SulawesiPos.com – Sutradara Joko Anwar kembali menghadirkan gebrakan baru lewat film terbarunya, Ghost in the Cell.
Film ini tayang perdana di bioskop mulai 16 April 2026 dan menarik perhatian penonton sejak hari pertama penayangan di jaringan bioskop seperti XXI, CGV, hingga Cinepolis.
“10/10, adegan gore-nya terasa elegan. Jarang ada film Indonesia yang menampilkan adegan eksplisit dengan pendekatan seartistik Ghost in the Cell, menurut saya,” tulis akun @feelssxmmer di platform X dikutip SulawesiPos.com, Jumat (17/4).
Alih-alih menyajikan horor konvensional, film ini tampil dengan pendekatan yang lebih gelap, intens, dan sarat lapisan sosial.
Ditayangkan di 86 Negara
Antusiasme tersebut tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari pasar internasional.
Ghost in the Cell bahkan dijadwalkan rilis di 86 negara, termasuk Amerika Serikat, India, dan sejumlah wilayah Eropa.
Sebuah capaian yang mempertegas posisi film Indonesia di panggung global.
“Indonesia itu begitu absurd, sampai kita kadang tidak tahu harus menyikapinya bagaimana. Karena itu, saya mencoba membuat skenario yang juga bisa menangkap realitas tersebut,” ujar Joko Anwar via YouTube The Talkies With Bayu & Edoy.
Sinopsis Film Ghost in the Cell
Berbeda dari film horor pada umumnya, cerita yang diangkat berpusat pada kehidupan keras di dalam penjara.
Lingkungan lembaga pemasyarakatan digambarkan penuh tekanan, kekerasan, dan konflik antar narapidana.
Ketegangan mulai meningkat saat seorang tahanan baru mantan jurnalis dengan masa lalu kelam masuk ke dalam sistem yang sudah rapuh tersebut.
Sejak kehadirannya, serangkaian kematian misterius mulai terjadi. Para napi tewas dalam kondisi tak wajar, memunculkan ketakutan yang perlahan menyebar.
Teror yang muncul diyakini bukan sekadar kebetulan, melainkan berkaitan dengan kekuatan gaib yang menargetkan individu dengan sisi gelap paling dominan.
Dalam situasi penuh ancaman itu, para penghuni penjara dipaksa menghadapi diri mereka sendiri.
Mereka mulai berusaha mengendalikan emosi, memperbaiki sikap, hingga mendekatkan diri pada nilai-nilai spiritual sebagai cara bertahan hidup.
Namun, perubahan tersebut tidak mudah dilakukan di tengah realitas penjara yang brutal.
Pemeran dan Proses Produksi yang Ambisius
Dari sisi akting, film ini diperkuat jajaran pemain papan atas seperti Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Lukman Sardi, Rio Dewanto, Morgan Oey, Bront Palarae, Aming Sugandhi, serta Arswendy Bening Swara.
Kolaborasi lintas generasi ini memberi kedalaman emosi sekaligus memperkuat realisme cerita.
Tak hanya mengandalkan cerita dan pemain, proses produksi film ini juga tergolong ambisius.
Tim produksi membangun set penjara skala nyata dengan struktur dua lantai selama dua bulan untuk menciptakan nuansa autentik.
Total ratusan pemain dilibatkan guna menghadirkan atmosfer yang hidup dan penuh tekanan.
Dukungan teknologi seperti pencahayaan 360 derajat juga memungkinkan para aktor bergerak lebih leluasa, sehingga menghasilkan akting yang terasa natural.
Proses syuting pun dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi, yakni selama 22 hari dengan durasi kerja maksimal tujuh jam per hari.
Menariknya, Ghost in the Cell memiliki dua versi produksi, versi utama yang dibintangi para aktor profesional, serta versi “rahasia” yang diperankan oleh kru sebagai panduan visual.
Pendekatan ini menjadi salah satu inovasi yang jarang ditemui dalam produksi film Indonesia.
Dengan durasi 106 menit dan respons awal yang cukup positif, film ini digadang-gadang menjadi salah satu karya horor Indonesia paling berpengaruh di tahun 2026.
Bagi penonton yang mencari horor dengan sentuhan psikologis dan kritik sosial, Ghost in the Cell menawarkan pengalaman yang berbeda dari kebanyakan film sejenis.
Daftar Film Horror Joko Anwar
Joko Anwar sebelumnya dikenal lewat berbagai film horror ternamanya, antara lain:
- Janji Joni (2005)
- Dead Time: Kala (2007)
- Pintu Terlarang (2009)
- A Copy of My Mind (2015)
- Pengabdi Setan (2017)
- Perempuan Tanah Jahanam (2019)
- Gundala (2019)
- Pengabdi Setan 2: Communion (2022)
- Siksa Kubur (2024)
- Pengepungan di Bukit Duri (2025)

