SulawesiPos.com – Laut di sebelah barat Pulau Polassi, Selayar, seakan menjadi saksi bisu betapa rapuhnya nyawa manusia di hadapan alam. Perjalanan yang seharusnya menjadi rutinitas pelayaran antar-pulau bagi puluhan penumpang Kapal Motor (KM) Nurul Salsa 01, berubah menjadi tragedi memilukan yang menguji batas batas fisik dan mental manusia.
Rabu (15/7/2026) pagi, sekitar pukul 05.00 WITA, KM Nurul Salsa bertolak dari Pelabuhan Jampea. Tujuannya adalah Pelabuhan Benteng, Kabupaten Selayar. Di atas kertas manifes, kapal ini hanya mengangkut 50 penumpang. Namun, temuan di lapangan oleh tim SAR berbicara lain—ada 74 nyawa yang menggantungkan harap pada pelayaran tersebut.
Awalnya, pelayaran berlangsung normal. Namun, petaka datang lima jam kemudian ketika kapal berada di perairan barat Pulau Polassi, sekitar 43 nautical mil dari Pelabuhan Benteng. Mesin kapal tiba-tiba mati total. Di tengah lautan lepas, kapal kehilangan tenaga, terombang-ambing pasrah dihantam gelombang setinggi dua hingga tiga meter.
Upaya meminta pertolongan sempat dilakukan, namun cuaca ekstrem dan angin kencang menjadi dinding penghalang yang tebal. Di tengah kepanikan, pompa air (alkon) kapal ikut rusak. Air laut perlahan tapi pasti merembes, menggenangi lambung kapal. Menjelang malam, kapal tak lagi mampu menahan beban air dan akhirnya karam sepenuhnya, menelan apa pun yang ada di atasnya.
Bertahan di Atas Lembaran Gabus dan Kepergian Sang Sahabat
Ketika lambung KM Nurul Salsa mulai ditelan ombak, kepanikan pecah. Penumpang berebut mencari apa pun yang bisa menahan tubuh mereka agar tidak tenggelam. Asmal atau Jasmal (24) dan Nurmiati (46) adalah dua di antara sekian banyak penumpang yang mencoba menolak takdir buruk hari itu.
Dengan mengenakan jaket pelampung bertuliskan KLM Nurul Salsa, keduanya berhasil meraih selembar gabus (styrofoam) yang terlepas dari kapal. Di atas gabus tipis itulah, mereka menggantungkan sisa-sisa harapan hidup.
Awalnya, mereka tidak berdua. Ada lima orang yang saling berpegangan pada lembaran gabus tersebut, mencoba saling menguatkan di tengah gelap dan dinginnya malam di perairan Selayar. Namun, laut malam terlalu kejam. Arus yang sangat kuat perlahan membawa mereka hanyut semakin jauh dari titik awal karamnya kapal.
Hari berganti hari. Rasa lapar, haus, dehidrasi berat, dan dingin yang menusuk tulang mulai menggerogoti pertahanan fisik mereka. Tiga dari lima orang tersebut tak lagi mampu bertahan. Mereka mengembuskan napas terakhir di atas gabus, menyisakan kepiluan mendalam bagi Asmal dan Nurmiati.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah keputusan paling berat yang harus diambil demi bertahan hidup. Setelah dua malam terapung bersama jasad ketiga rekan mereka yang mulai membusuk, Asmal dan Nurmiati terpaksa melepaskan jenazah sahabat senasib mereka ke lautan lepas.
“Kedua korban mengaku terpaksa melepaskan jenazah ketiga rekannya ke laut setelah sekitar dua malam karena kondisi jenazah sudah membusuk,” ungkap Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP Didid Immawan. Hingga kini, identitas ketiga jenazah tersebut masih terus didalami, menunggu kondisi fisik dan mental Asmal serta Nurmiati membaik.
Keajaiban akhirnya datang pada hari keempat, Minggu (19/7/2026). Kapal nelayan KM Bari Baria 05 menemukan Asmal dan Nurmiati terdampar di Pulau Balalohong (Balaloho), Sabalana, Kabupaten Pangkep, dalam kondisi sangat lemas.
Informasi penemuan ini direspons cepat oleh KRI Marlin-877 yang tengah menyisir sektor 3. Pukul 14.45 WITA, kapal perang tersebut tiba di koordinat penemuan dan mengevakuasi korban untuk diberi pertolongan pertama secara dramatis sebelum dibawa ke Pulau Jampea.
Mukjizat di Pelukan Rompong Nelayan
Kisah Asmal dan Nurmiati ternyata bukanlah satu-satunya keajaiban di tengah musibah ini. Di sudut lautan yang lain, lima nyawa juga berhasil menipu maut setelah empat hari terombang-ambing tanpa arah.
Mereka adalah Sitti Amang (55), Andi Samad (62), Asseng (23), Ardita (17), dan seorang anak kecil berusia tujuh tahun bernama Diska. Jika Asmal dan Nurmiati bertaruh nyawa di atas selembar gabus, kelima korban ini bertahan hidup dengan cara lain. Mereka berpegangan erat pada sebuah rompong (alat bantu penangkapan ikan) milik nelayan di tengah laut.
“Kemampuan para korban bertahan hidup dengan berpegangan pada rompong nelayan menjadi faktor penting hingga akhirnya mereka berhasil ditemukan oleh kapal yang melintas di sekitar lokasi,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar.
Pelukan pada rompong itulah yang menjaga mereka tetap mengapung hingga bantuan tiba. Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengonfirmasi bahwa kelimanya akhirnya dievakuasi oleh kapal penangkap ikan.
“Lima korban ditemukan oleh KMN Sinar Matoanging 04,” tutur Andi Sultan. Sesaat setelah diangkat dari laut, kelima korban langsung dievakuasi ke daratan untuk mendapatkan penanganan medis secara intensif dan memulihkan trauma mereka.
Misi Kemanusiaan yang Belum Usai
Rentetan penemuan korban ini menjadi petunjuk berharga bagi Tim SAR Gabungan. Kuatnya arus terbukti telah membawa para penumpang sangat jauh dari lokasi tenggelamnya kapal hingga memasuki wilayah perairan Kabupaten Pangkep. Polres Kepulauan Selayar kini memperketat koordinasi lintas wilayah, termasuk dengan Polres Pangkep, untuk mempercepat pencarian.
Hingga Senin sore, data Posko Operasi SAR mencatat total 59 korban selamat, 1 meninggal dunia (di luar 3 korban hilang yang diduga meninggal di atas gabus), dan 18 lainnya masih dalam proses pencarian.
Basarnas memastikan operasi SAR diperluas hingga mencakup area seluas 1.305 nautical mile persegi. Operasi besar-besaran ini melibatkan alutsista canggih seperti KN SAR Puntadewa 250, KN SAR Pacitan 102, KRI Marlin 877, KRI Hiu 634, serta sinergi penuh dari TNI, Polri, BPBD, Syahbandar, dan nelayan setempat. Meskipun gelombang setinggi 2 hingga 3 meter masih membayangi perairan Sulawesi Selatan, semangat misi kemanusiaan ini tidak surut.
KM Nurul Salsa mungkin telah karam di dasar laut Selayar. Namun di atas permukaannya, perjuangan belum berakhir. Bagi para keluarga yang masih menanti, setiap detik adalah untaian doa agar laut bersedia mengembalikan mereka yang hilang, sementara kisah mereka yang berhasil kembali akan selalu menjadi saksi betapa mahalnya nilai sebuah kehidupan.


