Virus Nipah Kembali Jadi Sorotan Global, Seberapa Besar Risiko bagi Indonesia?

Risiko Penyebaran Dinilai Rendah, Namun Dampaknya Serius

Ahli virologi Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan, menyebut virus Nipah bukan ancaman baru di kawasan Asia Tenggara.

“Virus Nipah kini juga dapat ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui buah segar atau jus, terutama jus kurma segar, dan kemudian menular antar manusia,” jelas Yong Poovorawan yang dikutip pada Senin (26/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa gejala saat ini dapat berupa demam, pneumonia berat, serta penularan melalui kontak cairan tubuh.

“Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas,” tulis Prof Dr Yong.

“Meskipun risiko wabah saat ini rendah, wabah yang sebenarnya dapat berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekonomi,” imbuhnya.

BACA JUGA: 
Virus Nipah Kembali Jadi Ancaman, Thailand Hidupkan Protokol Covid-19

Risiko Penyebaran Dinilai Rendah, Namun Dampaknya Serius

Ahli virologi Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan, menyebut virus Nipah bukan ancaman baru di kawasan Asia Tenggara.

“Virus Nipah kini juga dapat ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui buah segar atau jus, terutama jus kurma segar, dan kemudian menular antar manusia,” jelas Yong Poovorawan yang dikutip pada Senin (26/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa gejala saat ini dapat berupa demam, pneumonia berat, serta penularan melalui kontak cairan tubuh.

“Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas,” tulis Prof Dr Yong.

“Meskipun risiko wabah saat ini rendah, wabah yang sebenarnya dapat berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekonomi,” imbuhnya.

BACA JUGA: 
Virus Nipah Kembali Jadi Ancaman, Thailand Hidupkan Protokol Covid-19

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru