Dukungan Kementan mencakup pemulihan dan optimalisasi lahan, penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), benih padi dan jagung, serta berbagai sarana pendukung untuk mempercepat proses tanam kembali di wilayah terdampak.
Berdasarkan pendataan Pemerintah Aceh, bencana hidrometeorologi berdampak terhadap sekitar 57.485 hektare lahan sawah.
Dari luasan tersebut, proses optimalisasi lahan saat ini telah berjalan pada 40.852 hektare.
Dampak juga terjadi pada sektor perkebunan dengan luasan mencapai 50.438 hektare.
Adapun proses pemulihan perkebunan yang tengah berlangsung telah mencapai 10.418 hektare.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, mengatakan dukungan tersebut merupakan tindak lanjut atas usulan Pemerintah Provinsi Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota kepada Kementerian Pertanian.
Anggaran Rp2,5 triliun tersebut diarahkan untuk mempercepat pemulihan lahan pertanian sekaligus mendukung penyediaan alsintan, benih padi, dan benih jagung sehingga produksi pertanian di wilayah terdampak dapat segera kembali berjalan.
Gubernur Mualem juga meminta seluruh jajaran pertanian di Aceh memperkuat kerja lapangan dan koordinasi agar bantuan serta program pemulihan dapat memberikan dampak nyata bagi petani dan pekebun.
“Gubernur berpesan agar Dinas Pertanian dan Perkebunan di seluruh Aceh bekerja keras dan membangun komunikasi dengan semua pihak. Insya Allah, kesulitan petani dan pekebun dapat segera teratasi,” kata Nurlis menyampaikan pesan Gubernur.
Kementan memastikan pemulihan pertanian di Aceh menjadi bagian dari langkah cepat pemerintah dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah ancaman bencana hidrometeorologi.

