Peneliti IPB Dorong Ekonomi Sirkular di Industri Sawit, Limbah Bisa Jadi Produk Bernilai Tinggi

SulawesiPos.com – Dosen dan peneliti dari Pusat Studi Sawit IPB University, Siti Nikmatin, menilai industri kelapa sawit Indonesia memiliki peluang besar untuk mengadopsi model ekonomi sirkular.

Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan limbah diolah kembali menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing.

“Model ekonomi sirkular memungkinkan untuk diterapkan di industri kelapa sawit dan memang harus diterapkan. Bagaimana menerapkan itu semua? Pastinya membutuhkan ilmu dan teknologi,” kata Siti di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Siti menjelaskan, kelapa sawit termasuk tanaman yang dapat dikategorikan sebagai zero waste crop karena hampir seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan.

Mulai dari buah, biji, pelepah, tandan kosong, hingga batang sawit, semuanya berpotensi diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat.

Limbah Diolah Jadi Produk Bernilai Tinggi

Salah satu contoh pemanfaatan limbah adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dapat diolah menjadi biomaterial seperti helm, rompi antipeluru, hingga sepatu.

Selain itu, cangkang sawit atau palm oil shell dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler di pabrik, campuran material konstruksi, hingga bahan baku biobriket dan biopellet.

BACA JUGA: 
Mentan Amran Dukung Inovasi Pakan Ayam Probiotik IPB, Siap Dibawa ke Presiden Jika Capai Target

“Jadi, yang saya lakukan untuk memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit menjadi produk-produk biomaterial itu merupakan upaya untuk menerapkan model ekonomi sirkular di industri sawit,” imbuhnya.

Dukungan Riset dari Pemerintah

Siti juga menyoroti peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mendukung riset dan inovasi di sektor sawit.

Menurutnya, lembaga tersebut telah memberikan kontribusi nyata melalui pendanaan penelitian yang mendorong pengembangan industri sawit berkelanjutan.

“Sudah ada bukti nyata bahwa BPDP mendukung penelitian inovatif untuk kemajuan sawit di Indonesia. Saya termasuk peneliti yang mendapat dukungan dana penelitian sawit dari BPDP,” jelasnya.

Penerapan ekonomi sirkular di industri sawit tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga lingkungan dan sosial.

Pemanfaatan limbah dapat mengurangi pencemaran sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi.

Di sisi lain, masyarakat sekitar perkebunan juga dapat dilibatkan dalam proses pengolahan limbah.

“Kalau memang perusahaan itu tidak mengolah semua sendiri, bisa melibatkan masyarakat di lingkungan perkebunan kelapa sawit. Pastinya itu akan membawa dampak positif ke masyarakat,” pungkasnya.

BACA JUGA: 
Uji Coba B50 Capai 70 Persen, Pemerintah Optimistis Meski Terdapat Tantangan Pendanaan

SulawesiPos.com – Dosen dan peneliti dari Pusat Studi Sawit IPB University, Siti Nikmatin, menilai industri kelapa sawit Indonesia memiliki peluang besar untuk mengadopsi model ekonomi sirkular.

Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan limbah diolah kembali menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing.

“Model ekonomi sirkular memungkinkan untuk diterapkan di industri kelapa sawit dan memang harus diterapkan. Bagaimana menerapkan itu semua? Pastinya membutuhkan ilmu dan teknologi,” kata Siti di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Siti menjelaskan, kelapa sawit termasuk tanaman yang dapat dikategorikan sebagai zero waste crop karena hampir seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan.

Mulai dari buah, biji, pelepah, tandan kosong, hingga batang sawit, semuanya berpotensi diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat.

Limbah Diolah Jadi Produk Bernilai Tinggi

Salah satu contoh pemanfaatan limbah adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dapat diolah menjadi biomaterial seperti helm, rompi antipeluru, hingga sepatu.

Selain itu, cangkang sawit atau palm oil shell dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler di pabrik, campuran material konstruksi, hingga bahan baku biobriket dan biopellet.

BACA JUGA: 
Indonesia dan Takdir Sawit: Bukan Sekadar Komoditas, tetapi Senjata Geoekonomi

“Jadi, yang saya lakukan untuk memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit menjadi produk-produk biomaterial itu merupakan upaya untuk menerapkan model ekonomi sirkular di industri sawit,” imbuhnya.

Dukungan Riset dari Pemerintah

Siti juga menyoroti peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mendukung riset dan inovasi di sektor sawit.

Menurutnya, lembaga tersebut telah memberikan kontribusi nyata melalui pendanaan penelitian yang mendorong pengembangan industri sawit berkelanjutan.

“Sudah ada bukti nyata bahwa BPDP mendukung penelitian inovatif untuk kemajuan sawit di Indonesia. Saya termasuk peneliti yang mendapat dukungan dana penelitian sawit dari BPDP,” jelasnya.

Penerapan ekonomi sirkular di industri sawit tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga lingkungan dan sosial.

Pemanfaatan limbah dapat mengurangi pencemaran sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi.

Di sisi lain, masyarakat sekitar perkebunan juga dapat dilibatkan dalam proses pengolahan limbah.

“Kalau memang perusahaan itu tidak mengolah semua sendiri, bisa melibatkan masyarakat di lingkungan perkebunan kelapa sawit. Pastinya itu akan membawa dampak positif ke masyarakat,” pungkasnya.

BACA JUGA: 
Prabowo Dorong Produksi Avtur dari Sawit dan Jelantah, Siapkan Investasi Besar untuk Refinery

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru