SulawesiPos.com – Pemerintah Indonesia didorong mengambil langkah diplomatik yang lebih aktif menyikapi konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran yang masih berlangsung hingga September 2026.
Indonesia dinilai perlu mendorong gencatan senjata, membuka kembali ruang perundingan, serta mengambil peran sebagai jembatan dialog antarpihak AS-Israel dan Iran.
Pengamat Timur Tengah sekaligus Kepala Pusat Studi Kawasan Asia Barat dan Asia Tengah Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Supratman, S.S., M.Sc., mengatakan posisi Indonesia harus tetap berpijak pada politik luar negeri bebas dan aktif.
Menurutnya, Indonesia tidak semestinya terseret menjadi bagian dari blok Iran maupun Amerika Serikat. Namun, bebas aktif juga tidak berarti bersikap netral dalam arti pasif.
Indonesia, kata Supratman, harus berdiri pada prinsip hukum internasional, penghormatan terhadap kedaulatan negara, penyelesaian konflik melalui diplomasi, serta perlindungan terhadap kepentingan nasional.
“Indonesia dapat mendorong PBB, khususnya Dewan Keamanan PBB, untuk mengambil langkah konkret guna menghentikan eskalasi, mendorong gencatan senjata, dan membuka kembali ruang perundingan Iran-Amerika Serikat,” kata Supratman kepada SulawesiPos.com, Rabu (9/9/2026).
Selain PBB, Indonesia dinilai dapat menggunakan ASEAN, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Gerakan Non-Blok, serta forum negara-negara Global South untuk membangun tekanan diplomatik menuju penyelesaian damai.
“Dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat tampil sebagai jembatan dialog dan kekuatan diplomasi perdamaian,” tambahnya.
Indonesia Dinilai Punya Modal Jadi Jembatan Dialog
Supratman menilai, Indonesia memiliki ruang untuk menjadi mediator atau setidaknya fasilitator komunikasi antara pihak-pihak yang berkonflik.
Peran tersebut dinilai cukup realistis karena Indonesia memiliki hubungan diplomatik dengan Iran maupun Amerika Serikat dan tidak terikat pada blok kekuatan tertentu.
Indonesia juga memiliki modal historis dalam diplomasi perdamaian. Salah satunya melalui Konferensi Asia-Afrika 1955 yang mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika serta melahirkan Dasasila Bandung.
Oleh karena itu, Indonesia dinilai perlu menghidupkan kembali semangat diplomasi Bandung dengan menjadi bridge builder atau pembangun jembatan di antara kekuatan-kekuatan yang berkonflik.
Menurut Supratman, terdapat sejumlah langkah yang dapat ditempuh pemerintah, mulai dari mendorong Dewan Keamanan PBB mengambil langkah konkret, menawarkan diri sebagai mediator, mendorong perundingan langsung Iran-Amerika Serikat, hingga mengaktifkan diplomasi ASEAN dan OKI.
Indonesia juga dapat melakukan diplomasi ulang-alik dengan mengirim utusan khusus menemui pihak-pihak yang berkonflik.

