Portugal membatasi penggunaan bahasa-bahasa asli di Brasil. Prancis menerapkan kebijakan dominasi bahasa Prancis di berbagai wilayah koloninya di Afrika.
Jepang juga pernah menekan penggunaan bahasa Korea selama masa pendudukannya di Semenanjung Korea.
Meski demikian, sejumlah bahasa besar masyarakat adat seperti bahasa-bahasa Maya, Inka, dan Aztek tetap mampu bertahan hingga sekarang meskipun mengalami tekanan politik yang sangat kuat.
Claire Bowern menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah penyimpan pengetahuan, memori kolektif, pengalaman budaya, identitas, serta sejarah panjang suatu komunitas manusia.
Bagi para ilmuwan, setiap bahasa juga menyimpan informasi penting mengenai pola migrasi manusia, sistem pangan, lingkungan hidup, hingga cara berpikir masyarakat pada masa lampau.
Peradaban Awal Melahirkan Ribuan Bahasa Baru
Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 12.000 tahun lalu populasi manusia dunia diperkirakan hanya berjumlah antara 4,4 hingga 7 juta jiwa yang hidup dalam kelompok-kelompok kecil pemburu-peramu yang tersebar di berbagai kawasan.
Pada masa tersebut diperkirakan terdapat sekitar 4.500 hingga 6.200 bahasa yang digunakan oleh komunitas-komunitas manusia.
Setelah revolusi pertanian berlangsung, pertumbuhan penduduk dan terbentuknya permukiman permanen justru mendorong munculnya semakin banyak komunitas baru yang kemudian mengembangkan bahasa masing-masing.
Keadaan tersebut menyebabkan jumlah bahasa meningkat selama ribuan tahun sebelum akhirnya mengalami penurunan tajam sekitar dua milenium terakhir.
Untuk memperoleh estimasi tersebut, para peneliti menganalisis data dari 171 komunitas pemburu-peramu modern di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara sebagai dasar membangun model evolusi bahasa sepanjang sejarah manusia.
Karena hampir tidak ada catatan langsung mengenai jumlah bahasa pada masa prasejarah, pendekatan pemodelan komputer menjadi metode paling memungkinkan untuk merekonstruksi perubahan keberagaman bahasa selama ribuan tahun.

