Normalisasi Arab Saudi–Israel Kembali Menghangat, Riyadh Didorong Masuk Kesepakatan Abraham

Sejumlah analis menilai Riyadh juga harus mempertimbangkan opini publik domestik yang secara tradisional memberikan dukungan kuat terhadap perjuangan Palestina.

Di sisi lain, kebutuhan Arab Saudi memperkuat keamanan nasional, mengembangkan energi nuklir sipil, dan merealisasikan Vision 2030 menjadikan hubungan strategis dengan Amerika Serikat tetap memiliki nilai penting.

Implikasi Geopolitik Asia Barat

Apabila normalisasi akhirnya tercapai, Arab Saudi akan menjadi negara Arab paling berpengaruh yang bergabung dalam Abraham Accords setelah Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan.

Perkembangan tersebut diperkirakan akan mengubah keseimbangan geopolitik Asia Barat, memperkuat poros keamanan Amerika Serikat–Israel–negara-negara Teluk, sekaligus meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Iran.

Namun banyak pengamat juga mengingatkan bahwa perdamaian regional yang berkelanjutan tetap sulit diwujudkan tanpa penyelesaian konflik Israel–Palestina yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade.

Karena itu, keberhasilan diplomasi tidak hanya bergantung pada normalisasi hubungan bilateral, tetapi juga pada kemampuan seluruh pihak membangun arsitektur keamanan kawasan yang mampu mengakomodasi kepentingan negara-negara Arab, Israel, Palestina, serta kekuatan-kekuatan regional lainnya. (Ali)

BACA JUGA:  Besar Potensi Amerika Serang Iran, Negara Teluk Cemas

Sejumlah analis menilai Riyadh juga harus mempertimbangkan opini publik domestik yang secara tradisional memberikan dukungan kuat terhadap perjuangan Palestina.

Di sisi lain, kebutuhan Arab Saudi memperkuat keamanan nasional, mengembangkan energi nuklir sipil, dan merealisasikan Vision 2030 menjadikan hubungan strategis dengan Amerika Serikat tetap memiliki nilai penting.

Implikasi Geopolitik Asia Barat

Apabila normalisasi akhirnya tercapai, Arab Saudi akan menjadi negara Arab paling berpengaruh yang bergabung dalam Abraham Accords setelah Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan.

Perkembangan tersebut diperkirakan akan mengubah keseimbangan geopolitik Asia Barat, memperkuat poros keamanan Amerika Serikat–Israel–negara-negara Teluk, sekaligus meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Iran.

Namun banyak pengamat juga mengingatkan bahwa perdamaian regional yang berkelanjutan tetap sulit diwujudkan tanpa penyelesaian konflik Israel–Palestina yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade.

Karena itu, keberhasilan diplomasi tidak hanya bergantung pada normalisasi hubungan bilateral, tetapi juga pada kemampuan seluruh pihak membangun arsitektur keamanan kawasan yang mampu mengakomodasi kepentingan negara-negara Arab, Israel, Palestina, serta kekuatan-kekuatan regional lainnya. (Ali)

BACA JUGA:  Raksasa Tambang Ma'aden Temukan Cadangan Emas Masif di Jantung Arab Saudi

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru