Jalan Emmy Saelan, Kisah Tragis Perawat Perempuan di Medan Gerilya

Perlawanan di Medan Gerilya

Keterlibatan Emmy dalam perjuangan membuatnya tidak hanya berhadapan dengan risiko sebagai tenaga medis, tetapi juga menjadi bagian dari operasi gerilya.

Dalam sejumlah catatan, Emmy dikenal dengan nama samaran Daeng Kebo. Julukan tersebut dikaitkan dengan warna kulitnya yang putih. Ia juga disebut menggunakan nama samaran Daeng Karo dalam jaringan kelaskaran.

Keberadaannya di medan perjuangan menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya mengambil peran sebagai pendukung logistik atau tenaga kesehatan.

Emmy ikut bergerak bersama kelompok gerilya ketika pasukan Belanda melakukan pengejaran terhadap laskar-laskar pejuang.

Keterlibatannya semakin berisiko ketika pasukan Belanda mulai mempersempit ruang gerak kelompok-kelompok gerilya di sekitar Makassar.

Pertempuran Terakhir di Kassi-Kassi

Perjuangan Emmy Saelan berakhir dalam pertempuran di Kassi-Kassi.

Penelitian sejarah Universitas Negeri Makassar mencatat Emmy gugur setelah melemparkan granat ke arah pasukan Belanda pada 23 Januari 1947.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mencatat bahwa Emmy terkepung pasukan KNIL di Kassi-Kassi.

BACA JUGA:  KM Paus Ramabosa Terbakar di Selayar, Polisi Selidiki Dugaan Api Merambat dari Pembakaran Sampah

Dalam situasi tersebut, ia melempar granat tangan sebelum tembakan musuh mengenai tubuhnya. Ledakan itu menewaskan setidaknya delapan tentara KNIL dan Emmy sendiri. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

Gugurnya Emmy pada usia 22 tahun kemudian menjadi bagian penting dari ingatan perjuangan perempuan di Sulawesi Selatan.

Tidak jauh dari lokasi pertempuran tersebut, sebuah monumen kemudian dibangun untuk mengenang perjuangannya yang berada di kawasan Jalan Hertasning dan menjadi penanda lokasi gugurnya sang pejuang.

Monumen Emmy Saelan

Dua Jalan, Satu Nama yang Diabadikan

Warisan nama Emmy Saelan tidak hanya hadir melalui makam dan monumen.

Perlawanan di Medan Gerilya

Keterlibatan Emmy dalam perjuangan membuatnya tidak hanya berhadapan dengan risiko sebagai tenaga medis, tetapi juga menjadi bagian dari operasi gerilya.

Dalam sejumlah catatan, Emmy dikenal dengan nama samaran Daeng Kebo. Julukan tersebut dikaitkan dengan warna kulitnya yang putih. Ia juga disebut menggunakan nama samaran Daeng Karo dalam jaringan kelaskaran.

Keberadaannya di medan perjuangan menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya mengambil peran sebagai pendukung logistik atau tenaga kesehatan.

Emmy ikut bergerak bersama kelompok gerilya ketika pasukan Belanda melakukan pengejaran terhadap laskar-laskar pejuang.

Keterlibatannya semakin berisiko ketika pasukan Belanda mulai mempersempit ruang gerak kelompok-kelompok gerilya di sekitar Makassar.

Pertempuran Terakhir di Kassi-Kassi

Perjuangan Emmy Saelan berakhir dalam pertempuran di Kassi-Kassi.

Penelitian sejarah Universitas Negeri Makassar mencatat Emmy gugur setelah melemparkan granat ke arah pasukan Belanda pada 23 Januari 1947.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mencatat bahwa Emmy terkepung pasukan KNIL di Kassi-Kassi.

BACA JUGA:  Jalan Sultan Alauddin di Makassar, Siapa Sosok Raja Gowa di Balik Namanya?

Dalam situasi tersebut, ia melempar granat tangan sebelum tembakan musuh mengenai tubuhnya. Ledakan itu menewaskan setidaknya delapan tentara KNIL dan Emmy sendiri. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

Gugurnya Emmy pada usia 22 tahun kemudian menjadi bagian penting dari ingatan perjuangan perempuan di Sulawesi Selatan.

Tidak jauh dari lokasi pertempuran tersebut, sebuah monumen kemudian dibangun untuk mengenang perjuangannya yang berada di kawasan Jalan Hertasning dan menjadi penanda lokasi gugurnya sang pejuang.

Monumen Emmy Saelan

Dua Jalan, Satu Nama yang Diabadikan

Warisan nama Emmy Saelan tidak hanya hadir melalui makam dan monumen.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru