Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kemunculan bahasa tulis berlangsung secara independen di beberapa pusat peradaban dunia.
Tulisan paling awal diketahui muncul di Mesopotamia sekitar milenium keempat sebelum Masehi melalui aksara paku (cuneiform) dalam bahasa Sumeria.
Tradisi tulis kemudian berkembang secara mandiri di Mesir Kuno, Tiongkok, dan kawasan Mesoamerika.
Separuh Bahasa Dunia Kini Terancam Punah
Para peneliti memperingatkan bahwa sekitar setengah dari seluruh bahasa yang masih digunakan saat ini berada dalam kategori terancam punah.
Sekitar 90 persen penduduk dunia hanya menggunakan sekitar 10 persen bahasa yang ada, sedangkan ribuan bahasa lainnya hanya memiliki sedikit penutur dan sebagian bahkan hanya dituturkan oleh segelintir orang lanjut usia.
Temuan ini mengubah pandangan lama bahwa keberagaman bahasa tertinggi terjadi pada masa manusia masih hidup sebagai pemburu-pengumpul, karena kenyataannya puncak keragaman justru muncul ketika populasi manusia berkembang pesat dan komunitas-komunitas kecil masih mampu mempertahankan identitas linguistiknya.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dominasi suatu bahasa bukan disebabkan oleh keunggulan intrinsik bahasa itu sendiri, melainkan lebih banyak ditentukan oleh kekuatan politik, militer, ekonomi, dan budaya para penuturnya.
Para ilmuwan menilai pelestarian bahasa-bahasa yang tersisa menjadi salah satu tantangan penting abad ke-21 karena setiap bahasa yang hilang berarti lenyapnya pengetahuan tradisional, sejarah lokal, pandangan hidup, dan warisan budaya yang tidak dapat digantikan oleh bahasa lain.
Temuan ini sekaligus memperkuat berbagai penelitian terdahulu yang memperkirakan tanpa upaya pelestarian yang serius, lebih dari 1.500 bahasa berpotensi punah sebelum akhir abad ke-21, sehingga dokumentasi, revitalisasi, pendidikan dwibahasa, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi penting untuk menjaga keberlangsungan keragaman linguistik umat manusia. (Ali)

