SulawesiPos.com – Kemunculan kembali kasus Virus Nipah di sejumlah negara Asia pada awal 2026 memicu kewaspadaan global, termasuk di Indonesia, mengingat tingkat kematian yang tinggi serta potensi penularan dari hewan ke manusia di kawasan tropis.
Virus Nipah (NiV) merupakan virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae dan genus Henipavirus yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia maupun hewan, sebagaimana dijelaskan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Makassar.
Virus ini memiliki reservoir alami berupa kelelawar pemakan buah (Pteropus spp) yang tidak menunjukkan gejala sakit, namun mampu menularkan virus ke hewan lain seperti babi atau langsung ke manusia.
Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang tercemar ekskresi kelelawar, hingga kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi.
Virus Nipah pertama kali dikenali secara global saat wabah besar melanda peternakan babi di Sungai Nipah, Malaysia, dan Singapura pada 1999 yang menyebabkan ratusan orang terinfeksi dengan tingkat kematian tinggi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat virus Nipah tidak menyebar luas secara global, namun kerap memicu wabah lokal berulang di Asia Selatan, khususnya Bangladesh dan India.
Sejak 2001 hingga 2025, Bangladesh melaporkan lebih dari 347 kasus Nipah dengan tingkat kematian mencapai sekitar 71,7 persen.
Pada periode awal 2025 hingga pertengahan tahun tersebut, Bangladesh kembali mencatat empat kasus fatal yang muncul di distrik berbeda tanpa keterkaitan epidemiologis langsung.
Di India, khususnya wilayah Kerala, kasus Nipah muncul secara sporadis sejak 2018 hingga 2025 dan menunjukkan bahwa virus ini tetap menjadi ancaman lokal yang berulang.
Memasuki awal 2026, otoritas kesehatan India juga melaporkan kasus baru di Bengal Barat dengan jumlah terbatas namun direspons cepat untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Infeksi virus Nipah memiliki masa inkubasi rata-rata 4 hingga 14 hari, namun pada beberapa kasus dapat berlangsung lebih lama hingga beberapa minggu.
Gejala awal umumnya menyerupai flu, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan sakit tenggorokan.
Dalam kondisi berat, virus dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, hingga ensefalitis yang berkembang cepat.
Komplikasi pernapasan berat juga dapat muncul dan berpotensi mengancam nyawa pasien.
Mengutip laman resmi Rumah Sakit Pertamina, kemunculan kembali virus Nipah di Asia mendorong kewaspadaan global, termasuk di Indonesia.
Kedekatan geografis Indonesia dengan wilayah endemis membuat potensi risiko penularan tidak dapat sepenuhnya diabaikan.
WHO mencatat virus Nipah memiliki case fatality rate antara 40 hingga 75 persen sehingga digolongkan sebagai patogen zoonosis berbahaya.
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan kelelawar atau babi terinfeksi, konsumsi makanan tercemar, hingga penularan antarmanusia.
Keberadaan kelelawar pemakan buah dari famili Pteropodidae yang tersebar luas di wilayah tropis termasuk Indonesia menjadi salah satu faktor risiko utama.
Mobilitas manusia dan perdagangan lintas negara juga dinilai berpotensi membuka jalur masuk virus.
Tantangan deteksi dini muncul karena gejala awal Nipah kerap menyerupai penyakit umum sehingga berisiko menyebabkan keterlambatan diagnosis.
Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) menyatakan telah meningkatkan kewaspadaan nasional.
Langkah tersebut meliputi penguatan surveilans sindromik di pintu masuk negara dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Pemerintah juga mensosialisasikan pedoman pencegahan kepada dinas kesehatan daerah serta mengimbau masyarakat menghindari kontak dengan hewan liar.
Masyarakat juga diminta mencuci buah hingga bersih sebelum dikonsumsi untuk mencegah risiko kontaminasi.
Ahli virologi Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan, menyebut virus Nipah bukan ancaman baru di kawasan Asia Tenggara.
“Virus Nipah kini juga dapat ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui buah segar atau jus, terutama jus kurma segar, dan kemudian menular antar manusia,” jelas Yong Poovorawan yang dikutip pada Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa gejala saat ini dapat berupa demam, pneumonia berat, serta penularan melalui kontak cairan tubuh.
“Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas,” tulis Prof Dr Yong.
“Meskipun risiko wabah saat ini rendah, wabah yang sebenarnya dapat berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekonomi,” imbuhnya.