SulawesiPos.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan normalisasi hubungan Arab Saudi dan Israel masih sangat mungkin terwujud setelah membahasnya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Dalam wawancara dengan Financial Times yang dipublikasikan pada Jumat (31/7/2026), Trump juga optimistis kesepakatan kerja sama nuklir sipil Amerika Serikat–Arab Saudi dapat tercapai dan dikaitkan dengan bergabungnya Riyadh ke Abraham Accords.
Trump mengatakan normalisasi merupakan sesuatu yang “sangat diinginkan kedua negara” dan meyakini peluang tercapainya kesepakatan tetap terbuka.
Ia mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai normalisasi telah dilakukan secara langsung bersama Netanyahu dan Mohammed bin Salman sebagai bagian dari upaya diplomasi Washington membangun konfigurasi keamanan baru di kawasan.
Kesepakatan Nuklir Jadi Instrumen Diplomasi
Financial Times juga melaporkan Trump optimistis Amerika Serikat dan Arab Saudi dapat mencapai kesepakatan final mengenai program nuklir sipil Riyadh.
Optimisme tersebut muncul setelah Trump sebelumnya menegaskan bahwa kerja sama nuklir sipil Amerika dengan Arab Saudi hanya akan berlaku apabila Riyadh bersedia bergabung dalam Abraham Accords, yakni kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab yang dimulai pada 2020.
Pernyataan itu kemudian disampaikan kembali melalui akun Truth Social miliknya dan memicu perhatian luas karena mengaitkan kerja sama energi nuklir dengan agenda diplomasi regional.
Pemerintah Israel segera menyambut baik syarat tersebut.
Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa bergabungnya Arab Saudi ke Abraham Accords akan menjadi “lompatan bersejarah bagi perdamaian di Timur Tengah” serta memperluas lingkaran normalisasi di kawasan.
Netanyahu bahkan menyebut peluang tersebut sebagai implementasi konsep “perdamaian melalui kekuatan” yang selama ini menjadi salah satu doktrin utama pemerintahannya.
Hambatan Palestina Masih Menjadi Batu Ujian
Meski demikian, peluang normalisasi masih menghadapi tantangan besar.
Arab Saudi sejak lama menegaskan bahwa normalisasi penuh dengan Israel hanya dapat dilakukan apabila terdapat langkah yang tidak dapat dipulihkan menuju pembentukan negara Palestina yang merdeka.
Posisi tersebut belum berubah meskipun dinamika keamanan kawasan mengalami perubahan signifikan setelah konflik Iran–Israel dan meningkatnya ancaman terhadap jalur energi di Teluk Persia.
Sejumlah analis menilai Riyadh juga harus mempertimbangkan opini publik domestik yang secara tradisional memberikan dukungan kuat terhadap perjuangan Palestina.
Di sisi lain, kebutuhan Arab Saudi memperkuat keamanan nasional, mengembangkan energi nuklir sipil, dan merealisasikan Vision 2030 menjadikan hubungan strategis dengan Amerika Serikat tetap memiliki nilai penting.
Implikasi Geopolitik Asia Barat
Apabila normalisasi akhirnya tercapai, Arab Saudi akan menjadi negara Arab paling berpengaruh yang bergabung dalam Abraham Accords setelah Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan.
Perkembangan tersebut diperkirakan akan mengubah keseimbangan geopolitik Asia Barat, memperkuat poros keamanan Amerika Serikat–Israel–negara-negara Teluk, sekaligus meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Iran.
Namun banyak pengamat juga mengingatkan bahwa perdamaian regional yang berkelanjutan tetap sulit diwujudkan tanpa penyelesaian konflik Israel–Palestina yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade.
Karena itu, keberhasilan diplomasi tidak hanya bergantung pada normalisasi hubungan bilateral, tetapi juga pada kemampuan seluruh pihak membangun arsitektur keamanan kawasan yang mampu mengakomodasi kepentingan negara-negara Arab, Israel, Palestina, serta kekuatan-kekuatan regional lainnya. (Ali)

