Akan tetapi, ruas jalan tersebut ternyata memiliki sejarah yang lebih panjang dibandingkan penggunaan nama Haji Bau.
Dalam sejarah sosial Sulawesi Selatan, kawasan Jalan Haji Bau pada masa kolonial dikenal dengan nama Klapperlaan.
Ruas tersebut menjadi bagian dari kawasan permukiman yang berkembang di sisi selatan pusat Kota Makassar.
Perubahan Kota Makassar dari masa ke masa turut mengubah wajah kawasan tersebut.
Lingkungan yang sebelumnya berkembang dalam struktur permukiman era kolonial kemudian tumbuh menjadi kawasan perkotaan yang strategis.
Letaknya yang berdekatan dengan Pantai Losari membuat Jalan Haji Bau kini berada di tengah dinamika kota.
Aktivitas masyarakat, kawasan komersial, perhotelan, hingga permukiman membuat ruas jalan ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Makassar.
Di balik ramainya aktivitas tersebut, nama Haji Bau tetap menjadi pengingat terhadap sejarah Gowa dan Makassar.
Jalan Haji Bau bukan sekadar nama yang tertera pada papan jalan.
Di dalamnya terdapat cerita mengenai seorang bangsawan Gowa, hubungan keluarga kerajaan, konflik antarkeluarga, hingga perjalanan panjang perubahan Kota Makassar.
Keberadaan makam Haji Bau yang dilestarikan pemerintah kota juga memperlihatkan bahwa sejarah tersebut masih memiliki tempat di ruang publik.
Jejaknya tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah atau silsilah keluarga, tetapi juga hadir melalui nama jalan yang setiap hari dilalui masyarakat.
Dengan demikian, Jalan Haji Bau menjadi salah satu titik yang mempertemukan wajah modern Kota Makassar dengan kisah masa lalu.
Di tengah perkembangan kawasan pesisir dan padatnya aktivitas perkotaan, nama tersebut tetap membawa cerita tentang seorang bangsawan Gowa yang hidup pada masa perubahan besar dalam sejarah Sulawesi Selatan.

