Ia menjelaskan keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dalam memilah limbah sejak dari rumah.
“TPA Tamangapa nantinya hanya menerima sampah residu. Sampah organik dan anorganik harus dipilah serta dikelola lebih dahulu di tingkat rumah tangga maupun wilayah,” kata Helmy.
Menurutnya, langkah itu bertujuan mengurangi beban yang masuk ke TPA, meningkatkan tingkat daur ulang, sekaligus menciptakan tata kelola persampahan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Meski demikian, pemandangan di Jalan Bandang pada malam terakhir sebelum program berjalan menunjukkan bahwa kedisiplinan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari warganet yang menilai edukasi dan pengawasan tetap dibutuhkan agar penerapan sistem baru dapat berjalan efektif.
Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari instansi terkait mengenai asal tumpukan limbah tersebut maupun apakah lokasi itu telah dibersihkan setelah videonya beredar luas di media sosial.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pengelolaan persampahan tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi juga oleh kepatuhan masyarakat dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari.

