SulawesiPos.com – Jalan Andi Djemma merupakan salah satu nama jalan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Jalan ini sebelumnya dikenal dengan nama Jalan Landak Baru.
Pergantian nama tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap Andi Djemma, Datu Luwu ke-34 sekaligus Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan.
Nama Andi Djemma tidak hanya dikenang sebagai tokoh kerajaan Luwu, tetapi juga sebagai salah satu pemimpin yang memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan.
Sosok Andi Djemma
Andi Djemma lahir di Palopo pada 15 Januari 1901. Ia merupakan keturunan keluarga Kerajaan Luwu dan putra dari Andi Kombo, seorang pemimpin Kerajaan Luwu.
Sejak kecil, Andi Djemma mempelajari pemerintahan dan tradisi kerajaan dari ibunya serta para pejabat tinggi istana.
Meski pendidikannya hanya sampai tingkat sekolah dasar, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk memahami pemerintahan dan kehidupan masyarakat.
Pada 1919 hingga 1923, Andi Djemma dipercaya menjadi pejabat setingkat wedana di Kolaka. Setelah itu, ia kembali ke Palopo untuk dipersiapkan menjadi Datu Luwu.
Jiwa nasionalismenya semakin kuat setelah ia aktif dalam organisasi politik dan keagamaan, termasuk Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan Muhammadiyah.
Aktivitas politiknya membuat pemerintah kolonial Belanda mulai mengawasi gerak-geriknya.
Pada 1935, setelah ibunya meninggal dunia, Andi Djemma dipersiapkan untuk menggantikan kedudukannya sebagai Datu Luwu.
Upaya kelompok pro-Belanda di lingkungan istana untuk menggagalkan pengangkatannya mendapat penolakan dari rakyat Luwu. Masyarakat bahkan mengancam akan terjadi kerusuhan apabila Andi Djemma tidak diangkat sebagai datu.
Andi Djemma Mendukung Kemerdekaan Indonesia
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Andi Djemma menyatakan dukungannya terhadap Republik Indonesia. Ia menyatakan Kerajaan Luwu menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Pada September 1945, Andi Djemma memprakarsai pertemuan para raja Sulawesi Selatan di Watampone.
Pertemuan tersebut bertujuan menyatukan sikap para raja dalam mendukung Republik Indonesia sekaligus menentang upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.
Di wilayah Luwu, sejumlah badan perjuangan juga dibentuk, antara lain Pemuda Nasional Indonesia (PNI) dan Pemuda Republik Indonesia.
Ketika pasukan Australia yang mewakili Sekutu tiba di Palopo pada November 1945 untuk melucuti tentara Jepang dan kedatangan mereka diboncengi NICA-Belanda, ketegangan dengan para pejuang Indonesia semakin meningkat.
Memimpin Perlawanan Rakyat Luwu
Andi Djemma kemudian menjadi salah satu tokoh utama dalam perlawanan terhadap Belanda. Pada 15 Januari 1946, ia mengobarkan Perlawanan Semesta Rakyat Luwu.
Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Perlawanan Rakyat Semesta.
Pada 23 Januari 1946, terjadi pertempuran antara pasukan yang dipimpin Andi Djemma dan pasukan Belanda di Palopo. Pasukan Andi Djemma sempat berhasil memukul mundur Belanda.
Namun, Belanda kemudian mendatangkan bala bantuan hingga akhirnya menguasai Kota Palopo.
Andi Djemma pun meninggalkan kota tersebut dan membangun pusat pemerintahan di Desa Latou, Sulawesi Tenggara, yang dikenal sebagai Benteng Batuputih.
Belanda beberapa kali berupaya merebut basis perjuangan tersebut. Serangan pada Mei 1946 berhasil digagalkan oleh para pejuang.
Namun, dalam serangan berikutnya pada 2 Juli 1946, Belanda berhasil menguasai Benteng Batuputih dan menangkap Andi Djemma beserta keluarganya serta sejumlah pejabat pemerintahan Luwu.
Ditangkap dan Dibuang ke Ternate
Setelah ditangkap, Andi Djemma terlebih dahulu dipindahkan ke Selayar. Ia kemudian dijatuhi hukuman pengasingan selama 25 tahun dan dibuang ke Ternate.
Setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, Andi Djemma dibebaskan dan kembali ke Makassar pada 1950.
Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengangkatnya sebagai Kepala Pemerintahan Swapraja Luwu.
Andi Djemma wafat di Makassar pada 23 Februari 1965 dalam usia 64 tahun.
Semasa menjadi datu, Andi Djemma dikenal sebagai pemimpin yang memberikan ruang bagi organisasi kebangsaan dan keagamaan untuk bergerak di wilayah Luwu.
Sikap tersebut mencerminkan komitmennya terhadap kehidupan masyarakat dan perjuangan kebangsaan.
Atas jasa-jasanya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Andi Djemma dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 073/TK/2002.
Makna Nama Jalan Andi Djemma
Penggunaan nama Andi Djemma sebagai nama jalan di Kota Makassar menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup dan perjuangannya.
Jalan yang sebelumnya bernama Jalan Landak Baru tersebut kini membawa nama seorang tokoh yang tidak hanya memiliki kedudukan sebagai Datu Luwu, tetapi juga dikenal karena keberaniannya menentang kolonialisme dan menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia.
Nama jalan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai sejarah perjuangan Andi Djemma dan rakyat Luwu dalam mempertahankan kemerdekaan.
Adapun motto hidup Andi Djemma yang menggambarkan prinsip pengabdiannya adalah:
“DATANG, HIDUP DAN BELAJAR DARI RAKYAT SERTA MENGABDI UNTUK RAKYAT.”
Sumber:
- Buku Kisah Perjuangan Pahlawan Indonesia karya Lia Nuralia, Iim Imadudin, dan Randi Renggana.
- Buku Cinta Pahlawan Nasional Indonesia: Terlengkap & Terupdate oleh Pranadipa Mahawira.

