Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan komentar kontroversial dengan menyebut insiden tersebut sebagai sebuah “bencana” yang menyerupai invasi ratusan ribu orang.
Penangguhan Perjanjian Schengen dan Kebijakan Negara Eropa
Dampak politik dan diplomatik dari krisis ini langsung merembet cepat ke berbagai ibu kota negara di Benua Eropa.
Italia mengambil langkah tegas dengan menangguhkan perjanjian zona bebas perbatasan Schengen dengan Spanyol untuk sementara waktu selama sebulan.
PM Italia Giorgia Meloni menyebut situasi di Ceuta sangat mengejutkan dan menganggap imigrasi yang tidak terkendali sebagai ancaman nyata bagi keamanan nasional.
Spanyol merespons langkah Italia tersebut dengan memanggil duta besar Italia di Madrid dan menuntut adanya solidaritas Eropa ketimbang demagogi partisan.
Menteri Dalam Negeri Finlandia Mari Rantanen menyatakan kesiapannya memulihkan pemeriksaan perbatasan internal jika diperlukan serta mendesak negara Eropa lain mendukung langkah Italia.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen turut mendesak Uni Eropa agar mempertimbangkan semua opsi, termasuk pembekuan sementara kerja sama Schengen.
Prancis memilih untuk memperketat pemeriksaan di jalur perbatasannya dengan Spanyol serta mengerahkan tambahan personel kepolisian.
Perdana Menteri Portugal Luis Montenegro mengumumkan bahwa negaranya sedang mempertimbangkan langkah serupa untuk memperkuat pengawasan perbatasan.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan dukungan penuh terhadap niat Spanyol untuk menolak masuknya migran ilegal ke daratan Eropa.

