Di tengah meredahnya situasi lapangan, Spanyol langsung bergerak cepat dengan mulai membangun penghalang maritim guna mencegah masuknya migran ilegal lanjutan.
Namun, duka mendalam menyelimuti insiden ini karena jumlah korban tewas akibat lonjakan penyeberangan yang berbahaya tersebut telah meningkat menjadi setidaknya 67 orang.
Mengapa Tiba-tiba Puluhan Ribu Orang Mencoba Masuk?
Belum ada penjelasan resmi ataupun pernyataan langsung dari pemerintah Maroko terkait alasan di balik bobolnya perbatasan Ceuta dalam waktu yang sangat singkat.
Namun, penyelundup manusia diduga memanfaatkan celah hukum dan menyebarkan disinformasi masif pascaputusan Mahkamah Agung untuk memicu aksi penyeberangan massal tersebut.
Peneliti migrasi dari Italian Institute for International Political Studies, Matteo Villa, menilai bahwa faktor politik yang kuat turut berperan besar dalam krisis ini.
Matteo Villa membandingkan peristiwa ini dengan gelombang migrasi serupa yang pernah terjadi pada Mei 2021.
Lonjakan migran tersebut diduga kuat berkaitan erat dengan kunjungan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez ke Aljazair pada Senin (20/7).
Kunjungan tersebut merupakan lawatan pertama kepala pemerintahan Spanyol ke Aljazair dalam empat tahun terakhir sebagai tanda membaiknya hubungan bilateral Madrid-Aljazair.
Di sisi lain, Aljazair merupakan pendukung utama kelompok Polisario Front yang sedang berselisih sengit dengan Maroko atas kepemilikan wilayah Sahara Barat.
Kunjungan Sánchez ke Aljazair itu ditengarai tidak disukai oleh pihak pemerintah Maroko.Maroko diduga sengaja melonggarkan pengawasan perbatasan sebagai unjuk kekuatan untuk memperlihatkan posisi tawar politiknya yang kuat terhadap Spanyol dan Uni Eropa.
Pemerintah Spanyol sendiri langsung mengerahkan pasukan militer serta tambahan personel kepolisian untuk mengendalikan wilayah perbatasan.
Reaksi Keras Spanyol dan Sikap Uni Eropa
Spanyol secara terbuka mengutuk keras reaksi Uni Eropa terkait masuknya sekitar 60.000 migran ilegal dari Maroko ke wilayah kantong Ceuta.

