SulawesiPos.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan Indonesia dipandang sebagai negara dengan ketahanan energi yang kuat di tengah dinamika geopolitik global.
Dalam Apel Komandan Satuan TNI 2026, ia menyebut sektor energi berperan strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi dan pertahanan negara.
“Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi,” ujar Bahlil, dikutip dari JawaPos, Sabtu (2/5/2026).
Penilaian tersebut merujuk pada laporan Eye on the Market yang dirilis JP Morgan Asset Management, yang menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar dunia.
Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di posisi kedua setelah Afrika Selatan, dan di atas Tiongkok.
Ketahanan energi Indonesia dinilai kuat karena kemampuan memenuhi kebutuhan energi domestik, terutama dari produksi dan cadangan batu bara.
Selain itu, potensi energi baru dan terbarukan yang tersebar di berbagai wilayah juga menjadi faktor penting dalam menjaga kemandirian energi nasional.
Lifting Migas dan Temuan Cadangan Baru
Dari sektor migas, ketahanan energi diperkuat oleh capaian lifting minyak pada 2025 yang mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per hari (bph).
Tahun ini, target tersebut ditingkatkan menjadi 610 ribu bph.
Pemerintah juga terus mendorong peningkatan produksi melalui optimalisasi teknologi, reaktivasi sumur idle, dan eksplorasi wilayah baru terutama Indonesia timur
Salah satu temuan terbaru berasal dari sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur, dengan potensi sekitar 5 triliun kaki kubik gas dan 300 juta barel kondensat.
“Itu 5 TCF… dengan mendapatkan 300 juta kondensat… ini akan produksi di 2028-2029,” jelas Bahlil.
Target Bebas Impor Solar Lewat B50
Pemerintah juga berupaya mengurangi ketergantungan impor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), melalui pengembangan biodiesel B50.
Program ini ditargetkan mulai berlaku nasional pada 1 Juli 2026 dan diproyeksikan mampu menekan impor secara signifikan.
“Mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak republik ini berdiri,” ujar Bahlil.
Kebutuhan solar nasional diperkirakan mencapai 40 juta kiloliter per tahun, yang diharapkan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri melalui implementasi B40 dan B50.
Selain BBM, pemerintah juga mengkaji pengurangan impor LPG dengan alternatif energi seperti Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG).
Pemanfaatan CNG sendiri telah berkembang di berbagai sektor, termasuk industri perhotelan, restoran, dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), dengan pasokan dari dalam negeri.

