SulawesiPos.com – Dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu maestro terbaiknya.
Pelukis ekspresif ternama dan kolektor seni terkemuka, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di kediamannya di kawasan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sang seniman berpulang pada usia 60 tahun.
Sebelum proses pemakaman, jenazah almarhum sempat disemayamkan di Rumah Sakit AMC Yogyakarta.
Pihak keluarga dan kerabat menjadwalkan persemayaman dan peristirahatan terakhir sang maestro di kompleks Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul.
Karakteristik & Gaya Seni yang Khas
Nasirun dikenal luas berkat gaya ekspresionisnya yang sangat kuat dan autentik. Pendekatan artistiknya senantiasa menyatu dengan identitas budaya lokal:
- Karakter Ekspresif Kuat: Menggabungkan teknik distorsi figuratif yang dinamis dengan goresan kuas yang spontan dan bertenaga.
- Akar Tradisi Jawa: Karya-karyanya selalu sarat dengan unsur kebudayaan Jawa, dunia pewayangan, serta nilai-nilai spiritualitas yang mendalam.
- Kritik Sosial Berbalut Humor: Dalam karyanya, ia kerap menyisipkan sindiran politik, komedi, serta ironi halus atas situasi sosial masyarakat.
- Eksplorasi Media Non-Konvensional: Nasirun tidak hanya melukis di atas kanvas, tetapi juga gemar merespons berbagai objek unik, mulai dari celengan tanah liat hingga badan mobil.
Perjalanan Karier dan Rumah Budaya
Lahir pada 1 Oktober 1965, Nasirun mengasah bakat seninya hingga lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Perjalanan kariernya dimulai dari tempat yang sangat sederhana, di mana karya pertamanya terjual pada tahun 1993 seharga Rp70.000 dengan media lukis seukuran karung terigu.
Seiring berjalannya waktu, dedikasinya membawa nama Nasirun menembus pasar global.
Kini, lukisannya dihargai ratusan juta hingga miliaran rupiah dan menghiasi berbagai galeri serta museum internasional.
Selain aktif melukis, Nasirun adalah seorang kolektor arsip sejarah dan karya seni lintas generasi.
Kediamannya di Bayeman, Bantul (Nasirun Studio), difungsikan sebagai museum pribadi sekaligus ruang diskusi terbuka bagi para perupa muda dan pencinta seni.
Deretan Penghargaan Utama
Sepanjang perjalanan kesenimannannya, Nasirun berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya:
- Philip Morris Award (1997)
- Top Ten Awards Seni Indonesia (1997)
- McDonald Award (Lustrum ISI Yogyakarta ke-X)
Kepergian Nasirun meninggalkan duka yang mendalam sekaligus warisan karya budaya yang tak ternilai bagi dunia seni rupa Tanah Air.

