Virus Nipah Kembali Jadi Ancaman, Thailand Hidupkan Protokol Covid-19

Overview

  • Thailand tingkatkan kewaspadaan setelah virus Nipah, yang ditularkan kelelawar buah, kembali muncul di Asia Tenggara.
  • Protokol pengendalian penyakit era Covid-19 dihidupkan kembali, termasuk skrining di bandara dan persiapan bangsal isolasi.
  • Masyarakat diimbau tetap tenang dan menerapkan kebersihan rutin karena virus Nipah menular lewat cairan tubuh, bukan udara.

SulawesiPos.com – Negara tetangga Indonesia yakni Thailand kini berada dalam status risiko tinggi terkait wabah virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar buah.

Penyebaran virus ini juga sudah menyusul di beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Ahli virologi dari Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan, menulis di Facebook bahwa virus Nipah pertama kali muncul pada 1998–1999.

Nipah juga merupakan wabah penyakit terbesar hingga saat ini yang sebelumnya muncul di Malaysia sebelum menyebar ke Singapura.

Pada periode tersebut tercatat 265 kasus, dengan 108 korban meninggal dunia, di mana gejala awal meliputi demam tinggi dan radang otak (ensefalitis). Virus dibawa oleh kelelawar buah dan menular ke manusia melalui babi yang memakan buah terkontaminasi.

BACA JUGA:  Ancaman Virus Nipah, IDAI Tekankan Cuci Buah dan Masak Daging Hingga Matang

“Virus Nipah kini juga dapat ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui buah segar atau jus, terutama jus kurma segar, dan kemudian menular antar manusia,” jelas Yong Poovorawan yang dikutip pada Senin (26/1/2026).

Gejala virus Nipah saat ini telah berubah, termasuk demam dan pneumonia berat, serta dapat menular dari manusia ke manusia maupun dari babi ke manusia melalui kontak cairan tubuh.

“Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas,” tulis Prof Dr Yong.

“Meskipun risiko wabah saat ini rendah, wabah yang sebenarnya dapat berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekonomi,” imbuhnya.

Protokol Covid-19 Kembali Dihidupkan

Meski penyebarannya disebut tidak begitu besar, pemerintah Thailand kembali mengaktifkan protokol pengendalian penyakit yang sebelumnya diterapkan selama pandemi Covid-19 untuk mencegah penyebaran virus.

“Sistem penyaringan kesehatan masyarakat telah disesuaikan berdasarkan model yang kita gunakan selama wabah Covid-19 di Thailand,” ujar Perdana Menteri Anutin Charnvirakul seperti dikutip Bangkok Post.

BACA JUGA:  Waspada Virus Nipah, Bandara Ngurah Rai Perketat Pemeriksaan Kedatangan Internasional

Meski belum ada kasus Nipah di Thailand, PM Anutin menegaskan kewaspadaan harus ditingkatkan karena belum ada obat maupun vaksin untuk virus ini.

Pengunjung dari negara berisiko wajib menjalani pemeriksaan kesehatan lebih ketat.

“Masyarakat dapat menjalani kehidupan normal seperti biasa dan tetap mematuhi rutinitas kebersihan yang sudah lazim, seperti mengkonsumsi makanan yang baru dimasak, menggunakan sendok saji, sering mencuci tangan, dan menghindari berjabat tangan,” katanya.

Bangsal Isolasi dan Skrining Bandara Disiapkan

Dr. Nattapong Wongwiwat, Direktur Jenderal Ilmu Kedokteran, menyebut rumah sakit dan lembaga medis telah diperintahkan menyiapkan staf spesialis, bangsal isolasi, obat-obatan, dan persediaan medis jika terjadi wabah.

Sementara itu, pos pemeriksaan penyakit internasional di Bandara Suvarnabhumi, Don Mueang, dan Phuket telah menerapkan skrining kesehatan bagi penumpang dari Benggala Barat, India, menyusul laporan wabah virus Nipah.

Departemen Pengendalian Penyakit memastikan operasional skrining berjalan lancar dengan dukungan penuh dari penumpang, otoritas bandara, imigrasi, dan instansi terkait lainnya.

BACA JUGA:  Indonesia Vs Vietnam 1-3 di SEA V Cup 2026: Sempat Rebut Set Pembuka, Timnas Putri Tertekan di Hanoi

Dengan langkah-langkah ini, Thailand menegaskan komitmennya untuk mencegah masuknya virus Nipah sekaligus memastikan keselamatan publik tetap terjaga.

Overview

  • Thailand tingkatkan kewaspadaan setelah virus Nipah, yang ditularkan kelelawar buah, kembali muncul di Asia Tenggara.
  • Protokol pengendalian penyakit era Covid-19 dihidupkan kembali, termasuk skrining di bandara dan persiapan bangsal isolasi.
  • Masyarakat diimbau tetap tenang dan menerapkan kebersihan rutin karena virus Nipah menular lewat cairan tubuh, bukan udara.

SulawesiPos.com – Negara tetangga Indonesia yakni Thailand kini berada dalam status risiko tinggi terkait wabah virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar buah.

Penyebaran virus ini juga sudah menyusul di beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Ahli virologi dari Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan, menulis di Facebook bahwa virus Nipah pertama kali muncul pada 1998–1999.

Nipah juga merupakan wabah penyakit terbesar hingga saat ini yang sebelumnya muncul di Malaysia sebelum menyebar ke Singapura.

Pada periode tersebut tercatat 265 kasus, dengan 108 korban meninggal dunia, di mana gejala awal meliputi demam tinggi dan radang otak (ensefalitis). Virus dibawa oleh kelelawar buah dan menular ke manusia melalui babi yang memakan buah terkontaminasi.

BACA JUGA:  Virus Nipah Kembali Jadi Sorotan Global, Seberapa Besar Risiko bagi Indonesia?

“Virus Nipah kini juga dapat ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui buah segar atau jus, terutama jus kurma segar, dan kemudian menular antar manusia,” jelas Yong Poovorawan yang dikutip pada Senin (26/1/2026).

Gejala virus Nipah saat ini telah berubah, termasuk demam dan pneumonia berat, serta dapat menular dari manusia ke manusia maupun dari babi ke manusia melalui kontak cairan tubuh.

“Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas,” tulis Prof Dr Yong.

“Meskipun risiko wabah saat ini rendah, wabah yang sebenarnya dapat berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekonomi,” imbuhnya.

Protokol Covid-19 Kembali Dihidupkan

Meski penyebarannya disebut tidak begitu besar, pemerintah Thailand kembali mengaktifkan protokol pengendalian penyakit yang sebelumnya diterapkan selama pandemi Covid-19 untuk mencegah penyebaran virus.

“Sistem penyaringan kesehatan masyarakat telah disesuaikan berdasarkan model yang kita gunakan selama wabah Covid-19 di Thailand,” ujar Perdana Menteri Anutin Charnvirakul seperti dikutip Bangkok Post.

BACA JUGA:  BNN dan Bea Cukai Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Narkoba dari Thailand, Terendus dari X-Ray Tanjung Priok

Meski belum ada kasus Nipah di Thailand, PM Anutin menegaskan kewaspadaan harus ditingkatkan karena belum ada obat maupun vaksin untuk virus ini.

Pengunjung dari negara berisiko wajib menjalani pemeriksaan kesehatan lebih ketat.

“Masyarakat dapat menjalani kehidupan normal seperti biasa dan tetap mematuhi rutinitas kebersihan yang sudah lazim, seperti mengkonsumsi makanan yang baru dimasak, menggunakan sendok saji, sering mencuci tangan, dan menghindari berjabat tangan,” katanya.

Bangsal Isolasi dan Skrining Bandara Disiapkan

Dr. Nattapong Wongwiwat, Direktur Jenderal Ilmu Kedokteran, menyebut rumah sakit dan lembaga medis telah diperintahkan menyiapkan staf spesialis, bangsal isolasi, obat-obatan, dan persediaan medis jika terjadi wabah.

Sementara itu, pos pemeriksaan penyakit internasional di Bandara Suvarnabhumi, Don Mueang, dan Phuket telah menerapkan skrining kesehatan bagi penumpang dari Benggala Barat, India, menyusul laporan wabah virus Nipah.

Departemen Pengendalian Penyakit memastikan operasional skrining berjalan lancar dengan dukungan penuh dari penumpang, otoritas bandara, imigrasi, dan instansi terkait lainnya.

BACA JUGA:  Bareskrim Sita 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Indonesia di Aceh, Dua Kurir Ditangkap dan Dua Pengendali Diburu

Dengan langkah-langkah ini, Thailand menegaskan komitmennya untuk mencegah masuknya virus Nipah sekaligus memastikan keselamatan publik tetap terjaga.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru