai ancaman terhadap stabilitas kawasan.

Turki Dukung Diplomasi dan Kerja Sama Regional

Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler menyampaikan belasungkawa atas korban perang terakhir di Iran, termasuk para komandan militer, warga sipil, serta para pelajar yang tewas di Minab.

Guler menegaskan dukungan Ankara terhadap pelaksanaan penuh memorandum gencatan senjata dan kelanjutan jalur diplomasi.

Ia juga menyatakan Turki tetap mendukung keutuhan wilayah seluruh negara tetangga.

BACA JUGA:  Washington Kobarkan Perang Baru, Iran Balas Gempuran AS dan Kunci Urat Nadi Energi Dunia

Ankara menyatakan kesiapan memperluas kerja sama dengan Teheran di bidang pemberantasan terorisme, keamanan perbatasan, serta berbagai isu strategis kawasan.

Menurut Guler, dialog, kerja sama, dan konvergensi regional merupakan satu-satunya jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.

Arah Baru Arsitektur Keamanan Asia Barat

Usulan Iran mencerminkan semakin kuatnya dorongan sebagian negara kawasan untuk membangun sistem keamanan regional yang lebih mandiri di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan global di Asia Barat.

Gagasan tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan dinamika geopolitik setelah berbagai konflik bersenjata, termasuk perang Gaza, ketegangan Iran–Israel, serta meningkatnya kompetisi pengaruh antara Amerika Serikat, Rusia, dan China di Asia Barat.

Bagi kalangan akademisi keamanan internasional, pembentukan mekanisme keamanan regional yang inklusif hanya dapat berhasil apabila dibangun di atas prinsip saling percaya, penghormatan terhadap kedaulatan negara, penyelesaian sengketa melalui diplomasi, serta komitmen bersama untuk menghindari eskalasi militer yang dapat mengancam stabilitas Asia Barat dan perdamaian dunia. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru