Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa perjuangannya tidak berhenti ketika Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan. Ia kemudian mengambil bagian dalam pemerintahan dan politik negara yang baru berdiri.
Jejak Keagamaan di Balik Sosok Pejuang
Di luar dunia pergerakan dan pemerintahan, Sultan Daeng Radja juga dikenal sebagai sosok yang taat beribadah serta aktif dalam kegiatan Muhammadiyah.
Namanya memiliki hubungan erat dengan Masjid Taqwa Ponre di Bulukumba. Sejumlah sumber menyebut Sultan Daeng Radja rutin beribadah di masjid tersebut dan masjid itu menjadi salah satu pusat kegiatan Muhammadiyah. Ia juga kemudian dimakamkan di depan masjid tersebut sesuai permintaannya semasa hidup.
Keterangan mengenai pendirian masjid perlu ditempatkan secara hati-hati. Sumber lokal lain menyebut Masjid Taqwa Ponre didirikan Haji Muhammad Yahya atau Haji Kantoro, bukan Sultan Daeng Radja.
Oleh karena itu, jejak Sultan Daeng Radja di Ponre lebih tepat dikaitkan dengan aktivitas keagamaannya dan kedekatannya dengan masjid tersebut.
Andi Sultan Daeng Radja wafat di Rumah Sakit Pelamonia Makassar pada 17 Mei 1963 dalam usia 68 tahun menurut perhitungan tahun kelahiran 1894.
Pemerintah kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006. Ia juga dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana.

