SulawesiPos.com – Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni meminta akun media sosial yang digunakan untuk memicu atau mengajak tawuran di Indonesia segera diblokir.
Dorongan tersebut disampaikan menyusul maraknya siaran langsung yang menampilkan atau mendorong aksi kekerasan.
Sahroni meminta Polri dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggandeng TikTok dan Meta untuk memberantas live streaming yang digunakan untuk mengajak tawuran. Ia juga meminta akun yang terdeteksi melakukan provokasi ditelusuri pemiliknya.
“Kalau sudah terdeteksi, segera blokir akunnya, lalu telusuri siapa pelakunya,” kata Sahroni di Jakarta, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Sahroni, live streaming yang berkaitan dengan tawuran dapat menjadi sarana penyebaran kekerasan.
Oleh karena itu, penanganan aksi tawuran menurutnya perlu mencakup aktivitas di lapangan maupun penggunaan media sosial.
Fenomena tawuran yang kemudian berkembang ke ruang digital juga menjadi perhatian di Makassar.
Dalam beberapa kejadian, media sosial digunakan kelompok remaja untuk saling menantang atau mencari perhatian melalui konten yang mereka siarkan.
Aktivitas tersebut juga dilaporkan menjadi modus yang digunakan kelompok remaja di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Siaran langsung dapat dimanfaatkan untuk menarik penonton, termasuk dengan tujuan mendapatkan gift dari pengguna lain.
Salah satu tawuran yang kembali terjadi di Makassar berlangsung di kawasan Bara-Baraya, Kecamatan Makassar, pada Rabu (16/9/2026) dini hari.
Bentrokan tersebut berlangsung hampir tiga jam sejak sekitar pukul 00.00 Wita.
Dalam kericuhan itu, tiga warga dilaporkan terluka setelah terkena anak panah busur. Bentrokan juga diwarnai aksi saling serang menggunakan batu, busur panah, dan petasan.


