Guru Besar Sosiologi Unair Sebut Tragedi Siswa SD di Ngada Jadi Alarm Kesehatan Mental Anak di Wilayah 3T

YBR hidup terpisah dari ibu kandungnya, sementara sang ayah merantau ke Kalimantan.

Melihat latar belakang tersebut, Prof. Bagong menilai tekanan kemiskinan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan mental anak.

Kondisi ekonomi sulit dinilai dapat memicu kecemasan, stres, hingga rasa putus asa.

“Kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak, yang berimbas pada kesejahteraan mental mereka. Ketika orang tua sulit memenuhi kebutuhan dasar, anak merasakan dampaknya,” jelasnya.

Peristiwa memilukan itu terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

YBR ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di sebuah pohon cengkeh pada Kamis (29/1) sekitar pukul 11.00 WITA.

Tragedi tersebut bermula dari permintaan sederhana korban kepada ibunya sehari sebelumnya.

YBR sempat meminta dibelikan buku tulis dan pensil, namun keterbatasan ekonomi membuat sang ibu belum mampu memenuhinya.

Ibu korban, MGT (47), mengungkapkan bahwa malam sebelum kejadian YBR sempat menginap di rumahnya.

BACA JUGA: 
Pakar Hukum Internasional Nilai Penculikan Presiden Venezuela Melanggar Kedaulatan Negara

Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 WITA, YBR diantar menggunakan ojek kembali ke rumah neneknya.

YBR hidup terpisah dari ibu kandungnya, sementara sang ayah merantau ke Kalimantan.

Melihat latar belakang tersebut, Prof. Bagong menilai tekanan kemiskinan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan mental anak.

Kondisi ekonomi sulit dinilai dapat memicu kecemasan, stres, hingga rasa putus asa.

“Kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak, yang berimbas pada kesejahteraan mental mereka. Ketika orang tua sulit memenuhi kebutuhan dasar, anak merasakan dampaknya,” jelasnya.

Peristiwa memilukan itu terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

YBR ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di sebuah pohon cengkeh pada Kamis (29/1) sekitar pukul 11.00 WITA.

Tragedi tersebut bermula dari permintaan sederhana korban kepada ibunya sehari sebelumnya.

YBR sempat meminta dibelikan buku tulis dan pensil, namun keterbatasan ekonomi membuat sang ibu belum mampu memenuhinya.

Ibu korban, MGT (47), mengungkapkan bahwa malam sebelum kejadian YBR sempat menginap di rumahnya.

BACA JUGA: 
Anak SD di NTT Ditemukan Meninggal Dunia, Tinggalkan Surat Perpisahan untuk Sang Ibu

Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 WITA, YBR diantar menggunakan ojek kembali ke rumah neneknya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru