31 Spesies Baru Ditemukan di Laut Dalam Brasil, Samudra Kembali Ungkap Rahasia Kehidupan yang Belum Pernah Dikenal

SulawesiPos.com – Tim ilmuwan internasional berhasil menemukan 31 spesies baru yang sebelumnya tidak dikenal manusia di kawasan laut dalam Samudra Atlantik Selatan lepas pantai Brasil dalam sebuah ekspedisi ilmiah yang menjelajahi ekosistem laut tengah (midwater), dengan temuan meliputi ubur-ubur bercahaya, ctenophora atau ubur-ubur sisir, organisme bersel tunggal raksasa, cumi-cumi transparan, serta berbagai makhluk unik lainnya, sebagaimana dilaporkan majalah People pada Senin (15/6/2026).

Penemuan tersebut diumumkan oleh Schmidt Ocean Institute setelah berakhirnya ekspedisi penelitian laut dalam yang dilakukan di kawasan Atlantik Selatan.

Sebanyak 31 spesies baru berhasil diidentifikasi selama penelitian yang difokuskan pada zona laut tengah yang berada di antara lapisan permukaan laut dan dasar samudra yang gelap.

Para peneliti menemukan berbagai jenis ubur-ubur, organisme menyerupai cacing, hewan transparan, dan organisme bersel tunggal berukuran besar yang dapat diamati tanpa bantuan mikroskop.

Tim ekspedisi juga mendokumentasikan keberadaan cumi-cumi kaca (glass squid) serta gurita pelagis yang sedang memangsa ubur-ubur merah terang di habitat alaminya.

Ekosistem Terbesar yang Masih Menyimpan Misteri

Para ilmuwan menyebut kawasan laut tengah sebagai salah satu wilayah paling misterius di Bumi.

Meski merupakan habitat layak huni terbesar di planet ini, kawasan tersebut masih menjadi salah satu ekosistem yang paling sedikit dieksplorasi manusia.

Kepala ilmuwan ekspedisi dari Smithsonian National Museum of Natural History, Dr. Karen Osborn, mengatakan bahwa kawasan laut tengah dihuni berbagai makhluk luar biasa yang baru mulai dipahami oleh ilmu pengetahuan modern.

BACA JUGA:  Kanada Melarang ChatGPT untuk Anak di Bawah Usia 16 tahun

Menurutnya, setiap penelitian baru terus mengungkap tingkat keragaman hayati yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Tubuh Transparan dan Adaptasi yang Menakjubkan

Para peneliti mengaku terkejut oleh tingginya keragaman spesies yang ditemukan selama ekspedisi.

Banyak organisme memiliki tubuh transparan yang hampir tidak terlihat di dalam air. Sebagian lainnya memiliki tentakel sangat halus dan bentuk tubuh yang tidak lazim.

Karakteristik tersebut diyakini merupakan hasil evolusi panjang untuk bertahan hidup di lingkungan laut dalam yang gelap, dingin, dan bertekanan tinggi.

Sejumlah spesies bahkan digambarkan menyerupai pita bercahaya, balon transparan, hingga sosok hantu yang melayang di tengah kegelapan samudra.

Teknologi Baru Percepat Penemuan Spesies

Penemuan tersebut dimungkinkan berkat penggunaan teknologi pencitraan tiga dimensi beresolusi tinggi yang mampu mendokumentasikan organisme tanpa harus menangkap atau merusaknya.

Teknologi noninvasif tersebut memungkinkan para ilmuwan mempelajari organisme yang sangat rapuh secara lebih aman dan akurat.

Sistem pencitraan modern itu dipadukan dengan analisis genetika yang dilakukan langsung di atas kapal penelitian.

Kombinasi kedua teknologi tersebut memungkinkan identifikasi spesies baru dilakukan hanya dalam hitungan hari.

Laut Masih Menyimpan Jutaan Rahasia

Insinyur utama Bioinspiration Lab Monterey Bay Aquarium Research Institute, Dr. Kakani Katija, menyebut pengamatan langsung terhadap kehidupan laut tengah sebagai pengalaman ilmiah yang sangat langka dan menginspirasi.

Ia mengatakan teknologi baru memungkinkan keajaiban kehidupan laut dalam didokumentasikan tanpa mengganggu habitat alaminya.

Sementara itu, Dr. Karen Osborn menegaskan bahwa sebagian besar rahasia samudra hingga kini masih belum terungkap.

BACA JUGA:  Memaknai dan Menyikapi Pertumbuhan Ekonomi Sulsel yang Impresif

Menurutnya, setiap spesies yang ditemukan menunjukkan kemampuan luar biasa makhluk hidup untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang ekstrem.

Guru Besar Unhas: Indonesia Bisa Menjadi Pusat Biodiversitas Laut Dunia

Menanggapi temuan tersebut, Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, menilai penemuan 31 spesies baru di Brasil merupakan kabar menggembirakan sekaligus pengingat bahwa eksplorasi biodiversitas laut dunia masih berada pada tahap awal.

Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin
Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin

Menurutnya, keberhasilan para ilmuwan internasional mengungkap kehidupan laut dalam membuktikan bahwa samudra masih menyimpan kekayaan hayati yang sangat besar dan sebagian besar belum dikenal manusia.

“Penemuan di Brasil menunjukkan bahwa lautan masih merupakan perpustakaan kehidupan terbesar di planet ini yang sebagian besar halamannya bahkan belum pernah dibuka manusia. Di tengah kemajuan teknologi abad ke-21, samudra tetap menyimpan jutaan pertanyaan ilmiah yang menunggu untuk dijawab,” ujar Khusnul Yaqin.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi salah satu pusat penelitian biodiversitas laut tropis dunia karena berada di kawasan Coral Triangle yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di planet ini.

“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sesungguhnya memiliki modal alam yang luar biasa. Sangat mungkin kekayaan hayati laut Indonesia bahkan melampaui banyak kawasan lain di dunia. Namun hingga hari ini masih banyak organisme laut kita yang belum teridentifikasi, belum dideskripsikan secara ilmiah, bahkan belum pernah diamati oleh peneliti,” katanya.

BACA JUGA:  Bedah Buku Money Politics dan Demokrasi Elektoral, Guru Besar Ilmu Politik Unhas: Politik Uang Musuh Bersama Kita

Khusnul Yaqin mendorong peningkatan kolaborasi antara ilmuwan Indonesia dengan peneliti Brasil dan berbagai negara lain yang telah maju dalam eksplorasi laut dalam.

“Kolaborasi internasional bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Melalui kerja sama global kita dapat mempercepat transfer teknologi, penguasaan metode genetika modern, pengembangan sistem pencitraan mutakhir, serta memperluas peluang lahirnya penemuan spesies baru dari perairan Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penelitian biodiversitas tidak boleh berhenti pada inventarisasi spesies semata, melainkan harus diarahkan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dari biodiversitas laut dapat lahir sumber pangan masa depan, bahan baku farmasi, senyawa antikanker, antibiotik baru, biomaterial, kosmetik bernilai tinggi, hingga energi terbarukan yang ramah lingkungan. Karena itu konservasi dan penelitian biodiversitas sesungguhnya merupakan investasi ekonomi jangka panjang yang sangat strategis,” jelasnya.

Khusnul Yaqin juga mengingatkan bahwa keunggulan terbesar Indonesia bukan hanya terletak pada sumber daya mineral, melainkan pada kekayaan hayati yang dapat diperbarui secara berkelanjutan apabila dikelola dengan baik.

“Penemuan di Brasil membuktikan bahwa masa depan ekonomi berbasis pengetahuan dapat lahir dari kedalaman samudra. Indonesia memiliki modal alam yang mungkin lebih besar. Yang kita butuhkan sekarang adalah visi jangka panjang, keberanian berinvestasi pada ilmu pengetahuan, serta komitmen kuat untuk menjaga biodiversitas laut sebagai warisan sekaligus sumber kemakmuran bangsa di masa depan,” tegasnya. (Ali)

SulawesiPos.com – Tim ilmuwan internasional berhasil menemukan 31 spesies baru yang sebelumnya tidak dikenal manusia di kawasan laut dalam Samudra Atlantik Selatan lepas pantai Brasil dalam sebuah ekspedisi ilmiah yang menjelajahi ekosistem laut tengah (midwater), dengan temuan meliputi ubur-ubur bercahaya, ctenophora atau ubur-ubur sisir, organisme bersel tunggal raksasa, cumi-cumi transparan, serta berbagai makhluk unik lainnya, sebagaimana dilaporkan majalah People pada Senin (15/6/2026).

Penemuan tersebut diumumkan oleh Schmidt Ocean Institute setelah berakhirnya ekspedisi penelitian laut dalam yang dilakukan di kawasan Atlantik Selatan.

Sebanyak 31 spesies baru berhasil diidentifikasi selama penelitian yang difokuskan pada zona laut tengah yang berada di antara lapisan permukaan laut dan dasar samudra yang gelap.

Para peneliti menemukan berbagai jenis ubur-ubur, organisme menyerupai cacing, hewan transparan, dan organisme bersel tunggal berukuran besar yang dapat diamati tanpa bantuan mikroskop.

Tim ekspedisi juga mendokumentasikan keberadaan cumi-cumi kaca (glass squid) serta gurita pelagis yang sedang memangsa ubur-ubur merah terang di habitat alaminya.

Ekosistem Terbesar yang Masih Menyimpan Misteri

Para ilmuwan menyebut kawasan laut tengah sebagai salah satu wilayah paling misterius di Bumi.

Meski merupakan habitat layak huni terbesar di planet ini, kawasan tersebut masih menjadi salah satu ekosistem yang paling sedikit dieksplorasi manusia.

Kepala ilmuwan ekspedisi dari Smithsonian National Museum of Natural History, Dr. Karen Osborn, mengatakan bahwa kawasan laut tengah dihuni berbagai makhluk luar biasa yang baru mulai dipahami oleh ilmu pengetahuan modern.

BACA JUGA:  Eric Schmidt Peringatkan Krisis Energi AI: Amerika Butuh Tambahan 92 Gigawatt Listrik untuk Menopang Ledakan Pusat Data

Menurutnya, setiap penelitian baru terus mengungkap tingkat keragaman hayati yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Tubuh Transparan dan Adaptasi yang Menakjubkan

Para peneliti mengaku terkejut oleh tingginya keragaman spesies yang ditemukan selama ekspedisi.

Banyak organisme memiliki tubuh transparan yang hampir tidak terlihat di dalam air. Sebagian lainnya memiliki tentakel sangat halus dan bentuk tubuh yang tidak lazim.

Karakteristik tersebut diyakini merupakan hasil evolusi panjang untuk bertahan hidup di lingkungan laut dalam yang gelap, dingin, dan bertekanan tinggi.

Sejumlah spesies bahkan digambarkan menyerupai pita bercahaya, balon transparan, hingga sosok hantu yang melayang di tengah kegelapan samudra.

Teknologi Baru Percepat Penemuan Spesies

Penemuan tersebut dimungkinkan berkat penggunaan teknologi pencitraan tiga dimensi beresolusi tinggi yang mampu mendokumentasikan organisme tanpa harus menangkap atau merusaknya.

Teknologi noninvasif tersebut memungkinkan para ilmuwan mempelajari organisme yang sangat rapuh secara lebih aman dan akurat.

Sistem pencitraan modern itu dipadukan dengan analisis genetika yang dilakukan langsung di atas kapal penelitian.

Kombinasi kedua teknologi tersebut memungkinkan identifikasi spesies baru dilakukan hanya dalam hitungan hari.

Laut Masih Menyimpan Jutaan Rahasia

Insinyur utama Bioinspiration Lab Monterey Bay Aquarium Research Institute, Dr. Kakani Katija, menyebut pengamatan langsung terhadap kehidupan laut tengah sebagai pengalaman ilmiah yang sangat langka dan menginspirasi.

Ia mengatakan teknologi baru memungkinkan keajaiban kehidupan laut dalam didokumentasikan tanpa mengganggu habitat alaminya.

Sementara itu, Dr. Karen Osborn menegaskan bahwa sebagian besar rahasia samudra hingga kini masih belum terungkap.

BACA JUGA:  Bedah Buku Money Politics dan Demokrasi Elektoral, Guru Besar Ilmu Politik Unhas: Politik Uang Musuh Bersama Kita

Menurutnya, setiap spesies yang ditemukan menunjukkan kemampuan luar biasa makhluk hidup untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang ekstrem.

Guru Besar Unhas: Indonesia Bisa Menjadi Pusat Biodiversitas Laut Dunia

Menanggapi temuan tersebut, Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, menilai penemuan 31 spesies baru di Brasil merupakan kabar menggembirakan sekaligus pengingat bahwa eksplorasi biodiversitas laut dunia masih berada pada tahap awal.

Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin
Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin

Menurutnya, keberhasilan para ilmuwan internasional mengungkap kehidupan laut dalam membuktikan bahwa samudra masih menyimpan kekayaan hayati yang sangat besar dan sebagian besar belum dikenal manusia.

“Penemuan di Brasil menunjukkan bahwa lautan masih merupakan perpustakaan kehidupan terbesar di planet ini yang sebagian besar halamannya bahkan belum pernah dibuka manusia. Di tengah kemajuan teknologi abad ke-21, samudra tetap menyimpan jutaan pertanyaan ilmiah yang menunggu untuk dijawab,” ujar Khusnul Yaqin.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi salah satu pusat penelitian biodiversitas laut tropis dunia karena berada di kawasan Coral Triangle yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di planet ini.

“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sesungguhnya memiliki modal alam yang luar biasa. Sangat mungkin kekayaan hayati laut Indonesia bahkan melampaui banyak kawasan lain di dunia. Namun hingga hari ini masih banyak organisme laut kita yang belum teridentifikasi, belum dideskripsikan secara ilmiah, bahkan belum pernah diamati oleh peneliti,” katanya.

BACA JUGA:  Kanada Melarang ChatGPT untuk Anak di Bawah Usia 16 tahun

Khusnul Yaqin mendorong peningkatan kolaborasi antara ilmuwan Indonesia dengan peneliti Brasil dan berbagai negara lain yang telah maju dalam eksplorasi laut dalam.

“Kolaborasi internasional bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Melalui kerja sama global kita dapat mempercepat transfer teknologi, penguasaan metode genetika modern, pengembangan sistem pencitraan mutakhir, serta memperluas peluang lahirnya penemuan spesies baru dari perairan Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penelitian biodiversitas tidak boleh berhenti pada inventarisasi spesies semata, melainkan harus diarahkan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dari biodiversitas laut dapat lahir sumber pangan masa depan, bahan baku farmasi, senyawa antikanker, antibiotik baru, biomaterial, kosmetik bernilai tinggi, hingga energi terbarukan yang ramah lingkungan. Karena itu konservasi dan penelitian biodiversitas sesungguhnya merupakan investasi ekonomi jangka panjang yang sangat strategis,” jelasnya.

Khusnul Yaqin juga mengingatkan bahwa keunggulan terbesar Indonesia bukan hanya terletak pada sumber daya mineral, melainkan pada kekayaan hayati yang dapat diperbarui secara berkelanjutan apabila dikelola dengan baik.

“Penemuan di Brasil membuktikan bahwa masa depan ekonomi berbasis pengetahuan dapat lahir dari kedalaman samudra. Indonesia memiliki modal alam yang mungkin lebih besar. Yang kita butuhkan sekarang adalah visi jangka panjang, keberanian berinvestasi pada ilmu pengetahuan, serta komitmen kuat untuk menjaga biodiversitas laut sebagai warisan sekaligus sumber kemakmuran bangsa di masa depan,” tegasnya. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru